Akhlak Ulama NU, Selalu Menolak Jadi Pemimpin

Akhlak Ulama NU, Selalu Menolak Jadi Pemimpin
MusliModerat.Com | Pada Muktamar ke-24 NU di Bandung, Jawa Barat, KH Bisri Sansuri berhasil mendapatkan suara terbanyak dalam pemilihan Rais ‘Aam PBNU mengungguli KH Wahab Chasbullah.

Muktamar pada Juli 1967 tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tertinggi ditolak Kiai Bisri. Ia menyerahkannya pada Kiai Wahab. Sementara Kiai Wahab juga merasa tidak berhak karena Kiai Bisri yang mendapatkan amanat muktamirin. Kedua tokoh tersebut saling menolak jabatan. 

Kiai Bisri tetap bersikeras menolak menjadi Rais ‘Aam selama ada Kiai Wahab yang lebih sepuh, merupakan kakak ipar, serta sahabat karibnya. Dengan demikian, Muktamar akhirnya memilih Kiai Wahab. Ketika Kiai Wahab wafat pada tahun 1971, Kiai Bisri baru bersedia menggantikannya.

Jauh sebelumnya, Kiai Wahab juga menolak menjadi Rais Akbar NU ketika Hadrotusyekh KH Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 1947. Ia mau menggantikannya dengan catatan, tidak Rais Akbar, tapi Rais ‘Aam. Rais Akbar baginya, hanya cocok disandang mahagurunya itu. 

Pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, pada tahun 2015, terjadi pula penolakan jabatan Rais ‘Aam meskipun sudah ditetapkan muktamirin. Kali ini KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang melakukannya. (Abdullah Alawi/NU Online)  


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: