Kamis, 30 Maret 2017

Aqidah Zakir Naik, Wahabi atau Ahmadiyah?

MusliModerat.net - Kamis (30/3/2017) hari ini, Zakir Naik diagendakan tiba di Indonesia. Ulama kondang asal India akan safari dakwah di enam kota, dimulai Sabtu (1/4/2017) ceramah dan pertemuan di Jakarta. Muhammadiyah menyambut kedatangan Zakir, namun meminta ceramah sang ulama disesuaikan dengan kondisi Islam di Indonesia.
“Dr Zakir Naik memang selama ini dianggap sebagai seorang intelektual yang sangat keras menyuarakan prinsip-prinsip Islam, terutama dalam konteks dunia global. Dalam masyarakat muslim di berbagai negara memang ada kontroversi menyangkut pernyataannya. Tetapi saya kira dalam konteks keterbukaan informasi dan dalam membangun keberagaman, maka kunjungan Dr Zakir Naik itu tidak perlu dipersoalkan,” ujar Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam perbincangan, Kamis (30/3/2017).
Mu’ti mengatakan kontroversi seputar Zakir Naik muncul karena sebetulnya ceramah yang disampaikan sang ulama dikhususkan untuk masyarakat muslim saja. Selain itu, ceramah Zakir perlu untuk penguatan aqidah. “Bukan masyarakat agama lain. Kemudian tentu yang disampaikan dalam pembinaan aqidah umat Islam,” ujar Mu’ti.
Kedatangan Zakir Naik, kata Mu’ti, menjadi kabar gembira bagi masyarakat yang selama ini hanya mengikuti ceramah Zakir dari media sosial. Mereka bisa menyaksikannya secara langsung. “Yang setuju jangan menyikapi dengan euforia, yang tidak setuju ya diharapkan biasa saja,” tutur Mu’ti.
Untuk ceramah di Indonesia, Mu’ti berharap Zakir Naik menyiapkan materi ceramah yang disesuaikan dengan kehidupan Islam dan masyarakat Indonesia. Karena Islam di Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dengan negara lain. “Islam di Indonesia beda dengan negara Dr Zakir Naik di India, beda juga dengan Malaysia. Beda dengan negara-negara di Asia Selatan sana. Agar ceramah yang disampaikan terukur,” ucap Mu’ti.
Di Indonesia tidak sedikit yang mengkritisi aqidah Zakir Naik. Ulama yang lahir di India pada 18 Oktober 1965, itu disebut dalam berbagai literatur, pernah kuliah kedokteran di Mumbai, India. Para pengagumnya menyebut ia sebagai sosok ulama dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Bisa dikatakan Zakir Naik ini besar melalui Internet, seperti website dan video Youtube yang sengaja disebarluaskan di Indonesia.
Tetapi, tidak sedikit yang menyoal sebutan ulama untuknya. Pertanyaannya, dari mana ia belajar ilmu agama Islam, tidak jelas. Tidak pernah disebutkan siapa gurunya. Tidak akan ditemukan dari mana ia belajar agama. Yang ada, klaim Zakir Naik yang menyebut dirinya sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat.
Belum lagi bacaan Alqurannya yang dinilai tidak beraturan. Siapa yang mengajarinya Alquran, tidak jelas, karena aksen Arab dan Alqurannya dinilai keluar dari makhraj, tidak bagus, dan tidak memenuhi kaidah Tajwid. Di mana dan dengan ulama siapa ia belajar Tafsir, Hadits, Fiqih, Syariah, bahasa Arab, dan lain sebagainya, juga tidak pernah diketahui.
Dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan bahwa dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia seringkali mengeluarkan ‘fatwa’ perihal masalah agama Islam yang bukan bidangnya. Ia pun tidak ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab Fiqih dan Hadits. Dikatakan Zakir Naik bahwa para Imam Fiqih dan Hadits itu tidak memiliki informasi (ilmu) yang lengkap saat mereka memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam.
Bahkan Zakir Naik menyatakan siapa yang menerima dan mengikuti para Imam tersebut sebagai guru dalam Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid.
Yang ironis, meski Zakir Naik sering mengaku sebagai murid Ahmad Deedat, tetapi Zakir Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad saw adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan perbuatan tersebut dengan Festival Hindu dan Kristen (festival orang-orang kafir). Maulid Nabi dikatakan haram, dan lain sebagainya, padahal Syaikh Ahmad Deedat yang diklaim sebagai gurunya, adalah pecinta maulid Nabi.
Sebagai penganut ajaran Salafi wahabi, Zakir Naik beraqidah mujassimah tidak diragukan lagi. Ia menyerupakan Allah swt dengan makhlukNya yang merupakan faham mujassimah. Dikatakan Zakir Naik bahwa Allah swt memiliki dua tangan, dua mata, wajah, kaki, tulang kering, dan memiliki tubuh yang besar. Allah swt duduk di atas langit, di atas kursi yang besar menghadap ke ‘Arsy. Inislah aqidah Salafi yang membedakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Kemudian seeorang bertanya: “Bagaimana tangan dan tubuh Allah?”. Zakir naik menjawab, “Kami tidak tahu, yang tahu hanya Allah”. Dan kalau kita cermati pandangan aqidah mujassimah yang dianut Salafi ini serupa dengan pemikiran Tuhannya Hindu, Dewa Wisnu. Bedanya tuhannya Hindu itu menikah dan ada model patung dewa Wisnu. Banyak sekali pemahaman dan ajaran Salafi Wahabi yang dianut Zakir Naik yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini.
Selain menganut aqidah mujassimah, Zakir Naik juga acapkali menyebarkan pemahaman dan pemikiran ajaran Ahmadiyyah. Dalam berbagai pidato dan tulisan-tulisannya, Zakir Naik mengklaim bahwa kemunculan Nabi Muhammad saw telah disebutkan dalam kitab suci agama Hindu. Pemikiran Zakir Naik tersebut ternyata bersumber dari buku “Mohammad in world scriptures” karya Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani (1888-1977), seorang penyebar dan penganut ajaran Ahmadiyyah Lahore India. Bahkan tulisan-tulisan Zakir Naik ini hampir sama persis dan banyak kemiripan dengan tulisan yang ada dalam buku Qadiyani. Anehnya, Zakir Naik tidak pernah menyebutkan sumber kutipan tulisan tersebut. Dan masih banyak lagi yang perlu dicermati dari seorang Zakir Naik. (dtc, arrahmah.co/duta.co)

Advertisement

Advertisement