Innalillahi, KH Makhtum Hannan "Musytasyar PBNU" Meninggal Dunia


MusliModerat.net - Innalillahi wa Inna ilaihi raajiuun, Meninggal Dunia Almukarrom KH Makhtum Hannan, pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Anggota Ahlul Halli wal Aqdi dan Musytasyar PBNU.




” Selamat jalan wahai guruku. KH Makhtum Hannan,  Selamat menikmati kehidupan baru dalam taman surga. Air mata penuh cinta mengiringi senyumanmu menghadap Tuhanmu. Engkau rawat kami dengan teladan yang indah. Mohon maaf jika kami tidak tumbuh seindah yg engkau bayangkan….Canda tawamu akan selalu terkenang. Istirahatlah senyaman pengantin… Semoga Allah selalu menyayangimu.
lahul fatihah………!!!!!!
“Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Allahumma la tahrimna ajrohu wala taftinna bakdahu waghfirlana walahu.” 
PROFIL BELIAU
KH Makhtum Hannan dilahirkan di Cirebon, 13 Juni 1938 dari pasangan KH Abdul Hannan dan Nyai Solihah. KH. Abdul Hannan adalah putra Kiai Toyyib bin Kiai Masina bin Kiai Juman bin Kiai Mansur bin Kiai Abbas bin Kiai Subki bin bin Kiai Kamali bin Kiai Abdurrahim bin Syeikh Abdul Latif bin Mas Buyut bin Sunan Ratna Geulis/Kikis bin Sunan Raja Desa bin Sunan Bahuki bin Khatib Arya Agung bin Dalem Suka Hurang bin Sayid Maulana Faqih Ibrahim bin Syaikh Abdul Muhyi — Sunan Giri bin Maulana Ishaq.<>
KH Makhtum belajar ilmu agama pada ayahnya, KH. Abdul Hannan, pamannya, KH. Masduki Ali dan juga kakanya KH. Amrin Hannan. Selain itu, ia pernah belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu pada Kiai Abu Khaer Pasarean, Kiai Subki, dan Ust. Fadhil. Juga mesantrrn di Pondok Pesantren Lasem di bawah asuhan Syeikh Masduki dan Syeikh Mansur bin Khalil.
Sepulang mesantren KH. Makhtum Hannan meneruskan pondok pesantren ayahnya di Babakan Ciwaringin – Cirebon. Tahun 1960 bersama kiai-kiai lain mendirikan Madrasah al-Hikamus Salafiyyah (MHS) tingkat, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, dan Ma’had Ali.
Tahun 1963 KH Makhtum Hannan bersama pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin lainnya mendirikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model. KH Makhtum mendirikan Jamiyyah Hadiyu dan Istighatsah. Cabang-cabangnya tersebar di seluruh wilayah tiga: Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu.  Bahkan jaringannya sudah tersebar di Jawa maupun Luar Jawa.

Sejak tahun 1996 setiap malam Jum’at KH Makhtum Hannan memimpin istighatsah bertempat di Maqbarah KH. Abdul Hannan. Setiap bulannya diadakan Istighatsah Kubro yang diikuti ribuan orang dari pelosok-pelosok Desa dan luar daerah.
Di samping mengajar santri putra-putri, setiap hari selama 12 jam KH Makhtum Hannan sibuk melayani tamu dari semua lapisan masyarakat yang datang dengan pelbagai macam keperluan dan kepentingan: pejabat, pengusaha, pedagang, petani, pengurus organisasi, mahasiswa, bahkan tamu-tamu dari luar negeri. Mereka umumnya meminta nasihat, masukan, dan doa agar segala tujuan dan kepentingannya tercapai.
Melalui pendekatan hikmah, KH Makhtum banyak memberikan pendampingan kepada pengusaha, pedagang, petani dan nelayan. Banyak dari mereka yang sukses dan berhasil. (sumber NU Online)
TELADAN BELIAU
Banyak teladan yang dapat dipetik dari sosok ulama yang biasa dipanggil oleh santrinya dengan panggilan Mama Makhtum ini. Paling tidak, 5 teladan di bawah ini dapat ditiru oleh para santri:
1. Sosok yang Tawaduk dan Telaten Mendidik Santri
Sewaktu saya nyantri di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, Kiai Makhtum tidak mau mengajar kitab yang besar-besar pada para santrinya. Saya mengaji kitab al-‘Asymawi, syarah Jurumiyah, yang diulang sebanyak tujuh kali pada beliau. Sekelas Kiai Makhtum tentu tidak mungkin tidak mampu membaca kitab-kitab gramatika Arab besar sekelas Al-Fiyah, Mughni al-Labib, ‘Uqud al-Juman, atau kitab-kitab fikih besar sekelas al-Umm, Mughnil Muhtaj, dan kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i lainnya.
Beliau lebih memilih kitab-kitab kecil untuk membekali santrinya di kemudian hari membaca kitab-kitab besar tersebut. Beliau sangat telaten mengajari kitab tersebut pada para santrinya. Satu bab saja bisa dibahas dalam beberapa kali pertemuan. Selain telaten mendidik santri, beliau juga sosok ulama yang sangat tawaduk dan hati-hati. Prof. Dr. Nadirsyah Hosen pernah menceritakan dalam facebooknya, saat Kiai Makhtum diminta untuk berdoa menutup acara pertemuan Kiai-kiai yang tergabung dalam AHWA, beliau sempat menolak dan tidak mau. Begitulah sosok Kiai Makhtum di mata para santrinya.   
2. Khidmah pada Masyarakat
Hampir setiap hari, Kiai Makhtum selalu kedatangan tamu, baik dari masyarakat tingkat ekonomi ke bawah, atau ekonomi ke atas. Beliau terkenal sebagai Kiai ahli hikmah. Karenanya, para tamu yang datang ke Kiai Makhtum kebanyakan mengeluh masalah ekonomi. Ada tamu yang curhatdagangannya bangkrut, sedang mencari jodoh, ingin mendaftar PNS, meminta wasilah dagangannya laris, dan lain sebagainya. Kiai Makhtum selalu men-support mereka dengan bacaan-bacaan zikir dan doa yang harus dibaca secara berkesinambungan.
Beliau juga terkenal sebagai sosok yang dermawan. Tidak jarang santri ndalem, dan tamu yang membutuhkan bantuan ekonomi, beliau bantu dengan sukarela. Kiai Makhtum selalu menganjurkan para tamunya untuk menggeluti berdagang mandiri, daripada kerja di perkantoran. Ini bukan karena kerja di perkantoran jelek, tapi titik tekannya agar para tamunya yang datang itu mandiri secara ekonomi, tidak mengandalkan gaji dari kantor.
3. Teguh Pendiriannya
Kiai Makhtum merupakan sosok ulama yang sangat teguh pendiriannya. Kalau beliau sudah berkata A, ya harus A, tidak boleh B. Suatu saat pada tahun 2008, Pemerintah berencana membangun tol Cipali yang saat itu ingin “menabrak” lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Konon, Pemerintah juga bersedia menggelontorkan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk masyarakat dan kiai-kiai yang pesantrennya terkena gusuran.
Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh sesepuh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon tersebut. Kiai Makhtum bukanlah sosok ulama yang cinta duniawi. Karena hatinya yang bersih tersebut, tidak jarang analisa-analisanya terhadapa suatu permasalahan sehari-sehari, negara, selalu tepat. Pada waktu itu, saat Gus Solah mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden mendampingin Wiranto diprediksikan tidak akan jadi. Faktanya demikian.
4. Kuat Tirakat
Menurut penuturan santri senior dan masyarakat sekitar, Kiai Makhtum sudah senang tirakat sejak beliau muda. Ayahanda beliau, Kiai Abdul Hannan terkenal sebagai sosok wali yang sangat disegani pada masanya. Konon, ada seorang penjahat yang tobat sebab kesaktian Kiai Abdul Hannan. Suatu saat, Kiai Abdul Hannan sedang berjalan di tempat yang sepi dan mengerikan, tiba-tiba datang sekelompok begal yang ingin menodong beliau. Karena para penodong tersebut menginginkan harta, Kiai Abdul Hannan “menyulap” pohon pisang menjadi emas.
Tentu karamah yang dimiliki Kiai Abdul Hannan ini didapatkan karena melalu proses tirakat yang begitu panjang. Kegemaran bertirakat ini menurun dalam diri Kiai Makhtum Hannan. Konon, beliau puasa sampai sempat tidak bisa jalan. Kemungkinan karena kekurangan cairan dalam tubuh beliau. Tentu niat beliau tirakat ini untuk “membunuh” nafsu-nafsu yang bergejolak dalam jiwa beliau. Hasilnya, beliau menjadi sosok ulama yang sangat hati-hati dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya.
5. Istikamah
Sosok Kiai Makhtum Hannan sangat menekankan istikamah dalam hidup beliau. Dalam rumah beliau tertulis untaian pesan dalam bahasa Arab, al-istiqamah khairun min alfi karamah, Tsubutl karamah fi dawâmil istiqamah, ‘Istikamah itu lebih baik daripada seribu karamah. Terjaganyakaramah karena melakukan istikamah secara sinambung. Istikamah itu macamnya banyak.
Bila Anda suka menulis, istikamlah dalam menulis. Tekuni bidang Anda. Namun perlu diingat juga, bahwa seorang santri harus memiliki wiridan yang dibaca secara istikamah. Nah, kembali ke Kiai Makhtum. Beliau setiap seminggu sekali selalu memimpin istigasah di maqbarah Kiai Abdul Hannan beserta para santri dan jamaahnya. Dua bulan sekali, beliau memimpin istigasah kubra di tempat yang sama. Semoga para santri dan masyarakat pada umumnya dapat meneladani 5 pendirian Kiai Makhtum ini.
MAQOLAH BELIAU
berikut ini kami sarikan beberapa maqolah dari guru kami Mam’ K.H. Makhtum Hannan Pengasuh Pon Pes. Masyariqul Anwar Babakan Ciwaringin – Cirebon. yang beliau berikan dalam beberapa kesempatan, semoga bermanfaat.
– ” Khorun Nas, Anfa’uhum Linnas “ dalane anfa’u iku akeh, ora kudu dadi kyai bae. (jalannya anfa’u/manfaat itu banyak, tidak mesti jadi kyai saja).
– Aja pernah dadiaken ilmu kanggo hujjah menangaken awak dewek (jangan pernah menjadikan ilmu sebagai argumen untuk memenangkan diri sendiri saja)
– Mengarahkan ke depan untuk lebih positif, dari hal yang sudah terlewati dengan positif untuk lebih positif.
– Negeri (formal) itu sangat merugikan, ketika tidak ditunjang dengan akhlak yang terpuji.
– Bicara boleh, asal ada praktek.
– Hormatilah orang yang sebawahmu.
– Utamakanlah dan hormatilah para kyai dan ustadz.
– Berakhlaklah dengan luhur.
– Didiklah siapapun juga, dengan menguatkan pondasi agamanya.
– kalau sudah dirumah, lalu jadi kyai. dahulukan kepentingan ulama’, birokrat dinomorduakan, akan tetapi harus dengan cara yang baik.
– Aku ora butuh akeh santri, sing penting kualitase (aku tidak butuh banyak santri, yang penting kualitasnya).
– Ada dua aturan, aturan Struktural dan Kultural.
– Putra kyai juga harus dihormati, meskipun belum berilmu.
– Bentrok antar kyai dikarenakan fulus.
– Banyak kyai bisu karena amplop.
– Manfaate due istiqomah ning ati iku langka cagrak ning manusa (Manfaat memiliki Istiqomah dalam hati (taqorrub kepada Allah) itu tidak akan bergantung kepada manusia).
– Membeli sesuatu itu mudah, yang susah itu menahannya.
– Lihatlah manusia itu dengan ukurannya.
– Manusia iku dibodohi kenang pandangan mata. sepira baguse, alime lan pintere bisa kena (Manusia itu dibodohi oleh pandangan matanya. bagaimanapun baiknya, alimnya dan pintarnya bisa terkena).
– ” Hadza Zaman ” agama ditaroh nang sor, negeri (formal) ditaroh nang batuk (Zaman sekarang, agama diletakkan dibawah, sedangkan dunia diletakkan di jidat).
– Perlunya ngaji itu untuk membuat hati yang yakin kepada Allah Swt.
– Wiridan Basmalah 12.000x itu cuma 3 jam.
– Tancapkan hati yang mantap hanya kepada Allah.
– Bohong ….! jadi bupati, gubernur dan sebagainya itu enak.
– Luruha wadon atau sapa bae kang arep didadiaken sedulur sing gelem sholat lan seneng maring ngaji (carilah seseorang yang hendak dijadikan saudara (suami/istri) yang mau untuk sholat dan suka kepada ngaji (kyai/ulama) ).
– Percuma baka ora ikhlas, kakehan ilmu kakehan hujjah (Percuma kalau tidak ikhlas. kebanyakan ilmu, kebanyakan argumen/alasan).
– ilmu itu bagen setitik baka ditirakati bakal barokah (ilmu itu walaupun sedikit kalau dido’akan (tirakat) akan berkah).
– Kyai iku due umat (Kyai itu memiliki umat).
– Modal utama ” Khadimul Ummah ” (pembantu umat) itu IKHLAS.
– Kekuatan Indonesia itu hanyalah Pesantren.
– Untung kita Umat Nabi Muhammad Saw. jika bukan, sudah dibabat habis kita oleh adzab Allah.
– Berani itu harus berdasarkan al-Qur’an, al-Hadits dan aturan-aturan yang ada.
– Asalkan niat kita baik, pasti Allah akan menjaga kita.
– Santri PMA (Pon. Pes. Masyariqul Anwar) itu harus: Jaga etika, ikhlas dilisan ikhlas dihati dan disiplin dari diri sendiri.
– Masyarakat zaman sekarang itu sudah tidak memakai aturan.
– Do’a itu minimal diulang 2 kali.
– Tingkatkan kualitas pendidikan, terutama akhlak.
– Jangan pernah mengajar asal tamat. sebab, Mama’ K.H. Abdul Hannan tidak pernah dan tidak suka seperti itu. karena bisa mengakibatkan murid (siswa) tidak mendapatkan kedalaman suatu ilmu.
– Sangat rugi bagi anak Ibtida’iyah MHS yang tidak meneruskan ke Tingkat Tsanawiyah dan Aliyah MHS, karena bentrok waktu dengan sekolah Formal.
– Pertahankanlah Keikhlasan, kualitas dan al-kutub as-salaf.
– PMA harus lebih menonjol dari pada komplek lain dengan kualitas baiknya.
– Ngajar itu bukan borongan, tapi Murobbi
– Kata Kang Ayip Muh (Jagasatru) Niatilah belajar/ngaji itu hanya untuk menghilangkan kebodohan. sebab banyak orang pintar tapiNa’udzubillah bodohnya tidak hilang-hilang.
– Lupa itu adalah alasan orang yang tidak bertanggung jawab.
– Santriku tidak cukup hanya dengan pintar ” Ngaji ” tapi juga harus pintar ” Muji ” (selalu minta kepada Allah).

” Selamat jalan wahai guruku. KH Makhtum Hannan,  Selamat menikmati kehidupan baru dalam taman surga. Air mata penuh cinta mengiringi senyumanmu menghadap Tuhanmu. Engkau rawat kami dengan teladan yg indah. Mohon maaf jika kami tidak tumbuh seindah yg engkau bayangkan….Canda tawamu akan selalu terkenang. Istirahatlah senyaman pengantin… Semoga Allah selalu menyayangimu.
lahul fatikhah………!!!!!!
“Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu. Allahumma la tahrimna ajrohu wala taftinna bakdahu waghfirlana walahu.” 


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: