Sabtu, 18 Maret 2017

KH Hasyim Muzadi: NU Membela Iran yang Tertindas, Bukan Syiahnya

MusliModerat.net -  Berikut pidato KH Hasyim Muzadi dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Fatayat NU 2007


Syiah ini tidak sama dengan ahlusunnah. Ahlusunnah ini artinya kembali ke ajaran. Sebelumnya Islam ini mengkultuskan seseorang, bukan ajaran, ada yang pro Sayyidina Ali dan ada yang kontra Sayyidina Ali. Yang pro namanya syiah yang kontra namanya khawarij. Jadi Islam selalu dicantelkan pada personifikasi, tidak pada ajaran. Maka ahlusunnah kembali ke sunnahnya, bukan pemimpinnya. Jadi tidak ada personifikasi ajaran.
Syiah hanya mengakui Sayyidina Ali dan seketurunanhya sambil, “ini yang tak enak,” menghujat Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman. Bahkan dikatakan mereka bertiga menyerobot kekhalifahan Sayyidina Ali. Bahkan ada yang ghulat, ini yang keterlaluan, bahwa Jibril itu keliru memberikan wahyu kepada nabi Muhammad, mestinya kepada Sayyidina Ali. “Jibril kok keliru, ini bagaimana”. Seperti di Probolinggo, ada orang ngaku Jiblil ditangkap polisi, lha Jibril kok ditangkap polisi.”
Kalau saudara-saudara naik haji, banyak orang syiah yang tidak mau melewati kubur Rasulullah karena disitu ada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Dia mengambil posisi jauh, disebelah selatan raudhah. Dia berdoa di sana untuk Rasulullah, menghindari Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Sementara posisi kita, Sayyidina Ali tetap kita hormati dan kita menyebutnya karrmallahu wajhah. Yang tidak adil itu dia, kita menghormati semuanya, dia menghujat yang lain. Mereka tidak mau menggunakan hadist Bukhori dan Muslim. Mereka kalau sholat harus di atas tanah Karbala, dari Irak Selatan, tempat terbunuhnya Sayyidina Hasan dan Husein waktu perang dengan Yazid bin Muawiyah. Dari sana diletakkan di atas sajadah. Saya fikir kok sulit amat, sembahyang saja begitu. Wong di Indonesia yang mestinya sehari lima kali menjadi lima hari sekali, apalagi kalau sorenya sudah ke salon, maghribnya pasti tidak sholat lagi. Yang tidak sama lagi, soal imamah, tidak boleh orang memimpin orang Islam kecuali ada garis keturunan dengan sayyidina Ali, jadi ada personifikasi disini.
Ada lagi yang aneh, bahwa sejarah itu digeser menjadi akidah. Bahwa dulu ada bentrok antara Sayyidina Ali dengan Muawiyah itu benar, tapi bentrok itu kemudian dijadikan bagian dari akidah, ini yang tidak masuk akal. Karena itu, syiah kalau masuk ke Indonesia akan menjadi bibit konflik karena ia kalau khutbah mesti mencaci sana-sini.

NU Membela Iran yang Tertindas, Bukan Syiahnya
Nah ini banyak yang salah faham, dikiranya kalau saya bela Iran, saya masuk Syiah, karena kalau saya masuk syiah, sama mesti mut’ah, dan itu pasti ditentang oleh Fatayat. Perkara urusan Nahdlatul Ulama membela, itu bukan masalah syiah sebagai ajaran, tetapi hak sebuah bangsa yang dilanggar semena-mena dengan kekuatan yang mendominasi. Ini yang tidak kita setujui, bukan syiahnya. Bayangkan Iran itu baru mau bikin nuklir hanya untuk damai, belum sampai untuk bom, itu sudah dicurigai, dihukum, sementara Israel yang memproklamirkan nuklir yang dilakukan oleh perdana menterinya sendiri, tidak mendapatkan sanksi apa-apa. Lha hebatnya lagi, Indonesia ikut menghukum Iran, padahal Indonesia, Iran, Palestina, Sudan, Pakistan, Afgtanistan, Irak, Somalia, itu kan sama-sama menderita karena Isreal dan Amerika. Lho sama-sama menderita kok menghukum untuk kepentingan yang menderitakan? Ini kalau tidak mental inlander tidak bisa.
Advertisement

Advertisement