Minggu, 11 September 2016

Memahami Islam Nusantara ala Kiai Sholeh Bahruddin

Memahami Islam Nusantara ala Kiai Sholeh Bahruddin
Muslim Al-Faqoth*

“Wali songo iku wali tanah jowo,        ***       Merjuangno agomo nuso lan bongso,
Pondok Ngalah ala Sunan Kali Jogo,  ***       Ngelestarekno agomo lewat budoyo”

            MusiModerat.Com | Dengan merenungi potongan Syair Kagem Romo Kyai diatas, tentu kita akan menyadari bahwa konsep Islam NUsantara bukan merupakan discovery. sebab sejak didirikan 1985 Pondok pesantren Ngalah telah mengimplementasikan konsep tersebut. Akan tetapi pertama kali term ini dikenalkan adalah pada saat menjelang muktamar NU ke-33 Jombang Jawa Timur (Sindo: 2015). Menurut KH Soleh Bahrudin (2016) dalam pengajian kitab tafsir: Islam Nusantara secara sosiocultural adalah Islam ala wali songo adapun secara sosiostruktural Islam Nusantara merupakan islam ala NU. Metode amaliayah yang dipakai WaliSongo adalah metode tanpa kekerasan dengan gaya implementasi dakwahnya merangkul tidak memukul, memberi tidak membenci, membina tidak menghina, mengajak tidak mengejek, mencari kawan tidak mencari lawan. Hal ini senada dengan pendapat sudirman (2007) dalam bukunya wajah Islam ramah. Menurut Sudirman, Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun  penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Nusantara justru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama, terutama kalangan sufi, Karena memang  para ulama berpegang teguh pada prinsip alqur’an Q.S Al-Baqarah 256 yang artinya “Tidak ada paksaan dalam agama”.

            Dari pandangan NU, konsepsi “Islam Nusantara” mengacu pada fakta sejarah betapa dakwah Islam di Nusantara tidak dilakukan dengan menghilangkan budaya setempat, melainkan justru dengan merangkul dan menyelaraskannya dengan Islam (Sahal: 2015). NU bertekad mempertahankan Islam Nusantara yang berciri toleran, moderat dan damai, namun dari pandangan kontra, “Islam Nusantara” dianggap sebagai bermuatan primordial, anti arab bahkan dituduh sebagai strategi baru dari JIL, Barat, Zionis, dan semacamnya (Munawir: 2015).

            Ada beberapa asumsi metode dakwah Islam Nusantara menurut Kiai Soleh (1) metode Wali Songo yakni dakwah tanpa kekerasan  dengan (2) gaya implementasi dakwahnya (a) merangkul tidak memukul, (b) memberi tidak membenci, (c) membina tidak menghina, (d) mengajak tidak mengejek, (e) mencari kawan tidak mencari lawan. Asumsi  Pertama menurut Kiai Soleh adalah Metode WALI SONGO yakni dakwah tanpa kekerasan. sebagaimana Hasil Bahtsu masail PWNU Jatim tentang Islam Nusantara (2016): menyebutkan Bahwa Metode dakwah Islam Nusantara yang ramah, santun dan penuh hikmah, setidaknya meliputi metode dakwah Islam Nusantara masa Walisongo dan masa kekinian. Metode dakwah Islam Nusantara pada masa Walisongo sebagaimana tergambar dalam Ahla al-Musamarah fi al-Auliya' al-'Asyrah yang antara lain dengan:
a.      Pendidikan: pendidikan agama Islam yang kokoh meliputi syariat, tarekat, dan hakikat sebagaimana pendidikan yang dilangsungkan oleh Sunan Ampel.

b.      Kaderisasi: menghasilkan generasi penerus yang konsisten menjalankan syariat, riyadhah, dan menjauhi segala kemungkaran, sehingga mampu menjadi pimpinan yang mengayomi sekaligus disegani di tengah masyarakatnya dan mampu mengajaknya untuk memeluk agama Islam, seperti halnya yang dilakukan oleh Sunan Ampel dan Pamannya, Maulana Ishaq dalam mendidik anak-anak dan murid-muridnya.

c.       Dakwah: konsistensi menjalankan dakwah yang ramah dan penuh kesantunan sebagaimana dakwah Walisongo sehingga menarik simpati dan relatif diterima masyarakat luas.
d.      Jaringan: jaringan dakwah yang kokoh, sistematis, dan terorganisir, penyebaran murid-murid Sunan Ampel. Sunan Bonang di Lasem dan Tuban, Sunan Gunungjati di Cirebon, Sunan Giri di Tandes, Raden Fatah di Bintoro, Sunan Drajat di Lamongan dan Sedayu, dan selainnya.

e.      Budaya: seperti pendirian masjid sebagai pusat peradaban Islam, seperti masjid Ampel, Masjid Demak.
f.        Politik: politik li i'lai kalimatillah yang bersentral pada musyawarah ulama.
            Adapula yang berpendapat lain yang mengatakan bahwa Islam di Nusantara disebarkan oleh para pedagang, tetapi sebagian ahli islam meragukan pendapat ini. Seperti yang diungkapakan oleh Sudirman (2007) karena kalau difusi islam itu dilakukan oleh pedagang, maka mungkin sekali para penyebar itu tidak sempat melakukan kegiatan difusi secara intensif, dan kalau tidak intensif, maka sulit sekali mengislamkan orang-orang di Nusantara secara besar-besaran. Tebba (2007) juga menambahkan Factor utama yang menunjang keberhasilan sufi dalam difusi islam adalah kemampuan mereka menyajikan islam dalam kemasan yang atraktif, yaitu menjelaskan kesesuaian islam dengan kepercayaan dan praktek keagamaan lokal.   
   
            Kesesuaian itulah yang diduga merupakan factor utama difusi Islam diterima secara damai dengan kuantitas besar pengikut yang didominasi kaum tradisional Nusantara. Dari sinilah muncul istilah Islam Tradisional sebagai antonim Islam Modern yang dikembangkan oleh Muhammadiyah, Persis dll. Istilah Islam Tradisional lahir dari hasil identifikasi ilmuwan terhadap orientasi gerakan di Indonesia sejak abad 20. Sebuah tesis mengatakan Madura adalah tradisional, tradisional adalah NU, NU adalah pesantren, dan pesantren adalah Kiai, atau sebaliknya (Hasan: 2008).

            Lahir pula istilah Islam Kultural merujuk pada metode dakwah yang dibungkus budaya (Hakim: 2004). ada pula istilah Islam wali songo sebab merekalah yang menyebarkan Islam di Nusantara. Masih banyak lagi inovasi term yang dapat mewakili golongan ini diantaranya islam ala NU, Islam  Nahdatul Tujar, Nahdatul Wathon, Islam Moderat dan Islam Nusantara yang sejatinya mengkrucut pada Islam kentongan, jidor, nyekar (KH Soleh Bahrudin: 2016). Juga Islam Kosmopolitan hingga pribumisasi islam versi Gusdur. Abdulloh menjelaskan bahwa pribumisasi islam dalam hal ini diartikan sebagai penyesuaian islam dengan tradisi local dimana ia disebarkan didifusikan. Menurut Abdurahman wahid (2001) antara agama (islam) dan budaya mempunyai independensi masing-masing, tetapi keduanya memiliki wilayah tumpang tindih. Namun istilah-istilah diatas nampaknya belum dapat diterima oleh masyarakat secara universal sehingga pegiat tersebut memunculkan inovasi Islam Nusantara agar mendapat hati masyarakat (Habib Rizieq: 2015).

            Kedua, gaya implementasi dakwahnya (a) merangkul tidak memukul, (b) memberi tidak membenci, (c) membina tidak menghina, (d) mengajak tidak mengejek, (e) mencari kawan tidak mencari lawan. Berbagai macam gaya implementasi dakwah diatas jika dilihat secara bahasa bukanlah antonim tetapi memilki makna berlawanan antara mujabah affirmative dengan salibah negative. Kontruksi makna yang disusun Kiai Soleh mungkin berdasarkan pengalaman pribadinya. Dimana disaat Beliau melakukan dakwah persuasive dengan gaya merangkul mala Beliaunya dipukul kata majas. saat Beliau memberi justru dibenci oleh orang-orang yang tak seidiologi. dikala Beliau membina wal hasil beliau dihina sebagaimana Kiai Soleh Mencotohkan ada seorang Kiai yang melanggar kode etik kemudain Beliau mengingatkan akhirnya Beliau mala dihina dengan kata-kata yang tak pantas: aku iki luwe tuwek timbang awakmu. Begitu pula saat Beliau mengajak untuk menjaga kerukunan, kedamain antar umat beragama oleh sebagian kelompok Beliau mala diejek-ejek diklaim sebagai Komplotan Yahudi, Israel. Yang terakir metode mencari kawan hal ini berdasarkan wasiat Ayanda KH Bahrudin Kalam: “Sholeh.. pesenku mek siji ono kono, gok embong, gok masjid, gok langgar, gok pasar dulurmu kabeh” (Soleh... pesan saya cuma satu disana, di jalan, di masjid, di mushollah, di pasar itu semua saudaramu). Akhirnya dengan siapapun Beliau tidak membedah-bedahkan baik itu qori, korak, wanita tuna susila, berandal, maling, orang lain agama, ustadz, kiai, TNI, Polisi, Pejabat dan lain sebagainya.

*santri seng tasek beling 
Advertisement

Advertisement