Kang Said: Aneh, Jakarta Mayoritas Muslim Tapi Pemimpinnya Non Muslim

JAKARTA | muslimoderat.com – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 2017 akan dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia, dikhawatirkan pada pilkada serentak akan muncul berbagai masalah pilkada, seperti munculnya isu suku, ras dan agama (Sara), sengketa pilkada yang berakhir bentrok antar pendukung dan lain sebagainya.    

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj menghimbau kepada masyarakat Indonesia khususnya warga DKI Jakarta menjelang pemilihan daerah (pilkada) DKI Jakarta untuk tetap menjaga kerukunan, tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh hasutan orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tetap menjaga Pilkada aman, jangan sampai terjadi kekerasan, isu Sara, dan tetap menjaga kerukunan dan kedamaian,” ujar Kang Said kepada Duta di Jakarta, Senin (27/9).

Terkait pertarungan masalah idiologi antar calon kandidat pilkada, Kang Said tidak mempermasalahkan siapa yang maju pada pilkada di daerahnya masing-masing, selama KPU resmi memutuskan calon kandidat, tentu siapa orangnya mempunyai hak untuk maju dan bertarung pada pilkada. “Soal idiologi, mau calonnya kristen, katolik, Islam tidak masalah selama bisa menjaga ketentraman dan kenyamanan warganya,” ungkapnya

Namun Kang Said menyayangkan sekaligus prihatin jika suatu daerah lebih banyak orang muslimnya akan tetapi yang terpilih menjadi bupati/gubernur adalah orang non muslim. Begitu juga yang terjadi di Jakarta, katanya banyak orang muslimnya akan tetapi kok yang terpilih menjadi gubernur orang non muslim. “Lha inikan aneh, kemana orang muslimnya, hehehe,” canda Kang Said 

Kang Said mencontohkan, bagaimana kalau di kota Jeddah, Arab Saudi Gubernurnya orang non muslim. Lalu, siapa yang dipilih orang muslim, kemana orang muslimnya. “Makanya ada orang yang heran, lho katanya Jakarta umat muslimnya terbanyak tapi kok gubernurnya non muslim,” ungkapnya

Contoh lagi kata Kang Said, ada mobil bis mayoritas penumpangnya orang muslim, ada orang non muslim tapi pinter nyetir, trus ada lagi orang muslim yang bisa nyetir. Pilih mana coba?.

Sebenarnya, kata Kang Said, memilih pemimpin itu bukan karena agamanya, akan tetapi memilih pemimpin yang memiliki keilmuan, kemampuan dan kecerdasan. “Intinya, semua tergantung pada pemilih saja, mau agamanya, yang pinter, atau mau milih yang cerdas, itu hak pemilih, semoga yang terpilih dan menang tetap di ridoi Allah,” pungkas Kang Said. (hd/duta.co)


Kontak Kami !

Kritik, Saran, Informasi, Pemasangan Iklan atau Kirim artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email muslimoderat@gmail.com

Dapatkan Berita Terbaru MusliModerat via Email: