Sabtu, 11 Maret 2017

Menuduh Munafik, tapi Kemunafikan diri Sendiri tidak Diperhatikan

MusliModerat.net - Suasana Indonesia saat pilkada seperti ini memang selalu panas. Namun yang membuat atmosfer Indonesia, DKI Jakarta khususnya, lebih panas dari sebelumnya, adalah persaingan cagub dan cawagub yang salah satunya merupakan seorang non-Muslim. Tulisan kali ini tidak ingin membahas mengenai hukum memilih pemimpin non-Muslim karena rasanya hal tersebut sudah begitu banyak diulas di berbagai kesempatan. Yang ingin disoroti dalam pembahasan kali ini adalah kenyataan bahwa masih ada orang Islam yang memilih cagub non-Muslim dan reaksi sebagian muslimin yang lain menghadapi kenyataan tersebut.

Ada hal yang sangat ironis dan seharusnya menjadi bahan perenungan kita semua. Fakta bahwa masih banyak di antara kita, kaum muslimin, yang memilih cagub non-Muslim menimbulkan pro kontra dalam tubuh umat Islam sendiri. Al-Qur’an dijadikan sebagai alat saling serang. Ayat-ayat bagi orang kafir dan munafik pun tak ragu disematkan pada saudara seiman. Tidak tanggung-tanggung, pernyataan bahwa mereka yang memilih cagub kafir adalah orang munafik modern pun sudah bisa kita jumpai dalam masyarakat kita.

Pernyataan keengganan mendoakan, menyolatkan dan mengurusi jenazah siapa saja yang memilih cagub non-muslim dianggap bagian dari keislaman dan tanda peduli pada agama. Sedangkan kalimat tauhid yang diucapkan saudaranya seakan tidak berharga dan bukan apa-apa. Cap munafik, yang lebih parah dari kafir, kini mudah diberikan pada mereka yang masih berada dalam ruang lingkup agama Islam.

Munafik adalah mereka yang menampakkan keislaman,tapi menyembunyikan kekafiran. Tentunya memastikan hal tersebut di zaman ini sesuatu yang sangat sulit. Terlebih pedoman yang sudah masyhur menjadi pegangan para ulama adalah bahwa kita hanya menghukumi apa yang tampak dan urusan batin kembali pada Allah SWT. Karenanya menyatakan bahwa si fulan adalah orang munafik sehingga dia tidak berhak diperlakukan sebagaimana layaknya orang beriman adalah hal yang tergesa-gesa dan kurang cermat.

Surat al-Taubah ayat 84 yang menjadi landasan mereka yang tidak mau menyolati jenazah siapa-siapa yang memilih cagub non-Muslim pun agaknya terkesan dipaksakan. Ayat tersebut turun berkenaan dengan shalat yang Rasulullah SAW lakukan untuk jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan orang-orang munafik ketika itu. 

Para ulama kemudian memiliki beragam penafsiran dan memetik banyak hukum dan hikmah dari ayat ini. Al-Imam ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa salah satu pendapat memaknai shalatnya Rasulullah SAW tersebut sebagai bentuk aplikasi dari kaidah yang telah kami sebutkan di atas, yaitu kita menghukumi apa yang tampak dan Allah SWT yang menghukumi hal-hal yang tersembunyi. Dan sudah maklum bahwa munafik menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

Al-Imam Ibn Katsir ketika menafsiri ayat ini berkata, bahwa larangan menyolatkan jezanah orang munafik tidak terkhusus pada Abdullah bin Ubay bin Salul saja, tapi mencakup semua orang yang sudah diketahui kemunafikannya. Sebagaimana beliau dan banyak ahli tafsir yang lain juga mengetengahkan banyak riwayat bahwa setelah turun ayat ini Rasulullah SAW tidak pernah lagi menyolatkan jenazah orang munafik dan berdoa serta mengurus pemakaman mereka. 

Di sini letak kekurangjelian penggunaan ayat ini sebagai dalil. Sebagaimana kita ketahui bahwa mengetahui apakah seseorang itu munafik atau bukan tidaklah mudah, bahkan bagi para sahabat Rasulullah SAW yang hidup bersama-sama dengan mereka. Sejarah mencatat bahwa ada satu orang yang mengetahui nama-nama kaum munafik satu per satu selain Rasulullah SAW, ia adalah sahabat Hudzaifah yang berjuluk Pemegang Rahasia Rasulullah SAW. 

Setelah Rasulullah SAW wafat, Hudzaifah kemudian menjadi rujukan dalam menentukan apakah seseorang itu munafik atau tidak. Sebut saja Umar bin Khattab, khalifah kedua umat Islam, tidak menyolatkan jenazah yang tidak beliau kenal sampai datang Hudzaifah dan menyolatkan jenazah tersebut (lihat Tafsir Ibn Katsir), karena Hudzaifah mengetahui siapa saja orang munafik dan tidak ada yang mengetahui hal tersebut selain beliau (Syarah Shahih Bukhari oleh Imam al-Aini). 

Yang ingin penulis garisbawahi adalah fakta bahwa setelah wafat Hudzaifah tidak ada lagi orang yang mengetahui kemunafikan seseorang sebagaimana dikatakan para ulama. Adapun jika seseorang menunjukkan tanda-tanda kemunafikan, maka yang harus kita lakukan adalah kembali pada kaidah di atas. Sebab memberi cap seorang sebagai munafik sama berbahayanya dengan memberi stempel kafir.

Pada akhirnya, persatuan umat Islam adalah hal yang kita harapkan bersama. Pelabelan seorang muslim dengan label kafir atau munafik justru membuat persatuan semakin jauh terasa atau bahkan hanya sekedar dongeng belaka. 

Mari kembali pada prinsip bahwa semua yang mengucapkan kalimat syahadat adalah saudara kita seiman, seagama. Ayo kembali pada Pedoman Al-Qur’an untuk saling memperbaiki dan mengajak pada kebaikan. Jika kita melihat bahwa mereka yang memilih cagub non-Muslim itu keliru, bimbing dan beri pemahaman pada mereka. Tugas kita adalah saling menasihati dan mendoakan agar Allah Swt senantiasa menyirami kita dengan hidayah-Nya dan membimbing setiap langkah kita menuju ridha-Nya. Bukankah Rasul SAW senantiasa berdoa : “Wahai Allah beri hidayah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” 

Mari wujudkan Islam yang bersatu walau dalam perbedaan pendapat, Islam yang mampu bekerjasama dalam mencerdaskan umat, bukan Islam yang saling ribut dan melaknat, juga bukan Islam yang saling menyalahkan dan menghujat.

Tulisan Oleh Habib Muhammad Haidar Assegaf


Munafiknya sendiri tidak diperhatikan

Apakah kita termasuk golongan al-munafikun?  Mungkin dengan tegas refleks kita akan berkata: “TIDAK”! Sebenarnya itu hanya karena kurangnya kefahaman kita mengenai apa itu sifat munafik. Secara ringkas Nabi pernah menjelaskan mengenai tanda-tandanya : “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya”. (HR. Bukhari & Muslim). Di dalam Al-Qur’an justru lebih detil dijelaskan sifat-sifat al-munafikun sejati baik secara sadar atau tak sadar. Jika dirinci maka dapat dijelaskan yang termasuk dalam kategori golongan munafik adalah orang-orang yang masih mengamalkan 'latihan-latihan' di bawah ini, walaupun hanya sebagian kecil contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari yang kompleks :

Pendusta (contoh : suka berbohong dalam hal apapun, baik serius maupun sebatas canda).
Penghianat (contoh : ketika diberikan amanah kepercayaan misal oleh sebuah perusahaan/ atasannya berupa jabatan penting malah banyak waktunya digunakan untuk bersenang-senang dan bermalas-malasan, saat dihadapan atasannya tampak sungguh-sungguh ketika tidak ada atasannya merasa merdeka ria dan bebas).
Pemfitnah (contoh : suka menyampaikan keburukan orang lain di kalangan orang ramai supaya mereka membenci atau memusuhinya).  
Pendengki (contoh : merasa iri jika ada teman atau saudaranya yang mendapatkan kesuksesan atau nikmat kesenangan dunia).  
Lemah iman (contoh : sudah niat berbisnis tapi batal karena alasannya tidak punya modal, padahal mengaku memiliki Tuhan Yang Maha Kaya).
Pengingkar janji (contoh : sering tidak menepati janji atau kesepakatan atau komitmen bersama).
Pemalas (contoh : orang-orang pemalas baik dalam urusan dunia apalagi akhirat, misal ketika hendak sholat shubuh/ isya' merasa malas sekali dan ogah-ogahan, sholatnya jadi sebatas syarat menjalankan kewajiban semata, meninggalkan sholat jum’at karena alasan sedang sibuk pekerjaan atau sedang macet di jalan, dll).
Mempercepat sholat (contoh : berangkat dari rasa malas ketika hendak sholat maka timbul tindakan mempercepat sholat agar bisa segera tidur atau ada urusan duniawi lain yang menurut dugaannya lebih urgent).
Pemarah (contoh : orang yang tidak bisa mengontrol emosinya dan mudah naik pitam/ sensitif).
Suka pujian (contoh : Riya’ yakni dalam kegiatan dan pencapaian apapun di pekerjaan, kehidupannya selalu ingin mendapatkan pujian, ketika dipuji hatinya senang bukan kepalang, namun ketika dihina marah atau sakit hati).
Sedikit berzikir (contoh : dalam sehari 1x24 jam lebih banyak mikirin dunianya daripada mikirin akhiratnya, lebih sering ingat kebutuhannya daripada ingat Allah).
Mencela orang-orang yang shaleh (contoh : suka mengejek dan merendahkan orang-orang sholeh, apalagi yang dari segi materi masih tampak belum mampu/ belum punya).
Memperolok-olokkan Al-Quran & As-Sunnah (contoh : mengejek dan menghina isi Qur’an atau hadist Nabi biarpun hanya sebatas bercanda, atau ayat-ayat Qur'an dipleset-plesetkan agar lucu dan orang lain senang).
Bersumpah palsu (contoh : sering sekali berkata “demi Allah” hanya agar mengamankan kepentingan pribadinya semata karena takut dianggap bersalah).
Tidak gemar berinfaq dan bersedekah (contoh : merasa enggan dalam latihan “memberi” misal: zakat, infaq, ataupun sedekah baik dalam keadaan lapang atau sempit
Tidak mempunyai sikap prihatin terhadap nasib sesama (contoh : mengetahui kondisi sesamanya yang memprihatinkan baik dari sisi materi maupun nonmateri namun cuek saja atau pura-pura tidak tahu).
Mengingkari takdir (contoh : tidak bisa menerima/ ridha dengan takdir Allah yang telah ditentukan pada dirinya, misal cacat, terkena musibah, jodohnya tidak sesuai harapannya, dll).
Suka mengumpat & mencaci maki (contoh : suka berbicara kotor dan tidak berguna, walaupun hanya sebatas canda).
Eksklusifitas diri (contoh : tidak mau sholat jama’ah hanya karena tidak suka dengan imamnya, atau tidak sesuai ajaran majelis taklimnya, atau tidak sealiran).
Membuat kerusakan di muka bumi dengan alasan mengadakan perbaikan (contoh : membuat proyek-proyek perumahan yang berakibat penggundulan hutan/ lahan hijau dengan alasan demi perbaikan perumahan warga yang kurang mapan).
Tidak ada kesesuaian antara amal zahir dengan batin (contoh : dhahirnya dibuat selalu bergembira namun batinnya berduka dengan tekanan dan ujian hidupnya).
Lebih mengutamakan dhahir & mengabaikan batin (contoh : melihat segala sesuatunya dari yang nampak mata saja dan mudah bereaksi atas situasi yang dialaminya, seperti dihina kawannya langsung tersinggung/ marah, kerja tidak masuk target bersedih, bisnis merugi berduka, dll).
Suka mengeluh (contoh : suka mengeluh ketika mendapatkan hal-hal yang tidak disukainya atau tidak sesuai harapannya).
Suka membuat alasan (contoh : dalam pekerjaannya sering mencari-cari alasan untuk sekedar menutupi ketidak mampuannya atau kemalasannya dalam mengemban amanah jabatan karena takut kehilangan pekerjaannya).
Menyuruh perbuatan mungkar dan mencegah amal makruf (contoh : sering membujuk atau mempengaruhi temannya yang masih lugu untuk misalnya : minum, merokok, main cewek, dan perbuatan lain yang tak ada manfaatnya).
Bakhil (contoh : suka itung-itungan terhadap hartanya apalagi jika diminta untuk iuran mendirikan Lembaga Dakwah, Pesantren, Masjid, dll)
Mendustakan janji Allah dan Rasul-Nya (contoh : sudah bersyahadat tapi masih belum sadar siapa dirinya dan tugasnya di dunia).
Sombong dan suka menegakkan kebatilan (Contoh : membangga-banggakan nikmat Allah yang dititipkan kepadanya seperti jabatan, kekuasaan, hartanya).
Tidak memahami Islam (Ad Din) sebagai satu cara hidup & tidak mau/ tidak ada iktikad untuk berusaha mendalaminya karena menurut dugaannya tidak ada waktu, tidak penting untuk kesuksesan karir/ bisnisnya, sudah merasa capek, dll.
Bersembunyi dari masalah (contoh: bersembunyi/ lari karena takut ditagih-tagih utang, sesungguhnya takut pada manusia).
Suka mengungkit-ungkit pemberiannya kepada orang lain (contoh : merasa telah berjasa dan bisa memberikan sesuatu kepada orang lain).
Suka merampas hak orang lain (contoh : dalam bisnis suka membuat manufer licik/ curang untuk mencapai tujuan pribadinya).
Enggan berjihad (contoh : merasa berat sekali dalam berjihad, banyak pertimbangan/ banyak alasan jika diminta bantuannya mengerahkan semua kemampuan dan yang dimilikinya termasuk hartanya yang paling berharga seperti tubuh & fikirannya untuk kepentingan Dinnullah, apalagi menyerahkan jiwanya).
Menipu dalam jual beli (contoh : berbuat curang dalam perdagangan/ bisnis, barang jelek dikatakan bagus demi mendapatkan keuntungan semata).
Suka membuka rahasia orang lain (contoh : suka menceritakan rahasia sahabat atau saudaranya sendiri).
Mengambil atau menguasai harta (tanah) orang lain (contoh : dengan cara yang tidak diridhai Islam, walaupun dengan mengambil cuma sejengkal tanah).
Memakan Harta Anak Yatim (contoh : mereka yang tega mengambil memanfaatkan harta anak yatim walau jumlahnya sedikit).
Merasa aman dari murka Allah saat berbuat dosa (contoh : apabila seseorang melakukan dosa dan merasa aman-aman saja).
Suka berada di zona aman dan nyaman (Contoh : ketika sudah berhasil dalam karir/ bisnisnya sdh cukup merasa puas dan enggan membuat tantangan baru lg karena takut miskin, padahal Nabi, yang telah dijamin surga, selalu membuat tantangan baru sepanjang hidupnya). 
Memanggil orang dengan gelar buruk yang tidak disukai.
Menghalangi orang dari jalan Allah. (Contoh : anak ingin masuk pesantren atau ingin belajar agama tidak boleh karena alasan tidak ada prospek bagi karirnya kelak).
Suka kepada kesesatan dan menyesatkan orang lain (contoh : suka mengajak teman dan saudaranya ke orang pintar, paranormal, kyai untuk tujuan duniawi, apabila diajak untuk mengikuti jalan Allah, sengaja melambat-lambatkan dan tidak mau, tetapi apabila diajak maksiat, dengan senang dan cepat langsung berangkat.
Suka menyanjung dan memuji orang tanpa mengetahui dasar kebenarannya (contoh : memuji-muji kebaikan seseorang baik yang sudah kenal dekat ataupun belum kenal tanpa tahu persis sejarah dan latar belakangnya dengan benar).
Suka berdebat dan bertengkar sesama muslim (contoh : suka berdebat dalam ilmu agama dengan sesama muslim dan saling menyalahkan).
Melampaui batas yang digariskan Allah (contoh : perbuatan yang menuruti kehendak nafsu, seperti urusan perut & syahwat).
Sering berputus asa dalam menghadapi cobaan hidup (contoh : dalam prosesnya berwirausaha tiba-tiba menyerah karena tidak tahan menghadapi kesulitan2nya).
Mubazir dalam memanfaatkan nikmat Allah (contoh : sering berbelanja makanan/ barang yang aneh2 tp kemudian hanya dibuang-buang percuma).
Memutuskan silaturrahim (contoh : memutuskan hubungan pertemanan hanya karena kawannya sekarang miskin atau persoalan duniawi lainnya).
Memecah belah ukhuwah (contoh : telah berkomit menegakkan Dinnullah bersama teman2nya dalam satu kancah tertentu tapi prakteknya lebih mengutamakan kepentingan pribadi/ keluarganya daripada kepentingan kancah/ umat).
Menghalalkan yang haram yang tidak sesuai tuntunan agama (contoh : mereka yang kawin sirri tanpa memenuhi hukum fiqih/ syariat dengan alasan telah faham hakekatnya, padakal hanyalah untuk alasan memenuhi syahwatnya semata).
Menuduh orang beriman adalah orang yang kurang ilmu dunia (contoh : beranggapan bahwa orang-orang beriman kurang ilmu pengetahuan dalam urusan pekerjaan dan bisnis, karena waktunya banyak untuk mengaji Qur'an padahal justru Qur'anlah sumber dari segala ilmu dunia).
Mengubah, menyalahgunakan serta menjual-belikan ayat-ayat Allah (contoh : ulama atau ustadz yang mau menerima bayaran dari dakwahnya, apapun alasannya dan berapapun jumlahnya).
Bersumpah dengan selain nama Allah SWT (contoh : ketika sedang berdebat mengucapkan: “sumpah mati, sumpah sambar geledek”, dll)

(*Referensi baca: Al-Baqarah:204, Ali-Imran:167-179, An-Nisa:61,62,77,78,81,88,137,138,140,142,145, Al-Maidah:52,61, Al-Anfal:21,49, At-Taubah:56,61,63,64,67,68,73,79,84,86,99,101,107,124,126, Hud:5, Al-Ankabut:11, Al-Ahzab:1,17,24,73, Al-Hasyr:11,16, Al-Munafiqun:1,2,3,4,5,6,7,8, At-Tahrim:9). 

Demikianlah ciri-ciri golongan al-munafikun merupakan golongan yang mayoritas juga telah berSYAHADAT (muslim) dan apabila mati masih dalam kondisi demikian kaplingnya sangat jelas dan tegas tersebut dalam Qur’an yakni neraka yang paling bawah dan rendah yakni JAHANNAM (baca: Al-Baqarah:206). Jadi jika sekarang secara sadar kita mau jujur terhadap diri sendiri tentang nasib kita nanti akan masuk surga atau neraka? tentunya jawabannya sangat mudah sekali, jadi tidak perlu menunggu "yaumul hisab". Maka bagi yang masih diberi kesempatan waktu, belum terlambat untuk memperbaiki diri dalam beribadah yakni dari beribadah di 'tepian' segera berhijrah “menjadi” umat yang beribadah istiqomah LILLAAH tentunya dengan latihan-latihan atau proses “melakukan” secara sungguh-sungguh yang selalu dilandasi sikap introspeksi diri (muhasabah) dan selalu waspada memperhatikan gerak-gerik batin (muraqabah) secara terus menerus. 

Dan satu yang menjadi catatan ciri-ciri munafik diatas untuk diterapkan pada diri sendiri bukan untuk menghukumi orang lain, bisa jadi anda lebih munafik daripada orang yang anda tuduh, mari bertafakkur.[MusliModerat]

Advertisement