Sabtu, 01 April 2017

Gus Mus Prihatin, banyak yang Berfatwa hanya dengan Terjemah Al-Qur'an

MusliModerat.net - Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri menerangkan bahwa Al-Qur’an itu memiliki kandungan sastra yang sangat tinggi, sehingga untuk memahaminya diperlukan berbagai ilmu, di antaranya seperti Ilmu al-Qur’an, ilmu tafsir al-Qur’an, ilmu asbabun nuzul al-Qur’an.

“Ini cuma lihat terjemahan Departemen Agama, berfatwa lagi. Ini luar biasa beraninya. Ini kacau, masyarakat jadi kacau. Kalau di atas langit ada langit lagi, maka di bawah ada yang lebih bumi lagi. Di bawah yang bodoh, masih banyak yang bodoh lagi,” terang Gus Mus beberapa waktu lalu saat mengisi pengajian yang diselenggarakan oleh LDNU Jawa Barat, di Masjid Raya Bandung.

Dia menuturkan kandungan Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menerangkan bagaimana ciri-ciri perilaku dan perbuatan orang mukmin, munafiq, dan kafir. “Saya sekarang kalau membaca Al-Qur’an itu merasa tersinggung terus, jadi agak malas membaca Al-Qur’an,” candanya disambut tawa oleh ribuan hadirin.

“Al-Qur’an kok suka menyinggung. Dalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan tentang kelakuan orang munafik, ini (ayat, red) untuk orang kafir kok mirip saya. Pada saat membaca ayat untuk orang mukmin, kok sama sekali tidak mirip aku, jadi aku tersinggung,” ungkap Gus Mus.

Pengasuh pesantren Raudhatut Thalibin Letah, Rembang itu mengutip sebuah ayat, Aandzartahum am lam tundzirhum la yu’minun, bilang nggak dibilangin ya begitu, ngotot, pokoknya begini, pokoknya begitu. Itu bukan untuk orang Islam, tapi untuk orang kafir. Tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta, tampaknya kompak tapi hatinya kemana-mana. Ini siapa? Bukan orang mukmin, tapi untuk orang-orang munafik.”

Di samping itu, Gus Mus juga menjelaskan tentang dua pembagian orang Islam, yakni mukmin dan munafik. Istilah munafik itu kebalikannya mukmin. Oleh karena itu, mukmin adalah orang yang imannya berada di luar dan dalam, sedangkan orang munafik imannya hanya di luar saja.

“Jadi, anda tidak bisa mengatakan seseorang munafik, kenapa? Karena anda tidak tahu dalamnya, kalau anda bisa berarti anda terlalu berani, mengaku seperti kanjeng Nabi Muhammad,” tegas Gus Mus. (M. Zidni Nafi’/Fathoni/NU Online)
Advertisement

Advertisement