Karena Tidak Menyalahkan Ahok, Buya Syafii Ma'arif Di Hujat Kader Muhammadiyah

;
Karena Tidak Menyalahkan Ahok, Buya Syafii Ma'arif Di Hujat Kader Muhammadiyah

MusliModerat.net [Editorial] - Kader Muhammadiyah TofaLemon atau Mustofa Nahra, yang menyebut Buya Syafi’i Ma’arif ngelantur saat hadir di Indonesian Lawyers Club (ILC) 8 November 2016 semalam, hanya karena tidak segaris dengan pendapatnya.

Dengan kasar dan kurangajar, dalam kicauan ngawurnya di twitter, anak muda nekal itu menulis, “GUYS, mhn maaf jika di ILC malam ini, ada sesepuh kami yg bicaranya ngelantur. Itu hanya mewakili dirinya sendiri.” Kata-kata nya tidak semanis lemon pasar. Ini buktinya:


Kader muda lain yang juga parah menyindir Buya Syafii adalah akun bernama Fahira Idris. Ia mengatakan, “pesan saya untuk dek adek se TL (twitter land, jagat tweet)...Kalau sudah Tua Jangan Ngeselin yah...jangan ditiru...Jangan (logo stop tangan) TTN (Tua Tua Ngeselin, red).” 

Fahira tidak menyebut persis nama Buya, tapi followersnya tahu bahwa yang disindir itu adalah Buya Syafi’i, tokoh berusia 81 tahun yang dituakan oleh Muhammadiyah dan bangsa ini. Menyebut ngeselin, ya sama juga baper ning!


Dalam ILC “Setelah 411” itu, akun twetter lain semacam Yudi Sejatera lebih nakal lagi. Ia menulis begini: “Percuma panjang lebar Syafii Maarif bicara panjang lebar di #ILC411”. Ia terksean tidak terima kalau ILC dihadiri oleh kelompok yang beda dari kehendak pribadinya.


Hanya karena beda pendapat, anak-anak muda itu tidak bisa dewasa dalam bersikap. Tidak ada tatakrama yang terlihat. Bahasa pesantren menyebutnya su’ul adab. Ini yang membedakan antara santri dan anak muda nakal dibalik akun TofaLemon, Fahira Idris dan Yudi itu. 

Seberbeda apapun, kepada orang tua tidak seharusnya begitu. Nusron Wahid saja dikritik oleh pembela aksi 4 November 2016 kemarin dengan menyebut tidak beradab karene melotot ke orangtua, lha ini kok satu gerombolan muda pendukung Anti Ahok melakukan hal yang sama. Duh, negeri ini sudah dipenuhi orang-orang tidak waras. 

Rindu Gus Dur
Duta Islam menyimak pendapat Buya tidak terlalu tendensius di ILC. Ia hanya menyampaikan kebenaran meskipun banyak yang menentang. Jika ia menyebut kalau yang hadir di acara ILC malam itu adalah badut-badut semua, ia juga mengaku rendah diri mau disebut badut kok. 
“Yang hadir di sini ada yang mengatakan semuanya badut, saya juga badut. Yang tidak hadir tentara Allah, yang hadir itu tentara setan. Saya termasuk tentara setan itu,” kata Buya. 

Pernyataan di atas tidak bertendensi menyudutkan siapapun. Kalau disebut menyudutkan, tentunya Buya harus melindungi dirinya dan menyatakan bukan ikut bagian dari badut itu. Ternyata tidak. Buya rela masuk dari bagian badut-badut yang disebutkan sendiri untuk menyampaikan kebenaran, yang katanya, “lebih berat dari dunia”. 

Yang disampaikan oleh Buya adalah substansi, bukan opini belaka. Sementara yang lain, banyak yang beropini berbeda demi menyelamatkan muka sendiri. “Saya memang berbeda denganbanyak orang, tapi yang sesuai dengan saya banyak sekali. Hanya mereka tidak berani menyampaikan,” kata Buya. 

Ia juga mengatakan, “ini risiko, saya seperti berhadapan dengan arus, tapi ini harus saya lakukan. Dan kebenaran itu tidak bisa dikalahkan oleh emosi”. Pernyataan inilah yang jadi dasar anak-anak muda nakal itu membullly Buya. Mereka memaksa supaya Buya satu pendapat. Emangnya nenek loh!

Intinya, Buya hanya ingin menyampaikan keprihatinan atas ketidakwarasan warga negeri ini yang mudah dipecah belah persaudaraan dan persatuannya.  “Masyarakat kita ini begitu sadis. Semestinya kita berlapang dada lah karena proses hukum sudah berjalan, kita hormati saja. Dan Ahok mengatakan, kalau dia bersalah siap dipenjara, kan bagus tu sudah,” jelas Buya. 

Karena itulah, kepada Zuhari Misrawi, Buya menelpon dan mengatakan, “dalam kondisi seperti ini, saya rindu Gus Dur.” Tweet lain menyebut: Buya Syafii itu Gus Dur nya Muhammadiyah, dan Gus Dur itu Buya nya NU. Demikian tulis Akhmad Sahal di twitternya.


Tweet lain yang mendukung meyakini tidak ada kepentingan apapun dalam pernyataan Buya Yahya yang sudah 81 tahun itu. “Buya Maarif insyaallah konsisten. Bukan hanya soal ini saja keberpihakannya pada Indonesia. Ingat tahun 2015 saat KPK kritis?” tulis Allisa Wahid.


Tapi, santri-santri Buya malah nakal-nakal. Yang mendukung Buya justru santri-santri Gus Dur yang sudah terlatih menghargai perbedaan dalam persaudaraan. 

“Orang tidak boleh berlaku tidak adil kepada orang yang kita benci dan kita musuhi. Kita bersaudara dalam perbedaan untuk menjaga persatuan,” itu pesan Buya kepada bangsa Indonesia di akhir acara ILC tadi malam. Tapi sayang, kader nya sudah meninggalkan pesan persatuan ini. "Maaf, Anda Bukan Buya Kami Lagi." Su'ul adab tenan! [dutaislam.com/ ab]



Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: