Selasa, 27 September 2016

Kesaktian Kiai Idris Kamali Tak Pernah Kehabisan Uang

Kesaktian Kiai Idris Kamali Tak Pernah Kehabisan Uang
MusliModerat.Com - Orang saleh bisa memiliki karomah (keampuhan-kesaktian) yang susah dinalar. Inilah salah satu kehebatan Kiai Idris Kamali Tebung Ireng.

Di kalangan Islam dikenal istilah karomah. Istilah yang merujuk pada kesalehan seseorang  baik saleh pribadi maupun saleh sosial. Buah dari kesalehan pada diri orang tersebut  adalah ia bisa membuat kejadian yang luar biasa di luar nalar dan kemampuan manusia awam. Dalam bahasa orang awam dipersingkat maknanya dengan sebutan sakti atau ampuh. Kesaktian itu tidak datang tiba-tiba. Orang tersebut sedemikian dekat dengan Allah hingga semua doanya terkabul. Sedemikian dekat ia dengan sang pencipta hingga tak ada hal mustahil yang tak bisa dikerjakan.

Salah satu kisah keampuhan orang saleh ada pada diri Kiai Idris Kamali. Kiai Idris adalah salah satu santri terpilih yang masuk dalam kelas musyawarah. Sebuah kelas khusus yang santrinya dipilih oleh Kiai Hasyim Asy'ari. Tidak semua santri bisa masuk ke kelas ini. 

Kelas ini hanya dihuni 20 santri. Hanya santri yang memiliki potensi kecerdasan, kepemimpinan dan keluhuran budi yang masuk ke dalam kelas ini. Kelak di kemudian hari para santri kelas ini menjadi pendiri pesantren baru di berbagai kota di Jawa. Selain Kiai Idris Kamali, beberapa nama lain yang mengisi kelas ini antara lain Kiai Chudlori (pendiri Asrama Pelajar Islam, Tegal Rejo Magelang),  Pondok Pesantren Ploso Kediri, , Pondok Pesantren Blokagung.

Sepeninggal Kiai Hasyim pada tahun 1947, Kiai Idris mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Pesantren Tebu Ireng. Kecerdasannya dalam penguasaan ilmu agama membuat beliau jagoan ilmu gramatika Bahasa Arab (syarah Ibnu Aqil, mantiq dll). Ia pun dinikahkan dengan putri Kiai Hasyim yaitu  Azzah. Tahun 1930-an istri Kiai Idris meninggal dunia. Kiai Idris hingga akhir hayatnya memilih tidak menikah lagi, meski memiliki tampang yang ganteng dan atletis. Sepeninggal istrinya ia memilih tinggal di kamar sebelah masjid ukuran 4x5 meter. 

Kiai Idris kalau mengajar di Tebu Ireng lebih memilih mengajar di masjid ketimbang di ruangan kelas yang disediakan yayasan. Kelas yang diasuh Kiai Idris adalah kelas santri pilihan. "Para santri dites dulu. Yang lulus tes seluruh biaya di pondok akan ditanggung beliau," kata Shalahuddin Wahid, Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Tidak heran muridnya tidak banyak.

Di antara murid Kiai Idris adalah Kiai Tolhah Hasan yang kelak di kemudian hari menjadi menteri agama RI. Kiai Idris ini sangat tersohor di Jombang sebagai orang yang welas asih dan suka menolong sesama. Tidak pernah ada orang yang datang ke rumahnya yang tak dibantu. "Kiai Idris suka membantu orang baik memberi atau meminjami uang," ujar Gus Sholah. Setiap ada yang datang dan minta bantuan uang, Kiai Idris selalu mengambil uang dari balik kasur. 

Suatu hari, Kiai Idris meminta Tolhah Hasan membersihkan kamarnya. Lantaran didorong rasa penasaran yang tinggi, Tolhah berusaha mencari tahu seberapa banyak uang yang disimpan Kiai Idris di balik kasur. Betapa kagetnya Kiai Tolhah, karena di balik kasur itu tidak ada serupiahpun uang. "Tidak ada uang. Dan Kiai Idris belum mengenal rekening bank. Kesimpulan Kiai Tolhah, kalau Kiai Idris butuh uang selalu ada," ujar Gus Sholah.

Kisah karomah lain Kiai Idris adalah soal hewan piaraannya: kambing. Kiai Idris memang memiliki banyak hewan piaraan. Ada sapi, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Susu kambing diminum para santri. Semua orang Jombang saat itu tahu hewan piaraan milik Kiai Idris. Kambing Kiai Idris bebas berkeliaran makan apa saja. 

Tak ada yang berani menghardik atau melarangnya. Bahkan jika kambing Kiai Idris memakan tanaman atau dagangan warga, tetap dibiarkan saja karena dipercaya bakal membawa berkah. Demikian pula kalau kambing Kiai Idris naik kereta apik jurusan PAre-Jombang tak ada masinis atau petugas kereta yang memiliki nyali menurunkan. "Menurunkan kambing takut malati (celaka)," ujar Gus Sholah. 

Saat Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah, Kiai Idris menghadiahi beberapa kambing untuk  pesta pernikahan. 

Satu waktu kambing Kiai Idris hilang. Pencuri kambing itu kesulitan menjual kambing hasil curian karena semua warga tahu kambing Kiai Idris hilang. Membeli kambing hasil curian bakal celaka.  Alhasil si pencuri gagal menjual kambing tersebut. Singkat cerita. si maling akhirnya datang ke Kiai IDris untuk mengaku mencuri kambing karena butuh uang. Akhirnya sama Kiai Idris kambing itu malah dihibahkan. 

Kebaikan Kiai Idris yang memberikan kambing itu didengar semua orang. Animo orangpun berbondong-bondong untuk memperebutkan kambing tersbut. Kambingpun terjual dengan harga mahal.[beritasatu]
Advertisement

Advertisement