Masalah Bangsa ini Tidak Cukup Diselesaikan Dengan Takbir Dijalanan

 
Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)
MusliModerat.net - Suasana abu-abu memenuhi atmosfir kita. Politik kepentingan, kepentingan cukong, dendam, kekhawatiran, dan agama bercampur membentuk polutan dan mengabut-menghalang pandangan. Mana yang harus kita hirup? Kalau boleh saya berpendapat ekstrim maka akan saya katakan: “mulazamat al-buyut hatta al-maut (diam berada dalam rumah hingga tiba kematian)” sebagaimana apa yang tertera dalam al-hadits.

Bagaimana saya disuruh bertindak, bergerak jika tidak jelas mana yang harus ku injak, ku singkirkan dan yang ku petik. Bagaimana aku harus taat pada perintah seseorang jika aku tak mengenalnya dan bahkan sanad keilmuannya pun tidak “nyambung”. Tentu lebih baik aku mengikuti perintah guru ngajiku atau pesantrenku yang karena beliau-beliau itu kita mengenal Gusti Allah swt dan agama-Nya, yaitu melaksanakan tugas sehari-hari, bekerja dengan tekun dan amanah, ngrumat masjid dan surau, istiqomah mengaji, membimbing akhlaq masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dirinya sendiri, keluarga dan lingkungannya jika kita mampu.

Pribadi membentuk keluarga, keluarga membentuk komunitas masyarakat atau kaum, kaum membentuk negara bangsa. Masalah bangsa ini tidak cukup diselesaikan dengan pekik takbir di jalan-jalan saja. Sepuluh kali lurahmu, bupatimu, gubernurmu atau bahkan presidenmu kamu turunkan dan kamu ganti tidak akan mengubah apapun kecuali malah menimbukan masalah baru, yaitu dendam dan permusuhan yang lebih sengit. Jangan hadapkan secara total masyarakat ini dengan masalah yang belum jelas, tapi bimbinglah mereka untuk menyelesaikan masalah pribadinya, keluarganya, komunitasnya.

Sobat, bagaimana kita membentuk umara`(pemerintah, red) yang baik jika dalam pemilu hanya dengan iming-iming rupiah 50 ribu saja kita buta, bahkan dengan harga sebungkus cigarette. Bagaimana kita lepas dari “kafir” (baca: asing) jika gaya hidup kita masih materialistik. Coba pelototi merek kendaraan kita, baju koko yang kita nobatkan sebagai busana muslim, pasta gigi kita sampai sabun kita. Apakah produk anak bangsa kita, apakah keuntungan terbesarnya kembali pada bangsa kita yang nota bene mayoritas muslim?

Membangun umat ini tidak cukup dengan semangat apalagi dengan emosi kemarahan saja. Bahkan niat baikpun belum cukup. Masyarakat dan bangsa yang“madani-mutamaddin” harus kita ciptakan dengan penuh kesabaran, istiqomah di bawah bimbingan ulama yang mengerti siasat umara`, hikmah orang-orang bijak, jelas sanad keilmuannya. Ulama demikian inilah dulu yang mendirikan bangsa ini, dengan kearifannya beliau-beliau menerima pancasila, mempertahankan NKRI, mematuhi perjanjian bersama yang tertuang dalam UUD 45.

Ulama tidak cukup hanya dibela yang hanya menggerakkan kita ketika beliau “katanya didholimi”, tapi yang penting beliau-beliau harus kita sayangi, cintai. Tentu dengan sekuat tenaga mengikuti nasihat-nasihat pokoknya sebagaimana yang tertera di atas. Bangunlah lingkungan kita jangan “nggolek uceng kelangan deleg” dengan kalian total “ndongak” fokus ke atas, ke jakarta, tapi lingkunganmu digerogoti paham yang tidak jelas.


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: