Gus Ishom: Konteks Al-Maidah 51 Adalah Peperangan, KH Ma'ruf Amin: Ayat Perang Tak Relevan di Indonesia

;
MusliModerat.net - Menurut Rais Syuriah PBNU, Kiai Ahmad Ishomuddin tafsiran kata “awliyaa” dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51 itu bukan monotafsir tetapi multi tafsir. Karena memang kata aulia bentuk jamaknya wali, jadi bentuk plural dari kata wali itu adalah kalimat yang “musytarok” yang memilki makna dua atau lebih.
Keterangan Kiai Ahmad Ishomuddin ini mengoreksi keterangan saksi tidak ahli MUI, Hamdan Rasyid yang memastikan kata awliyaa hanya satu arti (monotafsir) yaitu pemimpin saja.
Oleh karenanya, ujar Kiai Ishomuddin, para ahli tafsir akan memilih satu makna yang dianggapnya tepat.
Sedangkan konteks atau musabab turunnya ayat tersebut adalah dalam situasi peperangan. Di mana orang-orang Yahudi saling membantu sebagian yang lain untuk memusuhi Nabi Muhammad, memusuhi apa yang dibawa juga memusuhi sahabat Nabi yang memperjuangkan sebuah kebenaran yang diyakini dalam agama islam. Demikian pula orang-orang Nasrani, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Dan kata penolong di sini adalah makna dari kata aulia.
Jadi kenapa kemudian orang-orang Islam dilarang berteman dekat dalam situasi peperangan tentu karena di situ ada permusuhan yang amat sangat dan ada penghianatan, “dikhawatirkan terjadi ada pengkhianat apabila seorang Islam dengan orang-orang yang beragama lain yang memusuhi Nabi Muhammad. Jadi ayat ini tidak ada kaitannya dengan pemilihan gubernur dalam konteks kekinian,” imbuh Kiai Ishomuddin.

Rais 'Aam PBNU: Ayat Perang Tak Relevan Dipakai di Indonesia


Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin mengatakan bahwa masalah radikalisme sudah merupakan bahaya global. Radikalisme harus ditangkal melalui berbagai cara tak terkecuali di dunia maya yang saat ini sudah menjadi bagian hidup masyarakat khususnya generasi muda.

Ia mengajak kepada seluruh media online untuk bersatu dan serentak menyuarakan konten-konten damai kotra-radikalisme agar masyarakat paham serta dapat menerima konten yang benar dan yang seharusnya mereka terima.

"Radikalisme dan terorisme berasal dari pemahaman yang keliru khususnya memahami makna jihad," tegas Kiai Ma'ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia saat memberikan pengarahan pada peserta Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme didunia Maya Bersama OKP dan Ormas, Rabu (22/3) malam.

Kiai Ma'ruf menjelaskan, jihad bukan hanya perang namun jihad bisa bermakna perbaikan segala aspek seperti sosial, budaya, politik, dan sebagainya. "Banyak ayat Al-Qur’an tentang perang yang dipakai di daerah damai. Indonesia negara damai dan ayat itu tidak berlaku," jelasnya.

Apalagi di Indonesia, sebuah negara yang dibangun di atas kesepakatan dan perjanjian dari berbagai agama dan suku, radikalisme dan terorisme harus dilawan. "Indonesia merupakan darussalam, negara damai yang bukan dalam wilayah perang," tegasnya.

Ia menegaskan, non-Muslim yang sudah membuat kesepakatan dengan Muslim tidak boleh dimusuhi dan dibunuh. Menurutnya, siapa saja membunuh non-Muslim yang sudah sepakat hidup dalam perjanjian maka ia tidak akan mencium bau surga.

Oleh karenanya NU sebagai ormas keagamaan mengedepankan prinsip ukhuwah (kebersamaan) yang ia sebut sebagai tri ukhuwah, yaitu ukhuwah wathaniyyah (kebersamaan dalam bernegara), ukhuwah islamiyyah (kebersamaan dalam agama islam) dan ukhuwah insaniyyah (kebersamaan sesama manusia).[muslimoderat]


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: