Mengenal Ciri Khas Ulama Dan Habaib Yaman

Baca Juga

yaman


Oleh: Moh Nasirul Haq
Santri Rubat Syafi’I Mukalla Yaman
MusliModerat.net - Ulama merupakan tokoh istimewa dikalangan ummat islam, sebabia adalah cerminan dari sosok seorang yang memiliki keluhuran Ilmu pengetahuan dan etika. Setiap Negara memiliki Ulama’ dan mereka memiliki ciri khas tersendiri. Oleh karenanya saya tertarik untuk membahas mengenai ciri khas Ulama dan Habaib Yaman sebagaimana yang saya ketahui selama masa belajar di Kota Mukalla dan Tarim Yaman.
  1. Makanan
Biasanya orang yaman menu utama makanannya berupa gandum yang di adon menjadi roti, kurma, bubur Ashidah, roti Bakhomri, bubur Haritsah, Fatteh (roti digiling dengan pisang, susu dan madu) sebagian daerang menjadikan Nasi sebagai menu utama. Adapun lauknya bisanyanya dengan Telur Saksuka, ikan laut, Fashuliya (kacang), Jubnah (keju), Halawah (selai kacang).Minumannya yaitu Halib (susu), Qohwah (kopi), Sahi(the), Ripp (yogurt), Lim (lemon), Musyakkal (campuran).
  1. Pakaian
Warna putih merupakan warna yang biasa digunakan Ulama’ Yaman mengikuti hadits nabi ;
خلق الجنة بيضاء وخير ثيابكم البيض تلبسونها في حياتكم وتكفنون بها موتاكم (سنن الترمذي ج.3 ص. 319)
“Allah menciptakan surga berwarna putih dan sebaik baiknya pakaian kalian adalah berwarna putih yang dipakai semasa hidup dan di jadikan kafan bagi orang meninggal kalian.”
Pada musim panas biasanya mereka memakai kain berbahan katun dan pada musim dingin memakai kain shuf . adapun jenis pakaiannya biasanya mereka memakai baju koko dan sarung atau juga memakai gamis (baju kurung) di bagian dalam dan di luarnya memakai jubbah (baju panjang terbuka), sesekali mereka menggunakan warna selain berwarna putih. Mereka juga memakai rida'( sorban selendang).
Untuk penutup kepala mereka menggunakan peci putih, dan sebagian lain memakai peci putih kemudian di ikat dengan imamah (soban putih di ikat di kepala) biasanya bentuk imamah menunjukkan sesuai keahlian bidang ilmu pemakainya, jarang sekali mereka memakai “Toilasan” (sorban yang dipakai seperti kerudung) kecuali saat berkhutbah saja.
  1. Kebersian dan kerapian
Para Ulama yaman selalu membawa Siwak dan mereka sangat suka menggunakan minyak wangi mengikuti anjuran hadits;
وسيدالخلقصلىاللهعليهوسلميقول: ( حببإليمندنياكمثلاثاً: الطيبوالنساء -وهذانمتلازمان- وجُعِلتقرةعينيفيالصلاة )،يعني: النساءوالطيبماشغلانيعنالصلاة،بلكانيقومالليلحتىتفطرتقدماه،فماشغلهالفراشولاالزوجاتولاالطيبعنأداءواجبهوالتقربإلىربه.
“Yang paling aku cintai dari dunia kalian adalah 3 hal : wewangian, wanita (dua hal ini berkaitan) dan aku jadikan kecintaanku pada sholat”
Bias kita rasakan setiap Ulama dan Habaib datang wangi parfum mereka memenuhi ruangan majelis. Kemudian para ulama juga suka memakai celak, mencukur kumis dan merapikan jenggotnya, serta menghindari dari membersihkan hidung, kuping dll saat di tempat Umum, mereka tidak suka merokok dan duduk di warung kopi.
  1. Etika di jalan
Walaupun mereka tetap menjaga penampilan dan rapi namun saat berjalan mereka sangat Tawadlu (rendah diri), tidak membusungkan dada dan berjalan dengan tenang serta tidak tergesa gesa sesuai anjuran etika memperbanyak langkah kaki saat berjalan.
Lalu jika bertemu dengan orang mereka mengucapkan salam dan bersalam, adapun cara bersalamannya mereka pasti jika dicium tangannya oleh sesama Ulama pasti akan membalas mencium tangannya juga secara bergantian ini ciri khas di hadromaut, sementara jika bersalaman dengan anak yang belum baligh mereka mencium tangan si anak, dan mereka juga sangat menghormati orang yang lebih tua.saat di jalan mereka tersenyum kepada semua orang.
  1. Majelis
Semakin tinggi tingkat keilmuan seseorang maka dialah yang paling di dahulukan di Majelis, dan Ulama Yaman tidak akan sesekali memberikan ceramah kecuali diperintah oleh para sesepuh atau Ulama’ lainnya. Termasuk juga yang mendiakan “Bukhur” (kemenyan) pasti diberikan pada yang tinggi derajatnya.
Apa yang mereka bicarakan jauh dari kepentingan politik dan mereka selalu mengingatkan agar sesalu mendekatkan diri kepada allah s.w.t dan mencintai rosulullah s.a.w. mereka juga selalu melihat kondisi lingkungan menyesuaikan dengan para pendengar.لكل مقام مقال
Mereka juga sangat menjaga diri untuk tidak duduk di bagian depan kecuali Ulama’, Mufti, dan Da’I atau mereka diperintahkan untuk maju kedepan.
  1. Waktu santai
Para Ulama dan Habaib menganggap waktu santai bagi mereka paling nikmat jika dihabiskan dengan memmbaca kitab kitab cerita atau mendengarkan syair syair nasehat yang dibacakan Munsyid (vocal) sambil menikmati secangkir kopi hangat dan halawah (manisan).
Tak jarang juga menghabiskan waktu liburan dengan putra putrinya sejenak membahagiakan keluarganya tercinta.
  1. Ekonomi dan pekerjaan
Ciri khas Ulama Yaman adalah tidak menerima bayaran saat dia berceramah. Oleh karenanya mereka disebut dengan “Ad Da’i Ilallah” (pendakwah di jalan Allah). realitanya secara materi saya lihat mereka banyak yang tergolong kaya, meskipun mereka kaya raya mereka memiliki prinsip “Addunya Fi Aydina La fi Qulubina” (dunia itu ada di tangan kita tapi tidak di hati kita). Maka tidak heran jika seorang ulama banyak memiliki mobil mewah dan rumah mewah.
Mereka memiliki mata pencararian dari berdagang, bisnis, berternak, kebun dan sawah yang luas. Ada juga yang bekerja sebagai Qodli (hakim), dosen di kampus, dan usaha di luar negeri.Secara keseluruhan ulama yaman sangat menjaga dari proposal kepada pemerintah dan mereka hidup mandiri menerima apa adanya.
  1. Ibadah
Untuk mensifati hal ini rasanya tidak mudah menulis secara ringkas, mengingat begitu luas dan beragam muatan ibadah yang mereka lakukan. Akan tetapi secara global para ulama sangat menjaga sholat malam, membaca Al Quran, Dzikir dan Hizib saat berdzikir biasanya menggunakan sejenis kain dibentuk seperti peci setinggi setengah meter, Kholwat (menyepi), mengajar, dan menjaga kesunnahan. Mereka juga rutin menjaga Muroja’ah Dars (mengulang pelajaran) bahkan dikatakan ada yang sampai mengulang 20 bab sebelum tidurnya.
  1. Rihlah dakwah
Ulama Yaman sangat terkenal suka berdakwah menyebar di seluruh dunia. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tinggal ditempat itu. Bisa kita lihat kedatangan mereka untuk brdakwah selalu di rindukan oleh ummat mengingat kesantunan dan keteduhan metode dakwah mereka. Mereka juga banyak mengislamkan di tempat dakwahnya.
  1. keluarga Ulama
keluarga mereka sangat terjaga dari pergaulan bebas, para wanitanya tinggal dirumah mnjaga keluarga dan beribadah di rumah. Mereka mendidik anak dan istrinya untuk selalu bertaqwa kepada allah dan menjauhkan dari segala jenis maksiat. Maka tidak heran jika saat usaia mereka masih kecil mereka sudah bisa Kasyaf (bisa melihat hal gaib) dan istri mereka menjadi “Waliyatullah“.
Mereka sangat menjaga dari bertemu orang asing yang bukan keluarganya, disaat bertemu orang asing para wanita pasti menjauh dari jalan, dan mereka menggunakan pakaian hitam bercadar sebagai keseharian nya.
  1. Kajian dan terobosan ilmiah
Ulama’ Yaman juga aktif mengarang kitab di berbagai fan ilmu, seperti Ulama dari kota Zabid yang terkenal dengan ilmu hadits nya sementara Ulama’ Tarim dari keluarga Assaqqaf terkenal dengan ilmu Qiro’at Al Qur’an, begitu juga ilmu fiqh banyak tesebar para pakar di Tarim, Dau’an, Mukalla, Seiwun.
  1. Menjaga tradisi kebudayaan masyarakat dan perayaan.
Para ulama sangat Toleran mempertahankan tradisi masyarakat yang tidak berbenturan dengan syariat seperti tarian kebudayaan khas yaman, lomba balapan unta, bertukar makanan antar rumah, alat music seruling dan rebab khas pengikut sufi, dll.
Begitu juga para ulama pro aktif dalam menghidupkan syiar perayaan islam seperti Maulid Nabi, Tahun Baru Islam, Ziarah Nabi Hud dan Nabi Hadun, Ziarah makam Sahabat Abid Bin Bishr serta pejuang perang Badr yang dikebumikan di Yaman.
Mereka juga tetap menjaga tradisi silaturahmi antar para Ulama’ saling mengirim surat, saling memuji dengan Qasidah, mendatangi majelis Hadroh (Dzikir Sufi).
  1. Kegiatan social kemasyarakatan
Ulama yaman kebanyakan bersifat dermawan dan perduli, mereka menyantuni dan memberi makan faqir miskin, membiayai para pencari ilmu dari berbagai daerah. Selain Ulama mereka juga sering mendamaikan antar Qabilah yang berseteru. Mereka juga aktif menangkal penyebaran Bid’ah, Maksiat dan Aliran Sesat.
Sementara kalangan Habaib memiliki organisasi Niqobah yang berfungsi 6 hal; pertamaMengeluarkan shodaqoh ke masjid, kedua menjaga Harta Bani Alawi, ketiga menjaga garis keturunan mereka, keempat Amar Makruf Nahi munkar, kelima menjaga anak cucu Bani Alawi dari segala keburukan dan sifat tercela, keenam mencari solusi jika ada masalah.
  1. Akidah dan manhaj pemikiran
Ulama yaman yang saya maksudkan dalam artikel ini adalah Ulama yang berakidah Ash’ary-Maturidi-sufi-dan bertoriqoh. Sementara pola pemikiran mereka sangat sederhana yang penting Berorientasi kepada kebahagiaan dunia akhirat. Tidak suka nyeleneh dan mengeluaran pendapat Statement yang menimbulkan fitnah.
Manhaj (metode) mereka adalah Madrosah Hadramaut sebagaimana yang diajarkan Al Muhajir Ilallah Ahmad Bin Isa serta Al Faqih Al Muqoddam Muhammad Bin Ali Ba’alawi. Dengan menjadikan Tazkiyatun Nafsi (pembersihan hati) sebagai unsurnya, Ilmu wal Amal (ilmu dan amal) sebagai bukti kongkritnya, Makrifatullah sebagai buah dari itu semua.
Demikianlah sekelumit mengenai Ulama’ Yaman semoga bermanfaat.
Mukalla 4 desember 2016.

Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: