Senin, 16 Januari 2017

Misteri Kesaktian Bakiak Milik Kiai Abbas Buntet Cirebon

MusliModerat.net Bakiak (sandal yang terbuat dari kayu)  mungkin bagi kita semua dianggap sebagai salah satu sandal kuno dan ketinggalan jaman. Atau juga, menggunakan bakiak itu dikarenakan harganya yang murah dan juga awet digunakan. Cukup jarang, bakiak digunakan dalam peristiwa-peristiwa penting, lebih banyak ditempatkan untuk alas kaki di kamar mandi, atau untuk digunakan untuk santai.

Namun berbeda dengan Kiai Abbas Abdul Jamil, beliau malah menggunakan bakiak dalam peristiwa-peristiwa penting. Sebut saja ketika berlangsungnya perang 10 November 1945. Sejak keberangkatannya dari Cirebon, Kiai Abbas menitipkan sebuah bingkisan kepada salah satu pengawalnya yaitu Abdul Wachid. Saat itu, Abdul Wachid berfikir bahwa benda titipan milik kiainya tersebut merupakan benda yang sangat berharga. Ternyata, ketika bungkusan tersebut dibuka, hanya berisi sepasang bakiak.

Walaupun masih bingung, Abdul Wachid hanya mengikuti perintah Kiai Abbas dan membawa bingkisan tersebut hingga perjalanan tiba di Rembang Jawa Tengah dan singgah di kediaman Kiai Bisri Mustofa. Disitulah Kiai Abbas ditunjuk untuk menjadi komandan perang 10 November oleh para kiai yang sudah menunggu beliau. Bung Tomo yang beberapa kali meminta kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk memulai pepeanganpun, selalu ditolak oleh Kiai Hasyim, dengan alasan menunggu Singa dari Jawa Barat, yang tidak lain adalah Kiai Abbas.

Saat akan menuju Surabaya, Kiai Abbas meminta bungkusan bakiak kepada Abdul Wachid sekaligus memintanya untuk tidak ikut bergabung ke Surabaya dan menunggu di Rembang. Walaupun semangat juang Abdul Wachid cukup menggelora, namun ia tidak berani melawan perintah kiainya. Ia tetap tinggal di Rembang, hingga pada 13 November 1945, rombongan santri yang ikut berperang di Surabaya tiba di Rembang, bercerita tentang kesaktian Kiai Abbas.

Menurut para santri, Kiai Abbas berperang dengan menggunakan bakiak. Saat Kiai Abbas berdoa, tiba-tiba sejumlah alu dan lesung milik warga yang berukuran besar, berterbangan dan menghantam tentara sekutu. Pesawat yang terbangpun dilumpuhkan hanya dengan lemparan tasbih oleh Kiai Abbas.


Menurut KH Amiruddin, saat perang 10 November, Kiai Abbas dengan karomahnya, bukan hanya berada disatu tempat. Tapi di dua tempat. Yaitu di pusat kota dan dipesisir pantai Surabaya. Di pesisir pantai itulah, Kiai Abbas menghancurkan puluhan pesawat milik sekutu dengan hanya mengibaskan sorbannya keatas langit.

Penggunaan bakiak oleh Kiai Abbas juga, ternyata bukan hanya dilakukan saat perang 10 November saja. Melainkan digunakan pada hal lainnya, yang cukup penting. Salah satunya ketika akan bertanding silat. KH. Amiruddin Abkari mengatakan, Buntet itu memiliki pencak silat sendiri dengan nama pencak silat buntet (Nanti akan diceritakan pada episode berbeda).  ia pernah mendapatkan cerita dari Mang Kisom, salah satu pendekar silat asal buntet yang juga pernah menjadi gurunya, tentang kehebatan pencak silat buntet dan juga bakiak Kiai Abbas.

Menurut Mang Kisom, Kiai Abbas selalu menjajal kemampuan murid-muridnya terkait kemampuan silat. Kemampuan silat Kiai Abbas tidak diragukan lagi. Kiai Abbas pernah menerima tamu seorang preman suruhan belanda yang membuat beliau ditodong dengan sebuah belati. Saat ditodong, posisi tangan kanan Kiai Abbas memegang Ql-Qur’an (karena saat itu sedang nderes) dan tangan kirinya dipiting oleh preman tersebut. Ujung belati, sudah menempel tepat di leher Kiai Abbas.

Melihat kiainya sedang dalam kondisi bahaya, para santri dan masyarakat buntet langsung mengelilingi Kiai Abbas. Namun beliau meminta semuanya untuk menyingkir. Kiai Abbas tidak ada keraguan sedikitpun saat menjadi tawanan preman suruhan Belanda itu.

Sampai akhirnya, kemampuan silat dari Kiai Abbas dikeluarkan. Hanya dengan sebuah gerakan, dengan Al-Qur’an masih dipegang oleh tangan kanannya dan kondisi tangan kirinya dipiting, Kiai Abbas bisa menjatuhkan preman tersebut. Saat santri dan masyarakat hendak menyerbu dan menghakiminya, Kiai Abbas melarangnya.

“Jangan dipukuli, dia orang gila,” ujar Kiai Abbas saat itu.

Merasa nyawanya diselamatkan oleh Kiai Abbas dan takjub dengan sikap Kiai Abbas yang tidak memliki rasa dendam sedikitpun, Preman tersebut akhirnya menjadi salah satu murid dan pengawal Kiai Abbas.

Kembali ke Kiai Abbas yang ingin menjajal kemampuan silat murid-muridnya. Menurut Mang Kisom, Kiai Abbas sering meminta murid-muridnya untun mengeroyok Kiai Abbas, untuk menjajal kemampuan silat yang sudah dikuasai. Tapi, sebelum memulai, Kiai Abbas selalu mengganti sandalnya dengan bakiak terlebih dahulu.

“Jadi sebelum bertarung, Kiai Abbas meminta diambilkan bakiak miliknya,” ujar Mang Kisom, seperti yang diceritakan oleh KH. Amiruddin Abkari kepada penulis.

Kiai Abbas akhirnya memperlihatkan kemampuan pencak silatnya. Walaupun dikeroyok oleh lima orang, semua orang tersebut tersungkur tanpa ada yang bisa menempelkan tangan atau kakinya ke badan Kiai Abbas. Menurut Mang Kisom, kaki Kiai Abbas seperti tidak menempel ditanah. Gerakannya sangat cepat dan pukulannya juga mematikan.

“Kalau bertarung dengan Kiai Abbas, tidak ada yang pernah berhasil menyentuh badannya,” kata Mang Kisom.


Entah, misteri apa yang tersimpan dari sepasang bakiak yang cukup istimewa milik Kiai Abbas. Namun sayangnya, hingga saat ini bakiak tersebut tidak diketahui keberadaannya. Untuk beliau, Al-Fatihah. (buntetpesantren)

Advertisement

Advertisement