Yang tidak Ikut Demo Berarti tidak Bela Islam?

;
Yang tidak Ikut Demo Berarti tidak Bela Islam?
MusliModerat.net - Yang pasti, dua kubu baik yang pro maupun kontra atas aksi demo, ada jejeran ulama di masing-masing pihak. Tidak seyogyanya para pegiat demo itu mengatakan yang tidak demo tidak bela Islam. Juga tidak seyogyanya yang tidak ikut demo menghakimi para pendemo sebagai perusak Islam. Karena sikap yang diambil kedua pihak masih dalam koridor manut ke ulama.
Lain ceritanya jika manutnya ke hawa nafsu, baik yang pro dan kontra tentu sama-sama keliru. Keduanya akan berpotensi saling memprovokasi yang hasil ujungnya akan menyalahkan dan merendahkan status ulama. Jika umat tidak percaya lagi kepada seruan ulama, justeru inilah yang menjadi ujung pangkal kegagalan (baca; keruntuhan) suatu negara. Sebagaimana yang terjadi di banyak negara Islam.

Berpatokan pada salah satu dawuh Mbah Moen, dan mayoritas Kiai sesepuh NU, bahwa "Ikut NU berarti ikut ulama."
Di sini kita akan bertanya, sebenarnya apa yang dimaksud ulama? Dalam term Fiqih dikenal dengan istilah ijtihad ulama. Karena ijtihad, maka yang melakukan disebut Mujtahid. Siapa yang boleh melakukannya (ijtihad)? Tentu ulama yang Mujtahid. Siapa saja? NU berpegang pada 4 ulama (imam) Mujtahid, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hanbali. Jadi merekalah yang secara individu kita sebut sebagai ulama. Kriteria "ulama" sangat ketat karena harus menguasai seluruh bidang dalam syariah (Islam).
Masa Nabi, masa sahabat dan masa imam Mujtahid sudah tidak ada, lalu kepada ulama siapa kita ikuti? Jawabannya tetap kepada ulama, yakni ulama kolektif. Karena kolektif maka melibatkan banyak pihak ulama. Kesepakatan mereka disebut ijma'. Masing-masing ulama memiliki penguasaan pada bidangnya yang berbeda. Jika dikumpulkan (diijma'kan) maka sama halnya dengan mengikuti Nabi, para sahabat dan para imam mujtahid, karena menjadi satu paket yang utuh (syumul) dan tak terpisahkan.

Maka tak heran jika dawuh Mbah Moen, "Ikut NU berarti ikut ulama," karena NU adalah gudangnya ulama kiai dengan beragam penguasaannya di bidang agama (syariat Islam) yang jika disatukan dalam wadah "NU" menjadi satu kesatuan utuh. Kekuatannya, suaranya, fatwanya, menjadi sah dan tak ragu lagi jika kita sebut sebagai "ulama yang harus dipanuti."
Di Indonesia, bahkan di dunia, ormas Islam terbesar adalah NU dan Muhammadiyah. Keduanya tidak mendukung adanya aksi demo. Jadi jangan salahkan siapa-siapa selain dirimu sendiri jika masih ada yang meragukan pembelaanmu terhadap Islam datang dari orang-orang yang tidak ikut demo selagi kamu masih beranggapan "yang tidak ikut demo berarti tidak bela Islam"!

Oleh Ustadz IBJ


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: