Selasa, 18 Oktober 2016

Tajul Husna, Anggota Banser Tertua dan Terlama

Tajul Husna, Anggota Banser Tertua dan Terlama
MusliModerat.Com | Tajul Husna merupakan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) tertua Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Pria ini lahir 6 Juni 1927, setahun setelah organisasi induk Banser, NU, berdiri. Sejak usia 10 tahun, sampai saat ini ia masih aktif di Banser. Keaktifannya, dibuktikan dengan mendapat piagam penghargaan anggota GP Ansor termuda pada 31 Januari 1937.

Pria yang akrab disapa Mang Ena ini tinggal di sebuah gubuk lapuk di Kampung Leuwigeunta Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya. Di gubuknya, seragam Banser tergantung di sudut ruangan. Seragam itu, kalau ada acara NU atau GP Ansor, langsung dikenakannya. Lalu berangkat naik sepeda ke tempat acara.

Ya, Mang Ena semakin tua makin menjadi. Ia tak bosan bergaul dan mengikuti kegiatan Banser dan NU. Usia tak menyurutkannya berada di barisan depan organisasi yang dilahirkan para ulama Ahlussunah wal-Jama’ah tersebut. 

Ketika ditanya kenapa tak bosan di NU, ia menjawab karena yakin di NU bakal selamat dunia akhirat. Bagi dia, masuk Banser berarti menjadi benteng para ulama. Dan ulama adalah pewaris para nabi. 

Kecintaannya pada organisasi itu, ia rela meninggalkan pekerjaan berjualan tikar demi mengikuti acara-acara NU. Ikut kegiatan tak hanya di Tasik, tapi mulai dari Jakarta sampai Surabaya. Jika tak punya uang, mengikuti kegiatan NU dengan sekalian membawa tikar dijual di cara tersebut.

"Pernah icalan dugi ka Jakarta. Pami ayeuna mah seringna keliling di Tasik," kata Ena, Ahad (15/10).

Tiga puluh tahun Mang Ena jualan tikar di Jakarta. Namun tugas sebagai Banser tak dilupakan. Jika ada acara NU di Jakarta, Mang Ena turut gabung sebagai Banser. Maka tak heran, pengalamannya lintas kota dan provinsi.

Saking aktifnya, Mang Ena pun kerap dimarahi orang tua dan istri karena terlalu mementingkan tugasnya sebagai Banser dibanding jualan tikar. Namun menurut dia cukup dijawab dengan senyuman saja karena ujian mendapat bekal akhirat banyak tantangan.

Kini sudah dua bulan Mang Ena terbaring sakit. Berjalan pun dibantu dengan tongkat. Akan tetapi, semangat ingin kembali menjaga kegiatan acara NU terus menggebu. Salah satunya ketika dikunjungi NU Online, ia lalu menanyakan, kapan ada acara NU.

"Harus istiqomah dalam menjaga ulama. Jangan takut oleh siapa pun ketika ada orang yang telah menghina ulama, Banserlah yang harus terdepan membela dan menjaga ulama dari orang-orang yang ingin menghancurkan NU, umumnya Indonesia," pesan Mang Ena. (Nurjani/Abdullah Alawi/NU Online)
Advertisement

Advertisement