Sabtu, 18 Februari 2017

Gus Dur: Saya Jadi Presiden Cuma Modal Dengkul, itupun Dengkulnya Amien Rais

Oleh Bakhrul Amal 
MusliModerat.net - Bukan Gus Dur namanya jika dalam gerak-gerik laku hidupnya tidak menimbulkan perbincangan yang tajam nan mengasah. Termasuk soal hari kelahirannya yang sampai detik ini masih menjadi misteri bagi sebagian kalangan.

Gus Dur selalu mengenalkan hari ulang tahun kepada kawan-kawannya sebatas isyarat bahwa “saya lahir hari keempat bulan kedelapan”. Beberapa yang menangkap pernyataan tersebut kemudian yakin bahwa milad Gus Dur adalah tanggal 4 Agustus. Keyakinin itu diperkuat manakala Gus Dur merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 4 Agustus 2000 di Istana Bogor.

Adalah Greg Barton yang kemudian meluruskan segala hal yang terlanjur dipercaya itu. Greg Barton, dalam buku biografi Abdurrahman Wahid (Gus Dur) halaman 25, mengatakan bahwa anggapan itu keliru. Greg Barton menuturkan, hari keempat bulan kedelapan yang dimaksud Gus Dur adalah sesuai dengan penanggalan Islam di masa sebelum kemerdekaan. Artinya, merujuk pada kalender hijriah, Gus Dur lahir 4 Sya’ban. Dan 4 Sya’ban di tahun 1940 itu dalam kalender matahari selaras dengan tanggal 7 September 1940.

Akan tetapi biarlah yang sudah terlanjur terjadi itu dipercaya. Setidaknya dengan begitu, hari ini di hari-hari mengenang kematiannya, kita dapat mengenang kembali sejarah panjang perjalanan Sang Zahid itu.

Presiden Gus Dur


Semua orang pasti memiliki caranya masing-masing untuk menampilkan kenangan pada sosok yang dia kasihi. Terkhusus soal Gus Dur, semua pasti sepakat apabila mengenang Gus Dur artinya mengenang pula pada perjalanan paling heroiknya, yakni perjalanan di mana Gus Dur sebagai kiai yang mantan seorang santri berpeci menjadi sosok nomor satu di Indonesia (baca:Presiden).

Momen Gus Dur menjadi presiden teramat banyak dan melekat. Gus Dur adalah satu-satunya Presiden yang tertidur dalam rapat paripurna. Akan tetapi, ketika kembali terbangun dari tidurnya, Gus Dur mengetahui dari A sampai Z apa yang dibicarakan dalam rapat itu. Gus Dur mengembalikan fungsi Istana seperti masa Soekarno, Istana milik rakyat Indonesia. Gus Dur juga adalah Presiden yang secara berani tanpa tedeng aling-aling berujar bahwa “DPR lebih baik dibubarkan” karena tingkahnya tidak jauh beda dengan anak playgroup.

Semua orang sontak terheran-heran. Beberapa yang menaruh kegundahan di hatinya kemudian bertanya mengenai perjalanan Gus Dur yang kok manusia macam itu bisa menjadi Presiden. Jawaban Gus Dur sederhana “saya ini heran, sekarang kok orang pada modal besar untuk jadi Presiden. Dulu saya cuma modal dengkul, itu pun dengkulnya Amien Rais”.

Gus Dur sebagai Presiden telah memberi banyak pelajaran kepada kita. Tidak hanya ketika dia menjadi, seperti yang disebutkan di atas, tetapi bahkan ketika dia harus lengser dari jabatan pun Gus Dur memberikan ilmu yang penting bagi kita. Ilmu keikhlasan.

Kita tentu mafhum masa akhir jabatan Gus Dur. Melalui rapat yang tidak menghadirkan dirinya, Gus Dur digantikan oleh Megawati. Akan tetapi Gus Dur tidak seperti politikus kebanyakan yang marah dan kemudian menyuruh pendukungnya melakukan perang horizontal, macam Erdogan. Gus Dur legowo dan keluar dengan celana pendek dipasang bersamaan kaos polo abu-abu. Gus Dur melambai menunjukkan kedewasaaan dan kematangan sikap politiknya. Politik Gus Dur yang anti kekerasan.

Esoknya, istana Presiden segera Gus Dur tinggalkan. Gedung tempatnya berpikir dan merumuskan kebijakan untuk rakyat itu akan segera ditempati Megawati. Semua menebak-nebak, pastilah hubungan Gus Dur dan Megawati akan renggang, apalagi dengan Amin Rais yang sempat dipinjam dengkulnya.

Anggapan itu ternyata tidak berlaku bagi Sang Pendobrak. Gus Dur nyatanya tetap berkawan dengan Amin Rais dan Megawati. Gus Dur membuat pemahaman politik yang kejam itu sirna dari pikiran masyarakat.

Sittlichkeit


Yang dilakukan Gus Dur adalah cerminan politik yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang zaman sekarang. Tingkah pola Gus Dur ini dalam bahasa Hegel adalah tingkah pola bijaksana yang teguh memegang sittlichkeit. Hegel membahasakan sittlichkeit itu sebagai adat istiadat (mores), latar belakang aturan (tidak tertulis) dari kehidupan sosial, substansi etika yang tidak bisa dibahasakan yang memberitahu kita apa yang kita bisa dan tidak bisa lakukan.

Bagi orang yang percaya sittlichkeit, kepemilikan kemarahan pasti ada, akan tetapi kebaikan bersama dengan solusi yang arif itu lebih penting dibandingkan menimbulkan kerusakan yang berlebih.

Hal itu, sikap legowo, yang dilakukan oleh Gus Dur itu nyatanya hari ini telah hilang. Adat istiadat yang tidak tertulis itu tidak mampu lagi mengatur kehidupan kita karena telah digantikan oleh aturan yang tertulis secara eksplisit. Seperti contoh Turki baru-baru ini. Erdogan yang marah karena hendak dikudeta kemudian justru menimbulkan polemik baru yang mengorban banyak orang dihilangkan pekerjaannya hanya karena kekesalan kepada satu orang. Di bagian yang lain ada pula yang sibuk mencaci-maki, mencela, bahkan sulit memaafkan hanya karena politik. 

Gus Dur, di hari yang penuh duka ini kami mengenang kejelasan sikap yang putih pekat dari tindakanmu. Terima kasih.[NU Online]

* Penulis adalah Dosen Ilmu Hukum Unusia Jakarta
Advertisement

Advertisement