Lagi Ngetrend, Munafik Teriak Munafik

MusliModerat.net - Kita merasa prihatin dengan bertebarannya spanduk di masjid-masjid yang berisikan “teror teologis” soal tidak akan menyalatkan jenazah pendukung paslon tertentu dalam pilkada Jakarta. Bagi pengurus masjid, para pendukung paslon tertentu itu adalah orang-orang munafik yang tidak layak disalatkan oleh kaum Muslimin. Ini sudah keterlaluan karena sudah menerabas rambu-rambu etika, kebangsaan, fiqih, dan teologis.
Memang benar bahwa kita harus bersikap waspada dan tegas terhadap orang munafik. Akan tetapi, menyematkan predikat munafik kepada pendukung kandidat non-Muslim (yang saat ini sedang menjalani proses pengadilan dalam kasus tuduhan penghinaan/penistaan agama) adalah kesimpulan yang sangat dangkal dan gegabah.
Kemunafikan adalah fenomena yang sangat dikecam dalam Al-Quran. Satu surah khusus turun dengan nama ini (Al-Munafiqun). Surah ini bahkan lebih panjang dibandingkan dengan surah bernama Al-Kafirun (terkait dengan orang-orang kafir). Ini bisa menjadi indikasi bahwa kemunafikan itu lebih berbahaya buat Islam dibandingkan dengan kekafiran. Dan ini juga menunjukkan bahwa di tengah-tengah ummat Islam, fenomena kemunafikan lebih banyak dibandingkan dengan fenomena kekufuran.
Tapi, apakah kemunafikan itu? Setelah Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah kaum Musyrikin mengalami kekalahan berat dalam perang menghadapi Muslimin. Saat itu, ada sebagian warga Makkah dan Madinah yang masuk Islam, meskipun hati mereka tak pernah menerima Islam. Tindakan itu dilakukan demi menyelamatkan jiwa dan harta mereka, atau demi mencapai posisi dan kedudukan di antara Muslimin. Mereka mengaku dirinya Muslim dan memoles diri dengan warna yang sama sebagaimana Muslimin lain.
Hipokritas, hati bercabang, dan bermuka dua, pada dasarnya adalah fenomena yang selalu dihadapi oleh setiap revolusi dan perubahan-perubahan sosial. Karena itu, jangan sekali-kali mengira bahwa semua orang yang menunjukkan keimanan dan kesetiaan serta kebersamaan, lalu hatinya pun memiliki konsistensi yang sama. Betapa banyak orang-orang yang pada lahirnya sangat Islami, namun di dalam hati, sangat memusuhi Islam. Iman adalah perkara hati, bukan lidah dan perilaku. Oleh sebab itu, untuk mengenali orang-orang tertentu, kita tidak bisa mencukupkan dengan pernyataan-pernyataan lahiriah mereka.
Karena itu, bisa jadi di tengah-tengah komunitas mereka yang meneriakkan “membela Islam” pun ada orang-orang munafik. Bisa jadi di tengah-tengah orang yang melemparkan tuduhan munafik (dan diikuti dengan penolakan untuk manyalati jenazah), justru merekalah yang munafik. Itu terjadi seandainya (sekali lagi, seandainya, karena kita tidak tahu hakikat yang sebenarnya), sikap itu diambil bukan karena ingin mengharap ridha Allah, melainkan dalam rangka mengejar jabatan politik atau konsesi ekonomi tertentu.
Kemunafikan memang sangat mungkin bertebaran di sekitar kita. Untuk mendeteksinya, “ghirrah” saja tidak cukup. Diperlukan kecerdasan dan hati yang bersih untuk mengenalinya. Jika tidak, Anda hanya akan menjadi buih, yang diombang-ambing ke sana ke mari, mengikuti keinginan orang-orang munafik yang hanya memikirkan kepentingan duniawi mereka.
Dulu, Baginda Rasul SAW sudah mewanti-wanti soal ini.


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: