Menonton Pertandingan Politik Pilkada DKI

;
Menonton Pertandingan Politik Pilkada DKI
MusliModerat.Com | Start pilkada segera dimulai. Tiga kontestan telah tersedia; Ahok-Jarot, AHY-Syilviana, Anis-Sandi.
Dua pasang penantang Ahok ini pasti menimbulkan rasa tidak puas dan perpecahan baru bagi lawan-lawan Ahok.

Kubu Yusril yang sudah berharap besar, juga kubu Rizal Ramli yang sudah demikian hebat tebar pesona. Akhirnya terjungkal sebelum kontestasi berlangsung.

AHY, yang saat ini berpangkat Mayor TNI. Sekelas komandan Batalyon, menjelang penempatan sebagai Dandim. Sosok ini nyaris tidak ada pengalaman teritorial. Dengan modal anak pertama mantan Presiden ke 6, wajah rupawan sehingga sebagian orang menyebut ksatria muda penuh harapan.
Agus Yudhoyono, seolah dimunculkan sebagai pemecah kebuntuan dan kefrustasian dalam melawan Ahok.

Dalam pemikiran SBY, diyakini ada dua kepentingan;
Pertama: SBY ingin mengulang suksesnya di 2004 ketika pertama kali jadi Presiden. Ibu-ibu Indonesia diyakini akan gemes dan langsung jatuh hati bila melihat ada jago yang klimis dan ganteng.
Atas dasar inilah SBY ingin melatih pengalaman AHY untuk menjajagi dunia politik Indonesia. DKI Jakarta adalah kawah candradimuka sebelum bertarung menjadi Presiden. Kalah menang adalah perjudian, dan pilkada 2017 ini bak meja rolet yang siap mengagungkan para pelaku judi, sekaligus siap membuat bangkrut para pemain judi disini.
Kedua: SBY sesungguhnya menjadikan momentum pilkada DKI untuk segera menyiapkan putra mahkota yang bersiap menjadi orang nomor satu di Partai Demokrat. Sebab, Ibas sudah sulit diharapkan dengan segala kelemahannya. SBY sudah berhitung, perlu segera menyiapkan jagoan sebagai pelapis kekuasaan dirinya.
Buat SBY, momentum ini penting agar SBY secepatnya punya cadangan kekuatan dalam melanjutkan trah politiknya di Indonesia.
Kalau tidak jadi, paling-paling besok nyaleg di Pacitan dan akan jadi anggota DPR RI, sekaligus menjabat ketua Partai Demokrat.

PILIHAN TEPAT PRQBOWO, Tapi?
Anis-Sandi, sesungguhnya cocok bila disandingkan melawan Ahok-Jarot. Jargon sebagai manusia-manusia terdzolimi, bakalan cocok untuk membungkus isu kampanye sebagai pembela rakyat miskin yang digusur dan terdzolimi oleh Ahok.
Anis yang diberhentikan oleh Jokowi, dipandang akan memiliki kekuatan simpul media dan aktivis yang tidak main-main. Bahkan Tempo sudah bersiap membombardir Ahok-Jarot agar bisa dilengserkan oleh pasangan Anis-Sandi.
Soal simpul gerakan dan media, termasuk pendanaan sudah buka masalah.
Namun apalah artinya bila konsentrasi musuh-musuh Ahok hari ini kepecah. Terlihat dari surat pamitnya Yusril, diamnya RIzal Ramli, juga yang paling marah dengan kondisi ini adalah Mbak Ratna Sarumpaet.
"Hati hancur rasanya dengar kbr calon dari Gerindra & PKS: Anies Baswedan. Kok Gerindra lupa siapa Anies? Ini gila.

SBY memang selalu cuma mikirin dirinya dan dia Neolib. Tapi kenapa Gerindra dan PKS ikut2an gak buka mata? Dua pasang saja sudah salah. Apalagi dua pasang tak bermutu n tidak nendang. RS."
Ucapan diatas adalah asli ucapan Mbak Ratna yang dicopas dari group sebelah.
Betapa lemahnya musuh-musuh Ahok. Betapa mudahnya mereka memecah diri mereka sendiri.
Pagi ini kita mendapat pelajaran politik setara 4 SKS.

Betapa permainan politik itu cair, betapa politik itu bukan ajang persaudaraan dan persahabatan, bahwa politik itu kepentingan dan ego bagi masing-masing pihak itu benar adanya.
Bersenang-senanglah kita semua selaku penonton pertandingan politik di Indonesia ini. Mari bersorak dan berteriak selagi kita mampu.
Tak lupa silahkan caci maki dan juallah agama dan akhlak kita, bila kita tidak takut dosa dan bakal tergelincir dalam permusuhan.


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: