Demo, Meneladani kaum Khawarij untuk Menggulingkan Pemerintah

;
Demo, Meneladani kaum Khawarij untuk Menggulingkan Pemerintah
MusliModerat.Com | Dan hal penting bagi kita adalah janganlah kita berpecah-belah. Karena jika sudah mulai banyak perpecahan dan perselisihan pendapat maka kehancuaran akan datang kepada umat Islam. Namun jika banyak yang mengalah maka Islam akan semakin meluas. Disebutkan dalam riwayat Shahih Bukhari bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika dihujat oleh Khawarij beliau berkata: “Putuskanlah apa yang hendak kalian putuskan, karena aku membenci perpecahan dan perbedaan pendapat, aku menginginkan persatuan. Dan jika tidak maka aku lebih memilih untuk wafat menyusul para sahabatku.” Dan itulah awal sejarah demo yang banyak terjadi di zaman sekarang ini, maka janganlah menjadi pengikut ajaran orang-orang yang mendemo Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Kemudian Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib Kw. ketika menerima khilafah setelah ayahnya wafat, maka khilafah pun ia serahkan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan demi menghindari perpecahan diantara kaum muslimin. Maka dalam hal ini Sayyidina Hasan lebih memilih untuk mengalah dan menyerahkan kekuasaan demi menjaga agar tidak terjadi pertumpahan darah diantara kaum muslimin.

Kemudian Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib Kw. yang datang untuk memenuhi undangan. Namun setelah beliau tiba di Karbala, disampaikan kepada Yazid bin Mu’awiyah bahwa Sayyidina Husain datang untuk berperang dan merebut kepemimpinan. Sungguh sebuah kedustaan yang nyata, karena jika Sayyidina Husain datang untuk berperang atau untuk merebut kepemimpinan maka beliau tidak akan membawa serta istri dan anak-anaknya serta keluarganya bersamanya. Sehingga Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib dibantai di padang Karbala.

Dan sampai pada keturunannya, al-Imam Ahmad al-Muhajir, dimana ketika di Baghdad banyak terjadi khilaf, pecah-belah dan perebutan kekuasaan, maka al-Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir bersama keluarganya pindah ke Tarim Hadhramaut. Karena di daerah tersebut ada penguasa Tarim seorang muslim yang membela Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dan banyak orang yang mengecam al-Imam Ahmad al-Muhajir, sehingga ada seorang alim yang bermimpi Rasulullah Saw. dan ia berkata: “Wahai Rasulullah, al-Imam Ahmad telah meninggalkan kami dan pindah ke Hadhramaut, sedangkan kami berada dalam pertikaian dan perselisihan.” Maka Rasulullah Saw. menjawab: “Aku gembira dengan apa yang telah diperbuat oleh Ahmad bin Isa.”

Sehingga al-Imam Ahmad menetap di Hadhramaut dan terus memiliki keturunan hingga sampai pada masa al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi. Beliau mematahkan pedangnya di hadapan keluarga dan para sahabatnya seraya berkata: “Keluargaku dan para sahabatku serta orang-orang yang mengikutiku, sejak saat ini aku tidak lagi akan berdakwah dengan kekerasan.”

Oleh sebab itu jalan dakwah para habaib adalah dengan kedamaian. Sehingga dari Hadhramaut muncullah para penyeru ke jalan Islam menuju Gujarat yang akhirnya sampai ke pulau Jawa. Mereka datang dengan jalan kedamaian seperti yang dicontohkan oleh para leluhurnya. Dan kita kenal 9 orang yang berhasil menyebarkan Islam di Nusantara ini, mereka tidak memiliki pasukan, senjata atau kekuatan lainnya. Namun mereka dapat menyebarkan Islam di segala penjuru nusantara sehingga penduduk Indonesia mengenal kalimat “Laa ilaaha illaa Allah”, dan jadilah Indonesia ini negara muslimin terbesar di dunia, karena kedamaian yang disebarkan melalui para penyebar dakwah di tanah air.

Agama Islam adalah agama kedamaian, dan nabi Muhammad Saw. adalah manusia yang paling menyukai kedamaian dan paling berlemah-lembut dari segala makhluk Allah Saw., bahkan lebih lembut dari malaikat. Ketika Malaikat Jibril melihat Nabi Muhammad Saw. disiksa dan dianiaya oleh penduduk Thaif dengan melempari kaki beliau Saw. dengan batu, ketika terjatuh beliau disuruh untuk berdiri dan kemudian kembali dilempari dengan batu. Namun demikian beliau Saw. berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku mengadukan kepadaMu kelemahan upayaku, dan kurangnya usahaku, dan hinanya aku di kalangan manusia. Wahai Yang Maha Mengasihi, Engkaulah Tuhan golongan yang lemah, dan Engkaulah Tuhanku, kepada siapa Engkau serahkan aku. Jika Engkau tidak murka kepadaku maka aku tidak peduli.”

Dan beliau Saw. berdoa: “Wahai Allah berilah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Penduduk Thaif yang menyakiti dan menyiksanya, justru beliau anggap sebagai kaum beliau Saw. dan didoakan agar diberi hidayah oleh Allah Swt. Demikianlah kelembutan makhluk yang paling berlemah-lembut sehingga Malaikat Jibril datang dan berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanalah malaikat penjaga gunung itu mengangkat gunung tersebut dan menjatuhkannya di atas Thaif.” Namun Rasulullah Saw. berkata: “Jangan, biarkan mereka hidup jika bukan mereka yang mendapat hidayah dan beriman, barangkali keturunan mereka kelak yang akan beriman.” Demikianlah indahnya budi pekerti Sayyidina Muhammad Saw. (Al-Habib Mundzir bin Fuad Almusawa/muslimedianews).


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: