Bantahan atas 4 Alasan Anti Maulid Nabi Muhammad

Bantahan atas 4 Alasan Anti Maulid Nabi Muhammad

MusliModerat.net - Di masa yang seharusnya kita fokus dalam kebersamaan ukhuwah, ternyata masih ada saja segelintir orang yang anti ukhuwah. Merasa demam dengan persatuan kaum muslimin, bahkan mengolok dan memaki.

Kita bersaudara, Anda yang suka dengan ikhtifal maulid Nabi silahkan jalankan sesuai dengan keyakinan. Bagi yang tidak suka, silahkan untuk tidak menjalankannya. Kita tetap akan bersaudara karena yang terpenting bukan maulid atau tidaknya tapi bagaimana kita berakhlaq mulia meneladani kemuliaan akhlaq Nabi. Hormatilah perbedaan, supaya kita bisa selalu hidup damai dan penuh kerukunan.

1. Maulid Tidak Bid'ah
Maulid tidak dilakukan Rasulullah SAW, tidak pula para sahabat dan tabiin. Jika maulid itu baik pasti mereka telah melakukannya!

Jawaban
Kisah yang serupa pernah terjadi. Sayidina Abu Bakar ra berkata kepada Sayidina Umar ra yang mengusulkan untuk mengumpulkan al Quran:

كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟» فَقَالَ عُمَرُ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.

Artinya:
Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah SAW? Sayidina Umar ra menjawab: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.. Ini (mengumpulkan al Quran) demi Allah adalah kebaikan. (Shahih Bukhari, Bab Laqod Jaakum Rasulun min Anfusikum). 

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa segala kebaikan boleh dilakukan walaupun tidak dilakukan Rasulullah SAW. Apalagi jika yang tidak melakukannya adalah sahabat dan tabiin

2. Maulid Merendahkan Nabi
Merayakan maulid itu merendahan derajat Nabi SAW. Karena dengan maulid berarti Nabi SAW hanya disebutkan sehari saja dalam setahun.

Jawaban:
Kami tidak mengkhususkan memuji Nabi SAW di hari maulid saja. Kami hanya melebihkan pujian kepada Nabi SAW di hari itu. Tidakkah Anda renungkan bahwa Nabi SAW mengkhususkan untuk melebihkan rasa syukur pada hari kelahirannya dengan berpuasa di hari Senin, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim Ketika ditanya mengenai puasa hari Senin. Ketika itu Rasulullah menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فيه وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أو أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
Artinya:
“Hari itu hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan kepadaku wahyu.” (HR Muslim)

Apakah kita katakan bahwa Nabi SAW hanya bersyukur di Hari Senin saja dan tidak bersyukur di hari-hari lain ataukah kita katakan bahwa Nabi SAW melebihkan rasa Syukur di hari itu (Senin)?

Kemudian bagaimana menjawab puasa di Hari Asyura, karena bersyukur kepada Allah atas selamatnya Nabi Musa as? Apakah Nabi SAW hanya mengkhususkan syukur pada hari itu saja atau Nabi melebihkan syukur pada hari itu? 

Tentu jawabannya adalah Nabi SAW senantiasa bersyukur, namun Nabi menambahkan syukurnya pada momen-momen hari itu. Demikianlah pula maulid, kami senantiasa mengingat Nabi SAW di hari-hari lain, namun di hari itu kami melebihkan pujian atas beliau SAW.

3. 12 Rabiul Awal kan Wafatnya Nabi
Bagaimana bisa kalian merayakan tanggal 12 Rabiul Awwal, padahal itu juga adalah hari wafatnya Nabi SAW?

Jawaban:
Kesamaan hari lahir dan hari wafatnya Nabi SAW (yaitu tanggal 12 Rabiul Awwal) itu tidak mengurangi keutamaan hari maulid. Renungkanlah hadits yang datang dalam Sunan Nasai, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم عليه السلام ، وفيه قبض”

Artinya:
"Sesungguhnya hari terbaik kalian adalah Hari Jumat, di dalamnya Nabi Adam as diciptakan dan di hari itu juga Beliau diwafatkan." (HR Nasa'i)

Hari Jumat tetaplah menjadi hari terbaik walau pun pada hari itu pula Nabi Adam as wafat

4. Jika Maulid Baik, Mengapa Sahabat Tidak Merayakan?
Seandainya perayaan maulid adalah kebaikan tentu telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Lalu apakah kalian lebih mencintai Nabi SAW dibandingkan para sahabat sedangkan mereka tidak pernah merayakan maulid.

Jawaban
1. Telah disebutkan dalam hadits shahih

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا

Dari Aisyah ra beliau mengatakan: “Aku tidak pernah melihat Nabi SAW shalat Dhuha, namun aku melakukannya.” (HR Bukhari).

Seandainya itu kebaikan pasti Nabi SAW telah melakukannya. Kenapa tidak dikatakan kepada Sayidah Aisyah ra, “Kenapa kau melakukan ini sedangkan engkau berkata bahwa Nabi SAW tidak melakukannya".

2. Imam Syafii pernah bercerita: aku melihat di pintu Imam Malik seekor kuda dari kuda-kuda Khurasan dan Bighal Mesir. Lalu aku katakan, “alangkah bagusnya!” Imam Malik berkata, “itu adalah hadiah dariku untukmu.”

Imam Syafii menimpali, “sisakanlah untuk dirimu seekor untuk kau kendarai.” 

Imam Malik berkata, “aku malu kepada Allah untuk menjejak tanah Nabi-Nya (madinah) dengan telapak kaki kendaraan.” (Tartibul Madarik juz 2/53). 

Imam Malik enggan menginjak tanah kota Madinah dengan kaki hewan tunggangannya, beliau memilih berjalan kaki saja.

Perhatikan, Imam Syafii ra tidak mengatakan kepada Imam Malik, “Apakah cintamu kepada Nabi SAW lebih besar daripada cinta para sahabat Nabi SAW yang berjalan di atas kendaraan mereka di kota Madinah? Apakah mereka tidak terpikir untuk melakukannya lalu hanya engkau bisa berpikir demikian?”

3. Ibnul Qoyim berkata:

سمعت ابن تيمية رحمه الله يقول : من واظب على يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر أربعين مرة أحيى الله بها قلبه

Aku mendengar Ibnu Taimiyah ra berkata, Siapa yang membiasakan membaca ‘Ya Hayyu Ya Qoyyum La ilaha Illa Anta’ setiap hari di antara shalat sunnah Fajr dan shalat Fajr sebanyak 40 kali, maka Allah akan menghidupkan hatinya. (Madarikus Salikin juz 3/264). 

Inilah Ibnu Taimiyah, ia juga ternyata melakukan sesuatu yang tidak pernah kita dengar diriwayatkan dari Nabi SAW, tidak pula dari para sahabatnya. Lalu kenapa kami tidak mendengar wahabi mengingkarinya? Tidak pernah mereka berkata, "seandainya ini baik, pastinya Nabi SAW dan para sahabatnya akan melakukannya". 

”Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutin, itu dikerjakan oleh sebagian manusia, dan mereka mendapat pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya terhadap Rasulullah SAW”. (Ibnu Taimiyah - Iqtidha’: 297). Allahul Musta’an. [dutaislam.com/ ab]

Source: forsansalaf.com


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: