Ketika Manusia Bernasab Mulia Bikin Ulah, Kenapa Para Kiai Memilih Diam?

Baca Juga

MusliModerat.net - Para kiai memilih diam, karena beliau mempunyai basis masa yang kuat, solid dan fanatik. Kalau bicara sedikit saja bisa menimbulkan gesekan. Apalagi kualitas pemahaman loyalis Kiai juga beda-beda.
Kalau saya Santri tidak punya basis masa. Bisa bicara terus terang. Seperti membuka kesalahan Pak RS. Saya merasa perlu men-share karena banyak simpatisan dan menjadi loyalisnya tapi mereka tidak paham pemikiran dan sepak terjang RS sebenarnya.

Ada yang ngomong apa bedanya kamu dengan mereka? Jelas beda, "mereka ribut ingin membakar rumah (NKRI)", sedangkan aku ribut menyelamatkan rumah. Tentunya semampuku.
Kalau Anda berpikir, Aku harus mendiamkan kelakuan mereka karena adab. Itu sama dengan saya menyuruh Anda diam jangan berteriak saat rumah Anda dibobol maling dan dibakar penjahat.
Yang sedang mereka bakar Indonesia bung. Rumah bagi 250 juta jiwa, 700 bahasa 350 suku bangsa, 17000 pulau, 6 agama dan aneka kepercayaan.
Saya tidak menyebut atribut Habib dan marganya supaya tidak mengasosiasikan kesalahan oknum ini terhadap datuknya yang mulia, yaitu Imam Ahmad Al-Muhajir dan Rasulullah saw.

Saya sangat terpaksa menyebut hadis ini, kalau ada contoh yang lebih tepat saya akan menghindarinya.
لو سرقت فاطمة بنت محمد لقطعت يدها
Seandainya Fatimah binti Muhammad mengambil hak orang lain, maka aku akan menerapkan hukum kepadanya.
Sayidah Fatimah adalah insan paling mulia setelah Rasulullah saw. Karena darah daging Baginda saw. Jauh dari perbuatan tercela. Rasulullah saw hanya ingin menunjukkan keadilannya saja.
Jadi nasab dan kehormatan adalah kemuliaan dari Gusti Allah, kita mengakui itu dalam sanubari kita. Sedangkan kesalahannya urusan negara. Supremasi hukum berlaku untuk semua. Tidak ada yang kebal hukum

Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: