Sabtu, 11 Februari 2017

KH Dimyati Rois: Silahkan Poligami, tapi Bakar dulu Pesantrenmu!

MusliModerat.net - Foto ini adalah saat akad nikahnya Gus Sholah Khumaidullah di Kauman. Nampak para kiai sepuh Kaliwungu seperti KH. Aqib Umar, KH. Royani dan Abah KH. Dimyati Rois semasa mudanya.
Terkenang almarhum wal maghfurlah siMbah KH. Imam Romli, muassis Ponpes An-Nur Pandes Cepiring Kendal, adalah sosok yang sangat mencintai ilmu. Dibuktikan di era akhir tahun 70-an dan awal 80-an, walau beliau sudah menjadi pengasuh dan mengajar banyak kitab seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jam'ul Jawami' dlsb. yang diikuti para santri lintas Jawa, beliau tetap semangat mengaji (belajar kepada kiai lainnya).
Alkisah, saat itu Abah KH. Dimyati Rois masih di Kauman sedang mengajar dan membacakan kitab di pengajian bulan Ramadhan. Diantara yang ikut "ngaji pasaran" (ngaji di bulan Ramadhan) waktu itu adalah Kiai Romli disertai istri tercintanya, Ibu Nyai Sa'adah. Biasanya saat ngaji pasaran itu beliau kos di rumah KH. Thoha Al-Hafidz.
Menjelang wafat atau saat Kiai Romli sudah sakit-sakitan, beliau tetap isitiqomah mengajar kitab Ihya Ulumiddin pada para santrinya meski harus sambil tiduran di atas kasur.
Suatu saat setelah merenung dan bertafakur sekian lama tentang PP An-Nur Pandes Cepiring Kendal, karena beliau belum kunjung dianugerahi seorang putra maka berniat untuk poligami. Beliau kemudian sowan untuk bermusyawarah dan minta izin pada para kiai sepuh di Kendal. Meski Kiai Romli termasuk kiai sepuh tapi itulah adat kiai shaleh jaman dulu, mengutamakan musyawarah dengan para kiai yang lain.
Setelah sampai ke Kaliwungu Kiai Romli sowan kepada Mbah Ru'yat, Mbah Musyaffa' dll., dengan hasil mendapat restu dan izin dari para kiai. Menjadi mantaplah hati Kiai Romli untuk menikah lagi demi keturunan yang akan melanjutkan pesantrennya.
Namun kemudian Kiai Romli masih belum sreg/tenang hatinya sebelum dirinya sowan pada Abah Dim, meskipun saat itu Abah Dim statusnya masih sebagai santri Pesantren Kauman. Dan betul, Kiai Romli akhirnya sowan menghadap Abah Dim untuk minta saran dan ijin menikah lagi. Meskipun waktu itu usia keduanya terpaut jauh, Abah Dim masih muda dan Kiai Romli sudah cukup sepuh.
Setelah bertemu Abah Dim, jawaban yang ditunggu pun keluar, Kiai Romli diijinkan menikah lagi. Abah Dim mengijinkan tapi dengan satu syarat, "Mbah Romli, Njenengan yen bade wayuh sumonggo. Tapi pondokipun dipun bakar." (Kiai Romli, kalau mau poligami silakan, tapi bakar dulu pesantrennya). Kiai Romli pun taat dan patuh dengan jawaban terakhir ini.
Karena kedekatan Abah Dim dengan Kiai Romli, beliau tahu bahwa sebelum berfikiran meneruskan perjuangan pesantrennya Kiai Romli sudah kesemsem (tertarik) dengan seorang wanita yang juga sering sowan kepada Abah Dim. Sehingga niat untuk mendapatkan keturunan itu tidak benar-benar ikhlas lillahi ta'ala. Karena maqam (derajat) semulia Kiai Romli sudah tentu harus lebih mampu untuk lillahi ta'ala, yakni menjaga nafsunya.
(Syaroni As-Samfuriy, diolah dari Fanspage: Pecinta Abah KH. Dimyati Rois).
Advertisement

Advertisement