Buya Husein: Aksi NKRI Bersyariah itu politis, ingin berkuasa menjual nama Agama

;
MusliModerat.net - “Aksi NKRI Bersyariah itu politis, ingin berkuasa menjual nama Agama”. Kutipan keras itu disampaikan tokoh utama pendiri Fahmina Institue, KH Husein Muhammad usai pengajian rutin Kamisan yang digelar, Kamis (9/2) lalu di Jalan Swasembada Kota Cirebon.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memang saat ini sedang dikoyak, agama dijadikan alat oleh kelompok radikal, mempengaruhi masyarakat awam demi cita-cita khilafah Islamiah atau NKRI bersyariah, yang kesemuanya bisa dengan mudah direbut menggantikan dasar Negara Pancasila dan sistem demokrasi, yang kini sedang menuju kearah pendewasaannya, melalui pintu Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 ini.

Kini kelompok tersebut akan menghelat aksi besar-besaran pada Sabtu (11/2) esok, setelah sebelumnya digelar aksi yang diberi tajuk 411 dan 212. Bukan hanya pemerintah diseluruh penjuru negeri, para ulamapun akhirnya bersatu dalam biduk kebersamaan menjaga Pancasila, yang dipastikan telah menjadi konsensus atau kesepakatan bersama hidup berbangsa dan bernegara.
Demikian pula dengan KH Husein Muhammad, Kyai Feminis Dunia yang semasa hidupnya mengabdikan diri untuk kesetaraan gender, keadilan kemanusiaan dan demokrasi melalui lembaga yang dibentuknya di Cirebon Yayasan Fahmina. Ia merasa risau dengan kondisi bangsa saat ini yang terlalu agresif dirongrong kelompok yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu.
Dengan tegas pria yang pernah mengenyam ilmu agama di Al-Azhar, Kairo, Mesir itu menjelaskan secara apik, bagaimana misi yang diemban kelompok tersebut dipastikan bukan atas nama bela agama yang kerap didengung-dengungkannya selama ini.

“Bukan atas nama agama, itu ingin merebut kekuasaan dengan cara apapun,” tegas pria yang akrab disapa Buya Husein itu.
Muhammad Abduh menurut Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Kabupaten Cirebon itu telah menegaskan dua hal, bahwa sejak zaman dahulu kala pasca Rosulullah Muhammad SAW Wafat muncul Syiah Khawarij dan kelompok yang lainnya itu bukan karena persoalan agama, akan tetapi tafsir agama digunakan untuk berkuasa.
“Kemudian teks Al-qur’an dan Alhadis itu memiliki interpretasi macam-macam, karena tidak ada otoritas tunggal dalam menetapkan maknanya, itu pasca Nabi yang mulia wafat,” terangnya.
Problem utamanya adalah kelompok tersebut diatas menggunakan masyarakat awam yang jumlahnya lebih massif dibandingkan yang mengerti tafsir teks Al-qur’an untuk diajak seolah-olah aksinya adalah perintah agama.

“Pertanyaannya agama yang mana, bukankah agama mengajarkan kita berbuat adil, tidak menebarkan fitnah, lemah lembut, kasih sayang kepada seluruh alam,” bebernya.
Penulis  buku “Mengaji Pluralisme Kepada Maha Guru Pencerahan” itu juga menerangkan mengajarkan Islam yang adil juga rahmat atau penuh kasih-sayang lah ajaran Al-qur’an dan Nabi Muhammad SAW.
“Sekarang pertanyaan sederhananya begini, apakah Islam memusuhi orang?, menghancurkan manusia yang lain dan berbuat dzalim?, tentu tidak. Untuk itu marilah menyampaikan kepada masyarakat meskipun ada teks dalam Al-qurán tapi diajarkan membunuh sesamanya itu bukan Islami namanya, harus lihat konteknya dulu dalam segala sesuatu,” pungkasnya. (mudi el-ansori/Perisai Nusantara)


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: