Kamis, 01 Desember 2016

Musim Ulama Dihina, GP Ansor Jatim dan Jateng Patroli Media Sosial

Musim Ulama Dihina, GP Ansor Jatim dan Jateng Patroli Media Sosial
MusliModerat.net - Akhir-akhir ini marak terjadi perilaku pengguna internet yang tanpa kontrol moral dan etika sehingga merundung, menjelek-jelekan, bahkan menghina secara fisik tokoh agama dan ulama di media sosial.
Untuk mengantisipasi terulangnya penghinaan kepada ulama atau kiai melalui media sosial (medsos), Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur (Jatim) menginstruksikan seluruh anggotanya untuk menggelar “Patroli Medsos”.
Ketua GP Ansor Jatim, Rudi Tri Wachid mengatakan, pihaknya membentuk Tim Reaksi Cepat “Benteng NU” penghina ulama atau kiai Nahdlatul Ulama (NU). Tim ini bertugas melakukan patroli di medsos untuk menelusuri konten-konten di media sosial yang menghina ulama atau kiai.
“Dipelajari dulu konten yang diunggah, dilacak pemilik akunnya siapa dan dimana alamat rumahnya,” ujarnya,” kata Rudi.
Menurutnya, Jika ditemukan, tim cyber  Ansor  akan melacak identitas pengunggah dan meminta klasifikasi atau tabayyun atas hinaan di Medsos tersebut.  Jika terbukti menghina, pengunggah akan diminta untuk menemui kiai yang bersangkutan dan meminta maaf.
“Setelah klarifikasi atau tabayun, kalau terbukti mengunggah status menghina, kemudian tim sarankan untuk meminta maaf kepada kiai yang dihina. Kalau perlu diajak untuk sowan ke kiai yang dihina,” tandas Rudi.
Rudi menjelaskan bahwa Tim Tabayun dibentuk untuk melestarikan budaya sopan santun anak muda ke orang tua. “Makanya nanti tim bergerak melakukan langkah untuk mengajari bagaimana akhlak anak muda ke orang tua,” tandasnya.
Melihat massifnya gerakan kebencian saat ini, memang tengah ada rekayasa pihak luar yang ingin Indonesia bertengkar dan hancur lebur. Dimulai dari politisasi ayat, hadits dipotong seenaknya utk mengobarkan permusuhan, sampai pelecehan kepada para kiai sepuh. “Semua ini harus dihentikan.” Tegas.
Rudi mengatakan, patroli medsos tersebut untuk memberikan pembelajaran kepada publik tentang nilai-nilai kesopanan kepada orang tua khususnya ulama. Karena ulama bagi NU adalah figur yang harus dihormati.
Tidak hanya GP Ansor Jatim yang yang melakukan patroli, Ketua GP Ansor Jawa Tengah (Jateng), Ikhwanuddin juga mengintruksikan para kadernya melakukan patroli di media sosial.
“GP Ansor Jawa Tengah menginstruksikan kepada 112 ribu Banser (Barisan Ansor Serbaguna) se-Jawa Tengah yang ada di setiap desa dan kelurahan untuk melakukan patroli,” kata Ikhwanuddin di Semarang, Selasa, 29 November 2016.
Menurut dia, perbedaan pendapat yang dilontarkan berbagai pihak di dunia maya makin hari kian memanas dan dapat menyulut konflik.
Dia menjelaskan, sebenarnya Ansor sudah menyiagakan kader khusus yang ahli di bidang teknologi. Namun diperlukan juga patroli yang dilakukan pasukan Banser Darat. “Keduanya saling berkoordinasi berbagi informasi dan data,” katanya.
Sebelumnya, seorang karyawan PT Adhi Karya Tbk asal Probolinggo, Jawa Timur, Pandu Wijaya, dinilai menghina mantan Rais Am PBNU  KH Mustofa Bisri atau Gus Mus melalui Twitter.
Keluarga Pandu sempat didatangi aktivis Ansor-Banser setempat dan diklarifikasi. Pandu lalu sowan ke kediaman Gus Mus di Rembang, Jawa Tengah untuk meminta maaf.
Kiai NU lain yang jadi korban pesan melecehkan di medsos ialah KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen. Penghina Mbah Moen juga sudah sowan dan terjadi maaf-maafan. Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, juga jadi sasaran pesan bernada fitnah oleh pemilik akun facebook (Helmy Alattas Rosho) yang tinggal di Kediri, Jawa Timur.[satuislam]
Advertisement

Advertisement