Jumat, 10 Maret 2017

dan ternyata, Menjadi Islam berbeda dengan Menjadi Orang Arab

Oleh: Ahmad Indra

MusliModerat.net -- Kedatangan Raja Saudi Arabia, Salman bin Abdul Aziz al-Saud membawa banyak pernik pemberitaan di dunia maya. Dari euforia masyarakat, hingar bingar persiapan penyambutan hingga hoaks yang ditiupkan oleh berbagai pihak.
Salah satu tema yang dibahas adalah sentimen anti Arab, Arab – Indonesia atau Islam – Arab.Ungkapan dikotomi yang seolah mendiskreditkan Arab itu dijadikan bahan baku oleh sekelompok orang yang nampaknya berposisi sebagai ‘oposan’ ditilik dari ungkapan-ungkapannya yang cenderung menyudutkan pemerintah.

Dengan mengelu-elukan niat Saudi yang akan berinvestasi di negeri ini, dengan ringan mereka merendahkan pemerintah yang selama ini dinilai telah melakukan kebijakan yang keliru karena bekerja sama dengan pihak yang salah. Ada pula dari mereka yang melakukan glorifikasi niat yang sifatnya finansial itu dengan mengatakan bahwa Raja Salman hendak membebaskan Indonesia dari cengkeraman negeri tirai bambu.
Dan pergulatan pendapat antar netizen menjadikan “kalau mau menjadi Islam, jangan jadi Arab” sebagai salah satu simpulnya. Nampaknya penentang ungkapan itu mengarah pada pembentukan opini akan adanya anti Arabisme. Dan celakanya, mereka mengindentikkan Arab dengan risalah suci yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW sehingga memuarakan opini tadi akan adanya anti Islamisme.

Tentu hal itu adalah sebuah penarikan kesimpulan secara gegabah. Mengapa?
Mari berbicara masalah definisi terlebih dahulu. Jika kita buka Wikipedia, kata “Arab” mengarah pada beberapa hal di antaranya suku (bangsa) Arab, bahasa Arab, budaya Arab, abjad Arab, dunia Arab dan beberapa definisi lainnya.
Pada zaman modern ini, seseorang dikatakan berbangsa Arab bila memenuhi tiga syarat yakni secara genealogi memiliki leluhur dari Arab dan nenek moyangnya tinggal di negeri Arab, yang secara linguistik menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu dan secara politis berkebangsaan atau bernegara di kawasan Arab.
Sedangkan dunia Arab merujuk pada negara-negara berbahasa Arab yang terbentang dari Samudra Atlantik di barat hingga Laut Arab di timur, serta dari Laut Tengah di utara hingga Tanduk Afrika dan Samudra Hindia di tenggara. Dunia Arab terdiri dari 24 negara dengan populasi 325 juta dalam dua benua, Asia dan Afrika.
Adapun budaya Arab dapat didefinisikan sebagai kawasan berbudaya Arab yang meliputi wilayah Jazirah Arabia, Mesir dan Afrika Utara demikian pula dengan Irak yang dahulunya dalam pengaruh budaya Persia dan Syria yang berkebudayaan Byzantium.
Dari beberapa definisi tentang Arab di atas, dapat kita simpulkan bahwa kesemuanya berkaitan dengan teritori (wilayah), linguistik (bahasa) dan genealogi (garis keturunan). Adakah yang menghubungkannya dengan Islam?

Hal itu menunjukkan bahwa Arab memiliki batasan-batasan, yang tentunya tidak dijumpai dalam Islam. Keislaman seseorang tidak bisa dilihat dari apakah dia berbahasa Arab atau tidak, tinggal di Jazirah Arab atau tidak atau punya leluhur orang Arab atau tidak. Namun ditentukan oleh persyaratan yang ditentukan oleh Islam itu sendiri dan Islam tidak pula mensyaratkan hal-hal tadi.
Jelas sudah, mengidentikkan Islam dan Arab adalah sesuatu yang justru membonsai keluasan Islam karena membatasinya dengan batasan-batasan teritori dan sebagainya. Orang Arab tidak semuanya beragama Islam dan orang Islam tidak mesti orang Arab. Karena populasi muslim di dunia Arab justru hanya sekira 30% dari total populasi muslim dunia. Mayoritas muslim berada di Asia (minus Timur Tengah) dengan 52%, menyusul populasi di dunia Arab (Timur Tengah dan Afrika Utara) lalu diikuti oleh Benua Afrika (minus Afrika Utara) dengan 15%.

Menjunjung Budaya Sendiri = Anti Arab?
Sebuah persepsi yang saat ini -sengaja atau tidak- sedang dibangun oleh sekelompok orang adalah bahwa saat ada pihak yang berupaya menjaga atau menonjolkan budayanya sendiri saat berhadapan dengan budaya Arab, maka itu berarti anti Arab. Lalu mereka semakin mendramatisir persepsi tadi dengan membangun perbandingan antara penolakan orang terhadap hal-hal yang berbau Arab dengan penerimaan orang terhadap norma-norma dari Barat.
Dan celakanya lagi, tindakan mengedepankan budaya sendiri itu selanjutnya diberi titel sebagai menolak syariat. Hal-hal seperti ini yang disentil oleh Prof. KH. Ali Musthafa Ya’qub dengan ungkapan mengagamakan budaya Arab. Orang-orang itu tidak bisa membedakan mana Arab dan mana yang merupakan syariat. Mereka secara membuta menganggap setiap hal yang berbau Arab sebagai Islam.

Video ceramah Kyai Musthafa Ya’qub https://m.youtube.com/watch?v=SmG5zv5PmGM
Persepsi di atas sepenuhnya salah. Bagaimana mungkin saat kita sedang menyaksikan seorang abdi dalem mengenakan surjan dan blangkon sedang shalat di mesjid kraton, sekonyong-konyong kita mengatakannya menolak syariat karena tidak mau menggunakan jubah dan surban? Penolakannya terhadap jubah dan surban bukan berarti dia menolak untuk syariat, karena pakaian adalah bagian dari budaya yang memiliki kekhasan sesuai dengan tempatnya. Baru bisa dikatakan menolak syariat jika dia melaksanakan shalat hanya dengan menggunakan celana sepaha misalnya, karena memang hal itu tidak memenuhi ketentuan syarat sahnya shalat.

Ketidakmampuan orang dalam memberi sekat pembeda antara syariat dan budaya inilah yang membuat mereka membangun persepsi salah. Di atas pijakan itu pula mereka menyodorkan sindiran-sindiran sinis dengan melayangkan pertanyaan mengapa tidak mengganti kain kafan dengan batik, kenapa shalatnya masih pakai bahasa Arab, kenapa shalatnya masih menghadap Ka’bah dan pertanyaan-pertanyaan lain sejenis yang kesemuanya dalam ruang lingkup syariat.
Andaikata mereka mau sedikit berusaha menggali dari sumbernya, tentunya kesalahan pikir seperti itu bisa dihindari. Dan fakta bahwasanya mereka sembrono mengartikan menjunjung tradisi sebagai menyisihkan syariat itu bisa dilupakan.

Dikotomi Islam Nusantara & Islam Arab, Mengkotak-kotakkan?
Pendapat seperti ini kerap pula hinggap saat seseorag berkata tentang Islam Nusantara. Pendapat itu tentu tidak akan bertemu dengan definisi Islam Nusantara yang sebenarnya. Karena penyebab mereka mengatakan bahwa Islam hanya satu itu adalah satunya Islam dalam akidah. Islam hanya satu karena menyembah Tuhan yang sama, berkiblat sama, memiliki kitab suci yang sama, mengikuti nabi yang sama pula. Yakinlah bahwa hal-hal ini pula yang diyakini oleh pengusung Islam Nusantara.
Lalu dari mana bermulanya istilah Islam Nusantara itu?

Makna Islam Nusantara tak lain adalah pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at dan ‘urf, budaya dan realita di bumi Nusantara. Tidak ada sentiman anti Arab. Begitu yang disampaikan oleh Katib Syuriyah PBNU, KH Afifuddin Muhajir sebagaimana dilansir situs resmi NU.
Sehingga jika dikatakan bahwa Islam Nusantara berbeda dengan Islam Arab, seharusnya diartikan sebagai perbedaan dalam ruang lingkup hasil kompromi antara syariat dan budaya setempat. Seperti masalah pakaian yang telah dicontohkan di atas.
Dan kalaupun dianggap mengkotak-kotakkan karena menambahkan kata bersifat kedaerahan di belakang kata Islam, maka kita juga akan dinilai mengkotak-kotakkan saat kita mengatakan “suku Jawa”, “suku Sunda”, “orang Dayak” dan sebagainya.

Kenapa harus mengidentifikasi mereka berdasarkan daerahnya?,toh mereka semuanya adalah bangsa Indonesia, punya tanah air yang sama dan sama-sama menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalnya. Kenapa kita tidak cukup menyebut mereka dengan orang Indonesia saja?
Tentunya karena mereka mempunyai kekhasan masing-masing yang tidak bisa teridentifikasi hanya dengan menyebutnya sebagai orang Indonesia sehingga kita menyebutnya berdasarnya daerah atau etnisnya. Dan itu bukan upaya untuk memisahkan suku Jawa dan suku Sunda, bukan untuk mengatakan bahwa suku Jawa tidak mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalinya.

Seharusnya, pola pikir seperti itu pulalah yang dijadikan pijakan orang dalam menerjemahkan Islam Nusantara.
Advertisement

Advertisement