Kamis, 19 Januari 2017

Politik Berkedok Jamaah Subuh! Anies, Amien Rais dan Hary Tanoe

Politik Berkedok Jamaah Subuh! Anies, Amien Rais dan Hary Tanoe
oleh Ade Armando
MusliModerat.net -- Stasiun televisi I-News menyiarkan secara langsung acara Gerakan Subuh Berjamaah, 15 Januari 2017.
Gerakan Subuh Berjamaah ini adalah bagian dari kampanye anti Ahok yang terus digulirkan kelompok-kelompok Islam konservatif.
Tema yang diangkat kali ini adalah ‘Tabligh Akbar Politik Islam: Berbeda dalam Mazhab, Bersatu dalam Politik’.
Topik lebih spesifiknya adalah: “Memilih pemimpin Muslim”.
Ada sejumlah  pembicara berkhotbah di sana. Tapi yang terpenting harus dicatat, salah satu pembicara adalah Anies Baswedan. Adapun Agus Yudhoyono, yang namanya juga tercantum di poster, tidak hadir.
Ini adalah contoh nyata bagaimana ulama menjual agama dengan harga murah. Namanya sih Shalat Subuh Berjamaah, tapi isinya kampanye politik.
Saya tidak menyaksikan siaran langsung tersebut secara utuh, kecuali bagian-bagian akhirnya. Di bagian itu saya sempat melihat Wasekjen MUI yang terkenal suka menyebarkan kebencian, Tengku Zulkarnaen; serta Amein Rais. Namun penyiar I-News mengabarkan bahwa acara tersebut secara tegas  menyimpulkan bahwa warga Muslim harus memilih pemimpin beragama Islam.
Saya hanya menyaksikan Zulkarnaen beberapa saat.  Yang saya lihat lebih lengkap adalah ceramah Amien Rais yang berusaha membangkitkan kemarahan umat Islam pada Ahok dan Presiden Jokowi. Amien bahkan menyebut Ahok dengan istilah ‘Ahok Pekok’.
Menurut Amien, Indonesia berada dalam kondisi terburuk yang pernah ada. Dan ini terjadi karena negara ini dipimpin oleh dua boneka: Ahok dan Jokowi.
Dalam paparan Amien, Jokowi dan Ahok sekadar melayani konglomerat dan kepentingan negara Cina. Untunglah, kata Amien, sekarang Anies Baswedan sudah kembali ke jalan yang benar.
Seperti saya katakan, ini adalah bukti betapa para pemuka Islam konservatif sudah mengkhianati kewajibannya sebagai ulama dengan menjual diri untuk kepentingan politik sempit tertentu. Dan ini dilakukan di sebuah masjid yang dulu memiliki nama harum sebagai pusat dakwah dan kegiatan sosial di bawah Buya Hamka. Kini Al Azhar cuma menjadi tempat pembuangan sampah kebencian kalangan pemuka Islam yang sedang bermain politik
Namun ada satu lagi ironi. Acara ini disiarkan langsung oleh I-News yang dimiliki Hari Tanoesoedibjo. Kita semua tahu Hari adalah umat Kristen dan juga Tionghoa.  Disebut ironis karena dengan menyiarkan langsung acara ini, ia memberikan ruang bagi kaum anti-Kristen dan anti-Tionghoa untuk bersiaran ke seluruh Indonesia.
Tapi itulah politik. Hari Tanu adalah pengusaha anti-Ahok yang sedang berusaha menaikkan pamor partai buatannya, Perindo ke pentas nasional. Hari adalah politisi yang berusaha melindungi kepentingan bisnisnya dengan berpolitik.  Karena itu ia membutuhkan dukungan umat Islam. Ia misalnya sudah mengembangkan Yayasan Peduli Pesantren untuk mengucurkan dana bantuan bagi pesantren, namun sampai saat ini masih ditolak di banyak tempat.  Kini bisa jadi ia berusaha membeli hati kubu penyelenggara aksi 212, termasuk menunggangi Anies Baswedan, dengan melakukan siaran langsung.
Politik memang bisa sangat kotor.
Advertisement

Advertisement