Minggu, 23 Oktober 2016

Khutbah Politik di Masjid Pertama Kali untuk Melecehkan Sayyidina Ali

Khutbah Politik di Masjid Pertama Kali untuk Melecehkan Sayyidina Ali
MusliModerat.Com - Sampai sekarang saya kok lebih nyaman mendengar khutbah Jumat mengenai akhlak, pembenahan ruhani, & introspeksi diri dan beberapa tema yang menganjurkan menengok ke dalam diri secara lebih jernih. Ini gaya kiai-kiai kampung yang sederhana dan tidak muluk-muluk. Saking nyamannya kerap membuat jamaah terlelap. Penderita insomnia dijamin sembuh sebentar.

Kalau di kota, khususnya Surabaya dan kota besar lain, saya beberapa kali menjumpai khutbah agak keras. Mungkin karena pengetahuan khatibnya yang kosmopolit dan jamaah jumat yang plural-multikultural sehingga bahasan khutbahnya pun lebih realistis dengan pembahasan sosial-politik. Kalau begini biasanya jamaah jarang terlelap. Namun dampaknya, khutbah mirip orasi politik yang meminggirkan etika berkhutbah. Kata-kata yang terlontar bahkan lebih mirip provokasi.

Akhirnya, terserah kita punya kecenderungan yang mana. Meskipun dari sini sudah bisa terlihat apabila khutbah yang menggebu-gebu mirip provokasi lebih mirip penyaluran rasa frustrasi SEBAGIAN kecil umat Islam atas problem yang terjadi dan BUNTUNYA saluran politik yang dipunyai.
Ah, tiba-tiba saya ingat manakala--kabarnya--di era kekuasaan awal Dinasti Umayyah, khutbah Jum'at menjadi ajang pelecehan atas pribadi dan kemuliaan Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah. Beginilah kalau politik digeret ke wilayah agama. Sakralitas menjadi banal dan profan. Kelak, karma berlaku, di era kekuasaan mereka, muncul sosok misterius yang mengibarkan panji hitam dengan sorak sorai bergemuruh. Dia memperkenalkan diri sebagai Muslim ibn Muslim Abul Muslim (seorang Islam yang merupakan anak dari orang Islam dan bapak orang Islam). Kita mengenalnya sebagai Abu Muslim al-Khurasani: propagandis ulung nan kharismatik. Dia menjadikan khutbah Jumat melalui agen-agennya sebagai ajang propaganda anti pemerintah Umayyah. Orasi politiknya yang memukau, membuat Abu Abbas Assafah--khalifah awal Dinasti Abbasiyah-- terpesona dan menjalin koalisi. Duet maut yang meruntuhkan anak cucu Umayyah.

Kelak, nasib Abu Muslim tak kalah tragis. Abu Ja'far al-Mansur, pengganti Abu Abbas, mengundangnya ke istananya, mempersilahkan masuk ke ruangan pribadinya, lalu memerintahkan pengawal menutup pintu dan mengeksekusi Abu Muslim. Jenazahnya dibuang ke sungai. Tragis.
Jangan mempermainkan khutbah. Ini yang hendak saya sampaikan, wahai sahabat Kiswinar yang zuperrr! Jika tetap mempermainkan dengan cara yang serius, saya khawatir bakal lebih banyak umpatan setelah khutbah berakhir, sebagaimana dalam salah satu khutbah menjelang Pemilu 2014, saat teman saya malah sumpek setelah Jumatan, "Khotib t*ek, aku datang Jumatan biar ayem di mesjid, pengen menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuk politik, eh khotibnya malah bahas Jokowi musuh Islam. Parah!."

Rijal Mumazziq Z

Advertisement