Perjalanan Cinta Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah

Perjalanan Cinta Gus Dur dan Ibu Sinta Nuriyah
Oleh : Muhammad Faishol*
MusliModerat.Com | Bercerita tentang sosok Gus Dur memang tidak ada habisnya. Ya, mulai dari saat masih aktif di Nahdlatul Ulama, tatkala menjadi presiden, memimpin partai politik dengan segala sisi-sisi kontoversialnya, konsistensinya dalam memperjuangkan kemanusiaan, hingga kisah cintanya pun rasanya tidak pernah bosan untuk dinikmati. Mungkin rasa candu itu bisa diibaratkan layaknya segelas kopi hitam yang harus tersedia di pagi hari bagi para penikmatnya. 

Membincang kisah romantisme Gus Dur dengan Sinta Nurya Dewi ternyata tidak semudah seperti anak muda di zaman ini yang bisa dibeli hanya dengan sekuntum bunga mawar. Bagaimana tidak sulit? Lah wong Gus Dur sering ditolak kok sama Bu Sinta. Ah, masa seorang cucu pendiri NU, anak dari Mantan Menteri Agama bisa ditolak cewek? Hehe, begini ceritanya, romantisme jalinan cinta ini berawal dari sebuah pesantren di Jombang tempat Sinta Nuriya Dewi menuntut ilmu. Gus Dur muda yang saat itu menjadi guru sudah berani melamar Sinta yang masih berumur 13 tahun. Lah merasa masih sangat belia, kontan rasa cinta Gus Dur  ditolak oleh Sinta.

Gus Dur segera meminang Sinta sebab dia akan pergi lama ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Gus Dur melakukan pendekatan intensif, berbagai strategi pun dia coba. Mulai dari main catur dengan ayah Sinta, kemudian berlanjut melakukan ‘PDKT’ ke Ibunya, ke nenek, baru setelah itu ke Sinta langsung. Jadi, ibarat bus, kisah cinta Gus Dur ini harus melewati beberapa terminal pemberhentian. Namun berbagai usaha keras ini ternyata tidak juga menaklukan hati Sinta.

Sering mendapat penolakan, tidak juga membuat Gus Dur putus asa. Sebelum berangkat ke Mesir, Gus Dur melakukan strategi selanjutnya, seorang teman ia suruhlah mengantar surat yang isinya kurang lebih apakah Sinta bersedia menjadi istrinya. Si pengantar surat ini menunggu lama untuk mendapatkan jawaban dari Sinta yang kala itu sudah berumur 14 tahun. Sinta muda bimbang, mau menolak secara terang-terangan tapi dia juga sadar bahwa Gus Dur adalah gurunya. Sehingga, alasan inilah yang membuat Sinta sedikit sungkan. Namun karena kejeniusannya, Sinta membalas surat tersebut dengan jawaban yang diplomatis. Dia menulis bahwa jodoh, hidup, dan mati seseorang itu ada di tangan Tuhan, kalau kita berjodoh, meski berjauhanpun nanti suatu saat juga akan dipertemukan, namun tatkala tidak berjodoh , meski dekat juga tidak akan bertemu.  Dengan jawaban ngambang itulah akhirnya Gus Dur pergi ke Mesir tentu dengan perasaan sedih.

Singkat cerita, di Mesir Gus Dur terlampau sibuk berorganisasi hingga kulianya pun berantakan. Selain itu, mata pelajaran disana kurang begitu cocok dengan Gus Dur, pasalnya, materi yang di ajarkan sudah ia pelajari sebelumnya di Indonesia tatkala ia masih menjadi seorang santri. Akhirnya 2 tahun itu Gus Dur tak selesai kuliah, lalu pindah ke Irak. Selama di Mesir itulah Gus Dur dan Sinta saling mengirim surat. Kegiatan ini berlangsung hingga Gus Dur pindah ke Irak.

Lambat laun, surat-surat yang dikirim Gus Dur itu akhirnya mampu mengetuk hati Sinta. Dalam surat balasannya, Sinta menulis Anda sudah berhasil menumbuhkan benih cinta di hati saya. Kontan hal ini membuat Gus Dur kembali sumringah. Begitu dapat surat itu tidak berapa lama keluarganya melamar. Akhirnya, 11 Juli 1968 pernikahan keduanya dilangsungkan. Gus Dur yang saat itu masih di Irak meminta agar diwakilkan  oleh kakeknya Kiai Bisri Syansuri yang berusia 68 tahun. Kontan meskipun sudah resmi menikah Gus Dur dan Sinta harus menunggu 3 tahun untuk melaksanakan bulan madu, ya nunggu Gus Dur pulang baru bisa merasakan indahnya malam pertama.

Saat sudah kembali ke Indonesia, Sinta Nuriya Dewi pernah ditanya oleh salah satu media nasional. Bu, pengalaman apa yang paling romantis saat hidup dengan Gus Dur? Sinta menjawab, salah satu momen yang tidak pernah bisa dilupakannya adalah saat masih tinggal di Jombang, Jawa Timur.

Pada suatu hari, sekitar tahun 1970, Gus Dur dan Sinta sedang pergi berdua naik becak. Di tengah perjalanan ternyata turun hujan, meskipun tidak begitu deras, si pengemudi berinisiatif menutup seluruh tempat penumpang dengan plastik yang memang disiapkan untuk menghadapi hujan seperti becak kebanyakan. Bukan hanya bagian depan, sisi samping dan belakang juga ditutup dengan plastik warna transparan. Tiba-tiba, di tengah jalan, Gus Dur mencium Sinta. Sontak, mendapati ciuman kasih sayang tersebut, mantan ibu Negara kelahiran 8 Maret 1948 itu bereaksi. Kepada Gus Dur, Sinta mengingatkan, ada tukang becak tepat di belakang mereka yang mungkin saja bisa melihat. Apa jawaban Gus Dur? ”Biar saja, biar dia kepengin juga,”. hehe

Selamat Ulang Tahun Gus Dur, 7 September 1940 engkau dilahirkan di dunia, dan menghembuskan nafas terakhir pada 30 Desember 2009 lalu,namun ajaranmu tetap hidup di sanubari kami sampai kapanpun.

*Penulis adalah mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini sebagai Chief Editor di Media Santri NU (MSN) / mediasantrinu.com, Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Santri Sabilurrosyad Gasek Malang



Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: