Sabtu, 24 Desember 2016

Kakek Nasrani Ajar Bocah Muslim Menghafal Alquran


GURU DUA KITAB: Ayaad Shaker Hanna (85) seorang Kristen Koptik yang membantu anak-anak muslim membaca Alquran (tangkapan layar video BBC Arab).|BBC
Sebuah fakta unik di Mesir jadi viral, yakni kakek Nasrani selama 50 tahun membantu anak-anak muslim menghafal Alquran. Sembari mengajarkan Alquran, dia juga guru agama bagi bocah-bocah Kristiani.
ADALAH Ayaad Shaker Hanna, yang mengajarkan anak-anak di Minya, Mesir, untuk belajar Alquran.  Hal itu sudah dilakoni Ayaad selama puluhan tahun.
Ayaad yang kini berusia 80 tahun mengajarkan anak-anak muslim di Minya mengaji dan menghafalkan Alquran. Sebagai seorang guru, Ayaad yang penganut Kristen Koptik telah mengajarkan Alquran selama lebih dari 50 tahun.
Ayaad telah mempelajari Alquran sejak duduk di bangku SMP atas dorongan ayahnya. Saat itulah Ayaad berpikir, “Kenapa kita tidak mempelajari dan menerapkan keduanya? Tidak ada yang salah dengan itu.”
Dilansir Cairoscene, kisah Ayaad dimulai pada tahun 1948 saat seorang anak kecil di desa Minya datang kepadanya. Anak itu memiliki Alquran namun tidak memahaminya dan meminta Ayaad untuk mengajarinya.
Sejak saat itu, Ayaad pun mulai mengajari Alquran baik dari bahasa, konsep, cara menghafal dan cara membaca Alquran kepada anak-anak.
Ayaad mengatakan, pada waktu itu tidak banyak orang yang tinggal di Desa Minya, Mesir utara tempatnya tinggal. Hubungan antara warga yang beragama Muslim maupun Kristiani pun terjalin dengan harmonis. Sama sekali tak ada isu perbedaan agama di desa itu.
Bahkan salah satu muridnya, adalah anak-anak perempuan dari seorang cendekiawan Islam Ahmed El Gergawy, yang ditunjuk sebagai imam di desa tempatnya tinggal. Awalnya El Gergawy enggan dan ragu-ragu mempercayakan anaknya belajar Alquran pada Ayaad.
Namun seiring berjalannya waktu, anak perempuan El Gergawy berhasil menghafal Alquran. Atas keberhasilan Ayaad itu, El Gergawy membawakan salinan Alquran dari Makkah sebagai ucapan terima kasih.
Hingga saat ini, setiap hari puluhan murid akan berkumpul di rumah Ayaad untuk belajar Alquran. Dia dikenal sebagai guru besar atas pengabadiannya mengajar di desa tempatnya tinggal.
Sebagai seorang Kristen Koptik, Ayaad juga mengajar Alkitab bagi anak-anak Nasrani di desanya. Tentu, mengajar Alquran dan Alkitab dilakukannya pada kesempatan terpisah.
“Saya memiliki lebih dari 120 anak-anak di kelas saya: 70 sampai 80 Muslim, dan 30 sampai 40 orang Kristen. Kami telah tinggal di sini dengan cinta, ” kata Ayaad kepada BBC Arab edisi 8 Okober 2016 seperti dikutip, Jumat (23/12).
“Saya dibayar sekitar satu dolar, tapi saya lebih suka dibayar satu dolar dengan cinta daripada 100 dolar dengan amarah,” lanjutnya.
Dia mengaku para guru dan keluarga menyetujui dirinya mengajarkan kedua agama tersebut kepada anak-anak muridnya. “Para guru di sekolah dan keluarga menyetujui. Aku telah mengajarkan mereka semua sejak bertahun-tahun yang lalu tanpa penolakan,” ujar Ayaad.
Ayaad pun juga merasa sedih dan prihatin atas kekerasan sektarian yang mengatasnamakan agama di Mesir akhir-akhir ini. Menurut dia, umat Islam dan Kristen sudah lama hidup dengan berdampingan di Mesir.
Konflik yang memecah-belah kedua umat agama itu disebutnya sebagai hal jahat yang muncul tiba-tiba di antara keduanya. “Kami tidak pernah melabel satu sama lain itu sebagai Muslim atau Kristen. Kita semua adalah satu dan tidak ada perbedaan,” tegasnya.
Kisah Ayaad jadi perhatian. Banyak orang menyebarkan cerita inspiratifnya. Berbagai media mainstream internasional juga sudah meliput kisah hidupnya.

Kisah di Sirah Nabawi
Lantas bagaimana pandangan Islam tentang nonmuslim yang mengajar anak-anak muslim. Satu-satunya kisah yang mirip dengan yang terjadi di Mesir itu terjadi saat umat muslim memenangi Perang Badar. Ketika itu Rasulullah saw kembali ke Madinah dengan kemenangan dari Allah bersama dengan rampasan perang dan para tawanan.
Disebutkan dalam Sirah Nabawi, kemenangan ini membuat banyak manusia memeluk Islam. Abdullah bin Ubay bin Salul dan teman-temannya masuk Islam meski hanya berpura-pura.
Saat telah berada di Madinah, Rusulullah meminta pertimbangan para sahabatnya perihal tawanan perang. Abu Bakar mengusulkan agar diambil fidyah (tebusan) saja dari mereka. Umar bin Khaththab berpendapat lain. Ia mengusulkan kepada Rasulullah saw untuk membunuh para tawanan itu.
“Ya Abu Bakar, bagaimana pendapatmu?”
“Coba tanya dulu sama Umar, bagaimana pendapatnya,” ujar Abu Bakar.
“Ya Umar, bagaimana pendapatmu tentang 70 tawanan ini?”
“Untuk 70 orang ini tidak ada satu pun celah kebebasan kecuali mati,” jawab Umar.
“Wah,” Rasulullah kaget, “Kenapa?”
“Karena ini adalah perang yang pertama kali, harus memperlihatkan izzah (kemuliaan) bahwa kita ini tidak ada kompromi untuk masalah kebenaran. Ajak Islam, kalau tidak mau, maka bunuh,” jawab Umar.
“Ya Abu Bakar, bagaimana menurutmu?”
“Ya Rasul, saya berpendapat, lebih baik kirimkan kabar ke Kota Makkah nama-nama yang selamat, yang menjadi tawanan, minta tebusan,” kata Abu Bakar.
“Wah pendapat ini sama dengan pendapatku,” kata Rasulullah.
Maka diambillah pendapat Abu Bakar, yaitu mengambil tebusan, mulai dari 3.000 dirham hingga 10.000 dirham. Lalu, untuk tawanan yang dapat membaca atau menulis, Rasulullah saw meminta mereka mengajar 10 anak kaum muslim sebagai tebusannya. Tak semua tawanan dibebaskan dengan tebusan. Nabi saw memberikan kebaikan pada sebagian tawanan dan melepaskan mereka tanpa tebusan apa pun.
Tapi malamnya, Allah menurunkan firman-Nya. “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana, kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kalian ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kalian ambil.” (QS. Al-Anfal 8: 67-68)
Dengan kata lain, Allah sepakat dengan pendapat Umar. Kenapa? Ini perang pertama kali, tidak boleh loyo-loyo. Ini perang pertama kali, harus perlihatkan kegagahan. Sindiran Alquran dalam ayat ini, “Kalian menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian).”
Rasulullah saw dan Abu Bakar kemudian menangis karena malu kepada Allah SWT. Lalu Umar datang, ia bingung melihat kedua sahabatnya menangis bersama. “Kenapa menangis? Bagi-bagi sedihnya denganku,” ujar Umar. Rasulullah saw mengatakan, “Pendapatmu benar, Umar.” Rasulullah pun membacakan firman Allah tersebut. Maka dari mulai itulah Umar mendapatkan gelar “muwafaqoh bil lillahi ta‘ala”
Karena semua pendapatnya –kalimatnya– selalu cocok dengan keinginan Allah. Banyak kisah dalam Sirah Nabawi yang menceritakan turunnya firman-firman Allah yang sesuai dengan pendapat Umar. bbc, dit, net/duta.co
Advertisement

Advertisement