Selasa, 28 Maret 2017

Beda Jauh, Islamisasi Politik ala Gus Dur dan Politisasi Islam ala FPI

MusliModerat.net - Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar mengatakan banyak hal yang bisa dijadikan teladan kepemimpinan pejawat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Salah satu di antaranya adalah menjadikan ajaran tauhid (agama) sebagai laku politik,
“Ada beberapa ciri kepemimpinan Gus Dur. Hal itu adalalah berlandaskan tauhid (Ketuhanan), kerakyatan, dan kemanusian. Dalam hal ini jelas Gus dur tidak memisahlan agama dengan politik. Agama malah menjadi rambu sekaligus pemandu langkah politik,’’ kata Muhaimin dalam acara diskusi ‘Sekolah Kepemimpinan Gus Dur’ di Kantor DPP PKB, Jakarta (26/3).
Menurut Muhaimin, ciri kepemimpinan Gus Dur itu melekat di benak publik hingga sekarang. Memperjuangkan nasib rakyat kecil yang menjadi ‘khittah’-nya tak bisa diingkari telah menjadikan Gus Dur menjadi bapak bangsa yang akan terus dikenang.
“Bukti itu terlihat sangat jelas. Semenjak beliua wafat pada tahun 2009 lalu hingga sekarang makamnya selalu di ziarahi begitu banyak orang tanpa putus selama 24 jam. Adanya fenomena ini maka jelas menjadi fakta bahwa sosok di begitu melekat ke dalam sanubari rakyat. Meski  hanya 22 bulan menjadi presiden Gus Dur ternyata mampu memberikan jejak kepemimpinan kepada bangsa kita ini,’’ ujarnya.

FPI menggunakan agama untuk kekuasaan

sebagian kaum Muslim di Indonesia, terlebih kelompok FPI sedang “gandrung” atau “puber agama”, maka bisnis atau jualan Islam politik yang dijajakan, dikampanyekan, dan dipropagandakan oleh sejumlah elit Muslim (baik elit politik maupun agama) dan ormas keislaman ini juga lumayan laku laris-manis tanjung-kimpul.
Banyak kaum Muslim dengan antusias, ketulusan, keikhlasan, dan keluguan berbondong-bondong membeli aneka produk “Islam politik” ini dengan harapan tentu saja untuk mendapatkan ridla Allah dan sebanyak mungkin pahala supaya kelak bisa masuk surga.
Para aktor atau penjual Islam politik ini tidak perlu bermodal besar untuk mengeruk keuntungan ini. Mereka cukup bermodalkan sejumlah ayat Al-Qur'an ditambah sejumlah Hadis dan perkataan (aqwal) para ulama tertentu yang tentu saja semuanya—baik ayat, hadis, maupun aqwal tadi—sudah dipilah-pilah atau disortir sedemikian rupa dan disesuaikan dengan narasi, selera, agenda, dan kepentingan mereka.
Meskipun ada segunung teks, wacana, sejarah, dan tradisi keislaman yang kontra “Islam politik”,mereka abaikan karena tidak mendukung proyek ekonomi-politik-kekuasaan yang mereka desain dan agendakan

"Stempel ketuhanan"
Dengan membubuhkan teks-teks sakral-agamis, maka gagasan dan wacana profan-sekuler seperti konsep “Islam politik” tadi kemudian menjadi ikut-ikutan tampak suci-Islami karena mendapat legitimasi teologis atau “stempel ketuhanan”.
Meskipun sebetulnya “Islam politik” sebagai sebuah konsep maupun aksi dan gerakan politik tetap saja profan dan sekuler karena merupakan produk dari pemikiran dan kebudayaan manusia. Tetapi sebagian segmen publik massa Islam tidak memperdulikannya. Yang penting buat mereka, produk-produk itu ada dalil-dalil keislamannya.

Jika sudah kelihatan Islami dan seolah-olah mendapat restu dari Allah, maka produk “Islam politik” pun siap untuk di-launching. Di luar sana, sudah mengantri sekian banyak konsumen setia menunggunya.
Itulah yang terjadi saat ini dan juga masa-masa yang lalu di mana sebagian kaum Muslim rela berbondong-bondong menjadi pengikut setia para “kapitalis” Muslim yang menjual agama untuk kepentingan material-ekonomi dan politik-kekuasaan.
Atas nama menghormati dan memuliakan Islam serta menjunjung tinggi martabat kaum Muslim, mereka pun rela merendahkan, melecehkan, dan mengabaikan hak-hak politik dan kewargaan non-Muslim seperti yang menimpa pada Ahok saat ini.
Disinilah sesunggunya saya melihat apa yang mereka klaim sebagai aksi atau gerakan “politik Islami” itu sangat tidak Islami karena berlawanan dengan kaedah-kaedah, moralitas, tata-krama, etika profetis, dan norma-norma kepolitikan yang digariskan dalam Al-Qur'an dan praktik-praktik kenabian.
Advertisement

Advertisement