Duka Santri Langitan Menjelang Hari Santri Nasional

;
Duka Santri Langitan Menjelang Hari Santri Nasional
Oleh Fathoni Ahmad

MusliModerat.Com | Setelah tragedi tenggelamnya 5 santri di Sungai Pemali Kabupaten Brebes, Jawa Tengah di momen Idul Adha pada 12 September 2016 lalu saat mencuci jeroan hewan kurban, kini musibah serupa menimpa 25 santri Langitan, Tuban, Jawa Timur. Mereka hanyut di Sungai Bengawan Solo setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik.

Tragedi ini terjadi pada Jumat (7/10/2016) pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Tercatat 18 santri selamat dan 7 santri tenggelam. Informasi terakhir menyebutkan, 6 santri berhasil ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia, sedangkan seorang santri lagi sedang dalam proses pencarian. 

Peristiwa ini bukan hanya mendatangkan isak tangis dari ribuan santri di Langitan, tetapi juga mendatangkan duka dan simpati dari para santri di seluruh penjuru negeri. Betapa tidak, perjuangan santri dalam menuntut ilmu dalam rangka tafaqquh fiddin kerap kali harus dijalani dengan tangguh sebagai potret bangsa pejuang sejak dulu. 

Mereka seolah tak gentar dan tidak kenal takut apalagi khawatir terhadap potensi bahaya di depan matanya. Aliran deras Sungai Bengawan Solo di Widang, Tuban yang sedang pasang saat itu tidak menyurutkan langkah 25 santri. Mereka bermaksud memanfaatkan waktu libur ngaji untuk berkunjung ke Pasar Babat Lamongan untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari. 

Jika diperhatikan, tentu masyarakat tidak habis pikir mengapa hanya untuk membeli bahan kebutuhan pokok sehari-hari saja sampai harus menyeberang derasnya Bengawan Solo. Pertanyaan ini penting untuk memperoleh sebuah alasan logis. 

Namun, para santri dan masyarakat akan jauh lebih bermanfaat jika mengambil pelajaran dari sisi perjuangan para santri tersebut. Apalagi di momen penting menjelang Hari Santri Nasional 22 Oktober 2016 mendatang. Perjuangan 25 santri Langitan patut dikenang oleh masyarakat dan santri di seluruh Nusantara.

Keputusan santri untuk tetap menuju pasar membuktikan bahwa santri sejak dulu tidak tercerabut dari akar budaya masyarakatnya. Kenapa? Karena mereka tetap menghidupkan pasar ketimbang minimarket yang rambahannya kini telah sampai ke desa-desa. Hal ini bukan berarti santri anti terhadap kemajuan pasar, tetapi di pasar tradisional-lah mereka akan tetap menjadi santri. 

Pemahaman mengenai potensi bahaya arus dan pasang sungai, memang tidak pernah mereka mengerti. Santri berpikir bagaimana mereka tetap bisa menuntut ilmu dengan barang-barang kebutuhan pokok yang mereka beli di Pasar Babat yang berada di Dusun Bubulan, Desa Banaran, Kecamatan Babat, Lamongan.

Pandangan mereka luas, seluas lebar Sungai Bengawan Solo yang mencapai sekitar 100 meter. Lebar Bengawan Solo di Widang lebih dari 100 meter. Sungai itu memisahkan wilayah Tuban dan Lamongan. Pemikiran mereka juga mengalir deras, sederas sungai yang mereka lintasi saat itu. 

Namun apa daya, sikap sami’na waatho’na mereka kepada sang pengendali perahu bernama Markat (61 tahun) yang berasal dari Dusun Slawe, Desa Ngadirejo, Kecamatan Widang itu harus terbayar dengan kepedihan. Perahu berukuran kecil yang mereka tumpangi njempalik (terbalik), tidak kuat memuat beban sebanyak 25 santri. 

Konsekuensi logis itu harus dibayar dengan tragedi dan pilu. Tetapi, santri tetaplah santri, salah satu elemen penting bangsa yang mempunyai sejarah panjang dalam pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia ini senantiasa memiliki karakter juang tak kenal henti dalam kondisi apapun. 18 santri selamat di tengah derasnya aliran Bengawan Solo membuktikan arti perjuangan tak kenal lelah dalam kondisi sulit. 

Tulisan ini sesungguhnya bukan bermaksud mendramatisir peristiwa. Tetapi lebih pada memahami sisi lain dari sebuah kejadian yang tidak harus selalu dipahami secara kasat mata saja. Karena hal ini bisa menjadikan pelajaran yang kabur dari sebuah peristiwa yang memerlukan penggalian mendalam dari perjuangan belasan santri yang berhasil dan selamat.

Sikap apresiatif juga perlu diberikan kepada Pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban KH Ubaidillah Faqih yang secara tulus, ikhlas, dan penyesalan begitu mendalam langsung memohon maaf kepada seluruh keluarga korban. Hal itu dilakukan Kiai Ubaidillah Faqih sesaat setelah memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Afiq Fadil asal Desa Bulakparen, Kecamatan Bulukamba, Kabupaten Brebes dan jenazah Moh Barikly Amry asal Laren, Kecamatan Manyar, Gresik. 

Ribuan santri Langitan tidak mampu membendung air mata mereka ketika 2 jenazah yang berhasil diketemukan terlebih dahulu itu dibawa pulang ke kampung halamannya masing-masing menggunakan mobil ambulans setelah dishalati. Penghormatan terkahir juga diberikan oleh segenap pengurus dan abdi dalem pondok pesantren Langitan. 

Kalangan santri tidak pernah lepas dari pola pandangan tafaqquh fiddin. Mereka meyakini bahwa para korban meninggal secara syahid dan akan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Karena mereka mengakhiri hidupnya ketika sedang memenuhi kebutuhan dalam menuntut ilmu di jalan-Nya. Semoga. 

Penulis adalah Pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta[NU Online].


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: