Minggu, 19 Februari 2017

Frederich Silaban, Penganut Kristen Protestan Sang Arsitek Masjid Istiqlal

Anak seorang pendeta miskin itu telah melahirkan bangunan yang menjadi simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia: Masjid Istiqlal, Jakarta.

Kisah Friedrich Silaban, Anak Pendeta yang Rancang Masjid IstiqlalArsitek Friedrich Silaban (Dok Kompas/Dudy Sudibyo (DS))
Hidup Friedrich Silaban terbilang cemerlang dan gemilang.
Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, dia hanya bersekolah di HIS Narumonda, Tapanuli, Sumatera Utara, dan Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik di Jakarta.

Namun, penganut Kristen Protestan dan anak seorang pendeta miskin itu telah melahirkan berbagai bangunan modern pada masanya hingga kini menjadi bangunan bersejarah.
Salah satunya ialah kemegahan sekaligus simbol kerukunan antarumat beragama di Indonesia, Masjid Istiqlal, Jakarta, yang resmi digunakan tepat 38 tahun lalu. 
Pada tahun 1955, Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno mengadakan sayembara membuat desain maket Masjid Istiqlal. Sebanyak 22 dari 30 arsitek lolos persyaratan.
Bung Karno sebagai Ketua Dewan Juri mengumumkan nama Friedrich Silaban dengan karya berjudul "Ketuhanan" sebagai pemegang sayembara arsitek masjid itu.
Bung Karno menjuluki F Silaban sebagai "By the grace of God" karena memenangi sayembara itu.
Pada 1961, penanaman tiang pancang baru dilakukan. Pembangunan baru selesai 17 tahun kemudian dan resmi digunakan sejak tanggal 22 Februari 1978. Jadi, hari ini merupakan peringatan ke-38 tahun Masjid Istiqlal.


Dikutip dari surat kabar Kompas edisi 21 Februari 1978, enam tahun setelah Masjid Istiqlal selesai dibangun, F Silaban mengatakan, "Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya."
"Patokan saya dalam merancang hanyalah kaidah-kaidah arsitektur yang sesuai dengan iklim Indonesia dan berdasarkan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid," lanjut dia.
Kesederhanaan ide Silaban rupanya berbuah kemegahan. Jadilah masjid yang berdampingan dengan Gereja Katedral itu tampak seperti masa saat ini. 
Masjid Istiqlal berdiri di atas lahan seluas 9,5 hektar, diapit dua kanal Kali Ciliwung, kubahnya bergaris tengah 45 meter, dan ditopang 12 pilar raksasa serta 5.138 tiang pancang.
Dindingnya berlapis batu marmer putih. Air mancur besar melambangkan "tauhid" dibangun di barat daya.
Dilengkapi menara setinggi 6.666 sentimeter, sesuai dengan jumlah ayat Al Quran, masjid itu mampu menampung 20.000 umat. 
Udara di dalam masjid begitu sejuk walau tanpa dilengkapi pendingin ruangan. Sebab, Silaban membuat dinding sesedikit mungkin supaya angin leluasa masuk. Silaban ingin umat yang sembahyang di masjid itu seintim mungkin dengan Tuhan.


Foto Kubah Masjid Istiqlal yang ...Foto Kubah Masjid Istiqlal yang belum selesai dibangun, dengan latar belakang Gereja Katedral. (Pat Hendranto/Kompas)
Haji Nadi, haji asli Betawi yang sembahyang di masjid itu, dalam surat kabar Kompas edisi yang sama mengatakan, "Berada di masjid ini saya merasa betapa besarnya umat Islam."

Dari Gambir ke penjuru dunia
Dikutip dari buku Rumah Silaban; Saya adalah Arsitek, tapi Bukan Arsitek Biasa, Silaban mulai tertarik dengan dunia arsitektur sejak sekolah di Jakarta.
Sayang, "Perderik", demikian dia dipanggil sang ayah, tak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas karena persoalan biaya.
Karier Silaban di dunia arsitek diawali saat bersekolah di Jakarta. Dia sangat tertarik pada desain bangunan Pasar Gambir di Koningsplein, Batavia, 1929, buatan arsitek Belanda, JH Antonisse.
Setelah lulus sekolah, Silaban mengunjungi kantor Antonisse. Dia pun dipekerjakan sebagai pegawai di Departemen Umum, di bawah pemerintahan kolonial. 
Kariernya terus meningkat hingga akhirnya ia menjabat sebagai Direktur Pekerjaan Umum tahun 1947 hingga 1965. Jabatannya itu membawa Silaban ke penjuru dunia.
Tahun 1949 hingga 1950, Silaban ke Belanda mengikuti kuliah tahun terakhir di Academie voor Bouwkunst atau akademi seni dan bangunan.

Pada saat inilah, Silaban mendalami arsitektur Negeri Kincir Angin itu dengan melihat dan "menyentuhnya" secara langsung.
Tidak hanya Belanda, setidaknya 30 kota besar di penjuru dunia telah dikunjungi Silaban. Tujuannya satu, mempelajari arsitektur di negara-negara tersebut.
Perjalanannya ke penjuru dunia, terutama setelah kunjungannya ke India, menyiratkan satu hal bahwa jiwa sebuah bangsalah yang mendefinisikan arsitektur bangsa tersebut.
Perjalanan Silaban itu memengaruhi keinginannya dalam "manifestasi identitas asli Indonesia; negara yang bebas dan progresif" melalui karya-karyanya di Tanah Air. 

Tutup usia
Sang arsitek tutup usia pada hari Senin, 14 Mei 1984, di RSPAD Gatot Subroto karena mengalami komplikasi.
Selain Istiqlal, peninggalan Silaban hadir di sekitar 700 bangunan penjuru Tanah Air, di antaranya Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta/1962), Monumen Pembebasan Irian Barat (Jakarta/1963), Monumen Nasional atau Tugu Monas (Jakarta/1960), Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata (Jakarta/1953), hingga Tugu Khatulistiwa (Pontianak/1938).
"Dia pergi setelah mengukir sejarah, suatu sejarah yang lebih tinggi dari karya sebuah hasil seni atau teknologi, tetapi adalah sejarah kemanusiaan, kebersamaan, toleransi. Namanya akan dikenang sepanjang zaman," demikian paragraf penutup di situs bertajuk "Silaban Brotherhood"
(Fabian Januarius Kuwado/www.Kompas.com/)

Seperti apakah profil dari Frederich Silaban ini?

1. Frederich Silaban adalah pria kelahiran Sumatera Utara.

untitledhdh-ff7acfcd545db4936f4372f472d5ff4b.jpgSumber gambar: google.co.id/maps
Silaban adalah pria kelahiran 16 Desember 1912 di Bonan Dolok, Padangsidempuan, Sumatera Utara. Dia bersekolah di HIS Narumonda, Tapanuli, Sumatera Utara. Kemudian, melanjutkan pendidikan di Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik yang berlokasi di Jakarta.

2. Frederich Silaban adalah penganut Kristen Protestan.

ma-kompas2-0b493c0b20e1b6e55657ef16234a1c02.JPGSumber Gambar: kompas.com
Agama ternyata tak menghalangi dia untuk membuat bangunan ibadah umat Islam bernama Masjid Istiqlal.

3. Frederich Silaban adalah anak seorang pendeta miskin.

gkgk-fe4a01208785f1e142b52ca2838f525b.jpgSumber gambar: kaskus.co.id
Dia merupakan anak dari seorang pendeta miskin. Kendati demikian, dia mampu melahirkan berbagai bangunan modern pada masanya yang hingga saat ini menjadi bangunan bersejarah.

4. Minatnya dalam bidang arsitektur berawal saat dia sekolah di Jakarta.

4547504-20130925014244-1-081e3d758b03720174fd54d22b40a7bf.jpgSumber gambar: kaskus.co.id
Karier Silaban di dunia arsitek bermula saat dia masih bersekolah di Jakarta. Saat itu, Silaban terinspirasi untuk menekuni bidang arsitek setelah melihat desain bangunan Pasar Gambir di Koningsplein, Batavia, 1929. Bangunan ini dibuat oleh arsitek Belanda, JH Antonisse.

5. Lalu bagaimana karir Frederich Silaban setelah lulus sekolah?

ma-tinypic-6e921c713484f19f62d27c058a8e3547.jpgSumber Gambar: tinypic.com
Usai lulus sekolah, Silaban mengunjungi kantor Antonisse. Di sana dia bekerja sebagai pegawai di Departemen Umum, di bawah pemerintahan kolonial. Perlahan tapi pasti, karirnya terus meningkat. Dia pun sukses menjabat sebagai Direktur Pekerjaan Umum tahun 1947 hingga 1965. Jabatannya inilah yang kemudian membawa Silaban mengeliling dunia.

6. Lalu Frederich Silaban melanjutkan kuliah di Belanda di Akademi Seni dan Bangunan.

ma-photbucket-7625fbfe4250dbbb135e521470591734.jpgSumber Gambar: photobucket.com
Perjuangannya menuntut ilmu terus berlanjut. Tahun 1949 hingga 1950, Silaban berkuliah ke Belanda di Academie voor Bouwkunst atau akademi seni dan bangunan. Di sinilah Silaban mendalami arsitektur Negeri Kincir Angin itu dengan melihatnya secara langsung.

7. Frederich Silaban adalah pemenang sayembara pembuatan desain Masjid Istiqlal.
ma-wikimedia-9c144e6db55d3258d6a698190b389b54.jpgSumber Gambar: wikimedia.com
Pada tahun 1955, Presiden pertama Indonesia, Soekarno membuka sayembara untuk membuat desain maket masjid Istiqlal. Ada 30 orang yang mendaftar dalam sayembara tersebut. Namun, hanya 22 arsitek saja yang lolos persyaratan.

8. Karya dasar Frederich Silaban dalam membuat masjid Istiqlal berjudul "Ketuhanan".

ma-tempo-8c35207d938385cea8f995972fc5f9b8.jpgSumber Gambar: tempo.co
Bung Karno sebagai Ketua Dewan Juri lalu mengumumkan nama Frederich Silaban dengan karya berjudul "Ketuhanan" sebagai pemegang sayembara arsitek masjid tersebut. Bung Karno pun memberikan julukan "By the grace of God" kepada Frederic Silaban atas keberhasilannya dalam memenangi sayembara itu.

9. Haus akan pengetahuan, Frederich Silaban memutuskan keliling dunia mempelajari arsitektur negara-negara di dunia.

ma-kompas3-1201a3d7ef3bf5c6ce16faa8ff77f28c.JPGSumber Gambar: kompas.com
Apakah hanya Belanda saja? Tentu saja tidak. Ada sekitar 30 kota besar di penjuru dunia telah dikunjungi Silaban. Dengan telaten dia mempelajari arsitektur di negara-negara tersebut satu persatu.

10. Pada tahun 1984, Frederich Silaban tutup usia karena komplikasi.

ma-kompas-0f45563b4ccfcff3cba4598a7a0dd21f.JPGSumber Gambar: kompas.com
Silaban tutup usia pada hari Senin, tanggal 14 Mei 1984. Dia meninggal di RSPAD Gatot Subrotot karena mengalami komplikasi penyakit.

11. Frederich Silaban tak hanya meninggalkan masjid Istiqlal saja, banyak bangunan bersejarah yang dihasilkan dari tangan emasnya.

monas-e6c590a31f779760175a47fd42b52387.jpgSumber gambar: city_data.com
Peninggalan Silaban bisa disaksikan melalui 700 bangunan yang ada di seluruh penjuru Tanah Air. Apa saja peninggalan Silaban? Peninggalan tersebut antara lain adalah Monumen Pembebasan Irian Barat, Stadion Gelora Bung Karno, Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata, Monumen Nasional atau Tugu Monas dan Tugu Khatulistiwa.

[MusliModerat/berbagai sumber]