Kamis, 30 Maret 2017

[Habib Munzir Al Musawa] Demo Mengikuti Ajaran Khawarij yang Menyebabkan Perpecahan

MusliModerat.net - Awal Sejarah Demo dalam ceramah  Al Habib Munzir Al Musawwa: 

Dan hal penting bagi kita adalah janganlah kita berpecah belah, karena jika sudah mulai banyak
perpecahan dan perselisihan pendapat maka kehancuaran akan datang kepada umat Islam, namun jika banyak yang mengalah maka Islam akan semakin meluas. 

Disebutkan dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika dihujat oleh khawarij beliau berkata : “Putuskanlah apa yang hendak kalian putuskan, karena aku membenci perpecahan dan perbedaan pendapat, aku menginginkan persatuan dan jika tidak maka aku lebih memilih untuk wafat menyusul para sahabatku”. Dan itulah awal sejarah demo yang banyak terjadi di zaman sekarang ini, maka janganlah menjadi pengikut ajaran orang-orang yang mendemo sayyidina Ali bin Abi Thalib.

 Kemudian sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib Kw ketika menerima khilafah setelah ayahnya wafat, maka khilafah pun ia serahkan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan demi menghindari perpecahan diantara kaum muslimin, maka dalam hal ini sayyidina Hasan lebih memilih untuk mengalah dan menyerahkan kekuasaan demi menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah diantara kaum muslimin. Kemudian sayyidina Husain bin Ali yang datang untuk memenuhi undangan namun setelah beliau tiba di Karbala, disampaikan kepada Yazid bin Mu’awiyah bahwa sayyidina Hasan datang untuk berperang dan merebut kepemimpinan, sungguh sebuah kedustaan yang nyata, karena jika sayyidina Husain datang untuk berperang atau untuk merebut kepemimpinan maka beliau tidak akan membawa serta istri dan anak-anaknya serta keluarganya bersamanya, sehingga sayyidina Husain bin Abi Thalib dibantai di padang Karbala. Dan sampai pada keturunannya Al Imam Ahmad Al Muhajir, dimana ketika di Baghdad banyak terjadi khilaf, pecah belah, dan perebutan kekuasaan, maka Al Imam Ahmad bin Isa Al Muhajir bersama keluarganya pindah ke Tarim Hadramaut, karena di daerah tersebut ada penguasa Tarim seorang muslim yang membela sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dan banyak orang yang mengecam Al Imam Ahmad Al Muhajir, sehingga ada seorang alim yang bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia berkata :
“Wahai Rasulullah Al Imam Ahmad telah meninggalkan kami dan pindah ke Hadramaut, sedangkan
kami berada dalam pertikaian dan perselisihan”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Aku gembira dengan apa yang telah diperbuat oleh Ahmad bin Isa”. Sehingga Al Imam
Ahmad menetap di Hadramaut dan terus memiliki keturunan hingga sampai pada masa Al Faqih Al
Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi, beliau mematahkan pedangnya dihadapan keluarga dan para
sahabatnya seraya berkata : “ Keluargaku dan para sahabatku serta orang-orang yang mengikutiku,
sejak saat ini aku tidak lagi akan berdakwah dengan kekerasan”, oleh sebab itu jalan dakwah para
habaib adalah dengan kedamaian. Sehingga dari Hadramaut muncullah para penyeru ke jalan Islam menuju Gujarat yang akhirnya sampai ke pulau Jawa, mereka datang dengan jalan kedamaian seperti
yang dicontohkan oleh para leluhurnya. 

Dan kita kenal 9 orang yang berhasil menyebarkan Islam di Nusantara ini, mereka tidak memiliki pasukan, senjata atau kekuatan lainnya namun mereka dapat menyebarkan Islam di segala penjuru nusantara sehingga penduduk Indonesia mengenal kalimat “Laa ilaaha illaa Allah”, dan jadilah Indonesia ini negara muslimin terbesar di dunia, karena kedamaian yang disebarkan melalui para penyebar dakwah di tanah air. Agama Islam adalah agama kedamaian, dan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling menyukai kedamaian dan paling berlemah lembut dari segala makhluk Allah subhanahu wata’ala, bahkan lebih lembut dari malaikat. Ketika malaikat Jibril melihat nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam disiksa dan dianiaya oleh penduduk Thaif, dengan melempari kaki beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan batu, ketika terjatuh beliau disuruh untuk berdiri dan kemudian kembali dilempari dengan batu, namun demikian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa :

 ْﻲِﺘَﻠْﻴِﺣ ِﺔَّﻠِﻗَﻭ ْﻲِﺗَّﻮُﻗ َﻒْﻌَﺿ َﻚْﻴَﻟِﺇ ْﻮُﻜْﺷَﺃ ﻰِّﻧِﺇ َّﻢُﻬّﻠﻟﺍ
ُّﺏَﺭ َﺖْﻧَﺃ َﻦﻴْﻤِﺣﺍَّﺮﻟﺍ َﻢَﺣْﺭَﺃ َﺎﻳ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ْﻲِﻧﺍَﻮَﻫَﻭ ِﻒَﻌْﻀَﺘْﺴُﻤْﻟﺍ َﻚَﻟ ْﻦُﻜَﻳ ْﻢَﻟ ْﻥِﺇ ْﻲِﻨُﻠِﻜَﺗ ْﻦَﻣ ﻰَﻟِﺇ ْﻲِّﺑَﺭ َﺖْﻧَﺃَﻭ َﻦْﻳ
ﻲِﻟﺎَﺑ ُﺃ َﻼَﻓ َّﻲَﻠَﻋ ٌﺐَﻀَﻏ “ 

Ya Allah sesungguhnya aku mengadukan kepadaMu kelemahan upayaku, dan kurangnya usahaku,
dan hinanya aku di kalangan manusia, wahai Yang Maha mengasihi Engkaulah Tuhan golongan yang
lemah , dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan aku, jika Engkau tidak murka
kepadaku maka aku tidak peduli” 

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:
 َﻻ ْﻢُﻬَّﻧِﺈَﻓ ْﻲِﻣْﻮَﻗ ِﺪْﻫﺍ َّﻢُﻬَّﻠﻟَﺍ َﻥْﻮُﻤَﻠْﻌَﻳ 
“ Wahai Allah berilah petunjuk kepada kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui” Penduduk Thaif yang menyakiti dan menyiksanya justru beliau anggap sebagai kaum beliau
shallallahu ‘alaihi wasallam dan didoakan agar diberi hidayah oleh Allah subhanahu wata’ala,
demikianlah kelemubutan makhluk yang paling berlemah lembut sehingga malaikat Jibril datang dan
berkata : 
“Wahai Rasulullah, izinkanalah malaikat penjaga gunung itu mengangkat gunung tersebut
dan menjatuhkannya di atas Thaif”, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
“Jangan, biarkan mereka hidup jika bukan mereka yang mendapat hidayah dan beriman, barangkali keteurunan mereka kelak yang akan beriman”, demikianlah indahnya budi pekerti sayyidina
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sanad Shahih Majelis Rasulullah Brebes
Advertisement

Advertisement