Minggu, 26 Februari 2017

Raja Arab ingin Berdagang di Indonesia

MusliModerat.net - Ketika menyampaikan sambutan didepan Menteri Keuangan, Menteri Koperasi dan Menteri Kominfo. Kyai Said Aqil Siradj menyampaikan, "bahwa Quraish itu artinya pedagang, maka Kurs atau mata uang iru sesungguhnya dari bahasa arab."
Hampir semua sudut negeri ini, hari-hari ini dibuat heboh dengan rencana kedatangan Raja Salman dari Saudi Arabia. Penguasa Arab ini datang dengan 9 pesawat yang berisi 1500 orang, diantaranya 10 Menteri dan 25 Pangeran.

Banyak yang menyambut dengan ke ge-er an, juga ada yang nyinyir soal kedatangan tamu agung ini.
Yang menarik tujuan mereka datang ke Indonesia ini, tidak hanya kunjungan balasan Presiden Jokowi.
Kedatangan rombongan besar ini dipastikan akan turun di Halim Perdana Kusuma, langsun menuju ke Istana Bogor dan selanjutnya ke Bali.
Saya yakin, Raja Salman pasti ngiri ketika melihat rumah dinas Jokowi yang super luas, dengan halaman penuh rusa totol-totol.
Dari dua nama kota di Indonesia yang akan disinggahi rombongan Raja. Saya yakin, mereka sudah sangat familiar dan dengan nama kota Bogor dan Bali.
Bogor atau tepatnya kawasan puncak, adalah destinasi wisata yang paling favorit bagi warga jazirah arab.

Dengan udaranya yang dingin, kawasan pegunungan hijau ini, memiliki kemiripan dengan gambaran sorga yang mereka kerap kali dengar.
Kawasan ini diyakini sebagai surga bagi mereka, disini banyak bertebaran "kutilang". Kutilang itu singkatan dari Kurus Tinggi Langsing.
Nah, inilah puncak dari sorga dunia nyata yang diburu wisatawan timur tengah.
Ketika saat di Jordan dan Jerusalem, tour guide kita banyak menerima pertanyaan soal Puncak.
" Tolong ceritakan kepada kami, bagaimana puncak, katanya dingin, gadisnya cantik-cantik?".
Kami bercerita sambil tertawa-tawa melihat kelucuan kawan kita yang sudah "ngiler" kepingin datang dan melihat seperti apa Puncak itu.
Pokoknya top lah kawasan yang masih berada di Kabupaten Bogor.

Ada cerita menarik soal puncak; Suatu saat, team negoisator pembelian Indosat rapat di Hotel Borobudur. Rapat yang sudah memasuki pukul 12.00, membuat beberapa peserta rapat gelisah. Mereka bahkan minta dihentikan rapatnya, karena mereka takut jalan naik ke puncak macet dan keburu jam 15.00 jalan naik ke puncak ditutup. Karena jalan ke Gadog itu padat, jadi sering dibuat buka-tutup.
"Coba, hebat kan?. Jam buka tutup naik ke Gadog, Megamendung dan Cisarua sudah dihafal dan terkenal sampai ke Kuwait."

Trus apa makna kunjungan rombongan Raja Arab ini?
Mereka seperti warga arab kebanyakan yang hilir mudik ke Indonesia.
Mereka adalah pedagang, mereka ingin menikmati jerih payah mereka.
Berlibur ke Bogor dan Bali. Itu adalah tujuan utama mereka, selebihnya adalah berdagang.
Dagang adalah urat nadi kehidupani mereka yang sudah turun temurun.
Kedatangan mereka ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk saling mencari keuntungan. Sebab mereka yang sudah biasa dagang di Amerika, yang dalam kurun waktu 2017 dan seterusnya akan mencari pijakan baru. Bisa mereka akan memindahkan investasinya di Amerika, sebab nasib negara Amerika saat ini sedang tidak menentu, baik politik maupun ekonomi.
Masih ingat, ketika Adel al-Jubeir, menteri luar negeri Arab Saudi, sudah mengantarkan pesan kerajaan secara personal pada saat berkunjung ke Washington.
Dalam surat tersebut ditulis, Arab Saudi terpaksa menjual surat utang AS dan aset-aset lainnya di Amerika senilai US$ 750 miliar sebelum dibekukan oleh pengadilan Amerika.
Pemerintah Arab Saudi keberatan dengan RUU yang dibuat Kongres agar pemerintah Arab Saudi dikenakan denda karena dianggap terlibat serangan 9/11 2001 yang menghantam World Trade Center NY.

Dapat dipastikan, bahwa kondisi USA yang sedang mengalami sekarat politik dan ekonomi adalah alasan pemerintah Arab Saudi datang dan ingin berdagang di Indonesia. Juga China tentunya.
Kalau ada yang ribut-ribut bahwa kunjungan Raja Salman ini hanya soal politik atau soal demo 212, ya pasti salah besar.
Ingat, nenek moyang mereka adalah pedagang ulung lintas negara. Termasuk yang merintis jalur sutera.
Jadi, sebaiknya gak usah nyinyir dan ge er. Kita sambut dan hargai tamu-tamu agung yang ingin berwisata dan berdagang ke Indonesia ini dengan baik.
Mungkin mereka juga ingin membuktikan."Apa benar di Puncak itu ada kota yang kondisinya mirip sekali dengan Thaif?"
Saya yakin pasti ada rombongan yang nyempil ke Kawasan Tugu, Kecamatan Cisarua untuk membuktikan itu.

Advertisement

Advertisement