Senin, 13 Maret 2017

Marak Spanduk Tolak Jenazah, bukti Banyak Ustadz Jakarta tidak Faham Fikih

MusliModerat.net - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan, wajib bagi orang Islam untuk menyalatkan Muslim yang meninggal meski yang bersangkutan dituduh munafik atau kafir. "Kita tidak boleh menghukumi seseorang itu munafik atau kafir, yang berhak hanya Allah SWT," kata Zainut di Jakarta, Sabtu (25/2).

Dia juga mengingatkan, kepada umat Islam mengurus jenazah hukumnya fardhu kifayah. Maka umat Islam bekewajiban memandikan, mengkafani, menyalatkan dan menguburkan bagi seorang jenazah Muslim.

Fardhu kifayah, kata dia, artinya jika tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, dalam konteks ini mengurusi jenazah, maka semua orang yang mukim atau bertempat tinggal di daerah tersebut berdosa. Menurut dia, sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu Umar bin Khattab RA pernah berkata, "dulu ketika Rasulullah masih hidup untuk menilai apakah orang itu munafik atau tidak itu dijawab dengan turunnya wahyu Allah. Tetapi, setelah Rasulullah wafat, maka untuk menghukumi seseorang itu beriman atau tidak hanya bisa dilihat dari yang tampak lahirnya bukan batinnya."

Nabi SAW, kata dia, bersabda "kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah SWT yang menghukum apa yang tersimpan di hati."

Sabda itu, lanjut Zainut, menunjukkan tidak bolehnya memvonnis keyakinan dan kepercayaan orang lain sepanjang orang tersebut masih memperlihatkan ke-Islamannya.


Hukum Fikih

Mayat orang islam harus di rawat meskipun tidak pernah shalat , meskipun dia pelaku maksita, kecuali jika ia menyatakan kekufuran dalam perkataan atau perbuatan.


Bugyah al-musytarsidin shohifah 92
(مسألة ب)يجب تجهيزكل مسلم محكم بإسلامه وإن نحشت ذنوبه وكان تاركا للصلاة وغيرهامن غيرجحود
wajib merawat jenazah setiap muslim yang di hukumi/di akui islamnya walaupun banyak dosanya, meninggalkan shalat dan lainnya selama tidak mengingkarinya.

Jadi walaupun ia dituduh munafik sekalipun, selama ia tidak kufur masih wajib dishalatkan, adapun kisah Rasulullah tidak menshalatkan orang munafik itu kekhususan pada zaman nabi karena zaman sekarang tidak diperbolehkan memberi cap munafik pada orang lain.

Gunakanlah hukum fikih yang telah disepakati para Ulama, jangan menafsiri AlQur'an secara tekstual, bisa menyesatkan.
Advertisement

Advertisement