Sabtu, 24 September 2016

Dialog KH Maftuh Basyuni dan Soeharto tentang Tahlilan

MusliModerat.Com : Dialog Imajiner Maftuh Basyuni dan Soeharto

Setelah Jenderal Sampurno pensiun dari tugasnya sebagai kepala rumah tangga istana, Maftuh Basyuni lah yang menggantikan kedudukan itu.

Gaya militer, tentu saja diterapkan oleh sang jenderal. Lain dengan gaya seorang sipil. Tapi, bagi seorang Maftuh Basyuni, gaya atau model dalam memimpin tidak diperlukan. Yang ada di benaknya adalah profesional dalam bekerja. Tak jarang, banyak yang menyebutnya 'saklek'. Tak kenal kompromi. Jika benar disampaikan benar, jika salah dikatakan salah.

Menduduki jabatan sebagai kepala rumah tangga istana memang sesuatu yang 'angker'. Siapapun yang mendudukinya, pasti akan merasa tegang, takut, dan sebagainya. Tapi tidak bagi Maftuh Basyuni. Semua dijalaninya dengan sungguh-sungguh.

Setelah resmi diangkat, Maftuh Basyuni yang seorang anak kyai dari Rembang Jawa Tengah ini lantas mengumpulkan seluruh staf, dan pegawai yang ada di lingkungan istana.

"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, mulai hari ini, saya yang bertanggung jawab di istana ini. Saya adalah sipil pertama yang ditugasi sebagai kepala rumah tangga istana. Jangan anggap kalau sipil itu lemah. Saya bisa lebih tegas, bahkan lebih galak dari seorang jenderal. Saya harap, semuanya bisa bekerja dengan baik, jujur, dan bertanggung jawab. Mari kita berdoa, semoga pekerjaan kita ke depan senantiasa dimudahkan Allah!".

Presiden Soeharto memanggilnya Basyuni. Keluarga presiden pun merasakan perbedaan saat istana dipimpin oleh seorang jenderal dan seorang sipil. Semua staf dan pegawai di istana bisa bekerja dengan baik. Tak ada ketegangan, bahkan takut, sehingga pekerjaan pun bisa diselesaikan dengan rapi.

---------------

"Basyuni, kabar itu benar ya?"

"Iya Pak!"

"Ya sudah, sekarang kamu pulang. Tiket sudah saya siapkan semuanya. Beri penghormatan terakhir kepada ibumu. Untuk urusan di istana, biar asistenmu yang mengurus!"

"Terimakasih Pak!"

Saat itu, Maftuh Basyuni sedang mendampingi Presiden di Singapura. Tiket pesawat dari Singapura-Jakarta, Jakarta-Semarang sudah dipegangnya.

Setibanya di Jakarta, Maftuh Basyuni kaget. Ternyata, sudah ada seorang jenderal dan beberapa ajudannya yang sudah menunggu di bandara.

"Lo, anda di sini ngapain?"

"Saya diperintah Presiden menunggu dan menjemput Bapak!"

"Terimakasih. Sekarang pulang saja, istirahat. Saya bisa pulang sendiri..!"

"Baik Pak. Terimakasih..!"

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Semarang. Setibanya di bandara A. Yani, Maftuh Basyuni kembali dikagetkan oleh sekelompok tentara yang sudah menunggunya. Pangdam Diponegoro pun tampak hadir.

"Lo, anda di sini ngapain?"

"Saya diperintah Panglima menununggu dan menjemput Bapak!"

"Terimakasih. Sekarang pulang saja, istirahat. Saya bisa pulang sendiri..!"

"Baik Pak. Terimakasih..!"

Setibanya di Rembang, Maftuh Basyuni masih bisa memberikan penghormatan terakhir kepada Sang Ibu, Nyai Mardliyah Basyuni. Nyai Mardliyah lah yang membentuk karakter dan watak seorang Maftuh Basyuni menjadi orang yang tegas, disiplin, jujur, dan bertanggung jawab.

Mbahyi Mardliyah, dan Mbahkung Basyuni, Alfaatihah..

--------------------

Ibu Negara, Tien Soeharto wafat. Selepas isya, di rumah duka diadakan acara tahlilan selama tujuh hari. Tentu saja, yang menjadi rais tahlil adalah seorang 'habib'. Giliran di hari kelima, sang habib tidak tampak, karena berhalangan sakit. Sebagai kepala rumah tangga istana, Maftuh Basyuni lalu mengambil peran. Memimpin tahlil. Jamaah pun tetap khidmat melantunkan pujian dan mendoakan almarhumah Ibu Hj. Tien Soeharto.

Selesai acara, Pak Harto memanggilnya.

"Basyuni, kamu kok pintar sekali. Saya lihat, kamu tidak membaca. Kamu hafal ya?"

"Ah, tidak Pak. Saya membaca kok!"

"Kamu bohong. Tadi saya lihat kok. Meski kamu pegang buku, tapi mata kamu merem, itu pertanda kamu sudah biasa memimpin tahlil. Kamu belajar dimana? Siapa yang ngajari?"

Mendengar pertanyaan Pak Harto yang demikian, Maftuh Basyuni tak bisa lagi mengelak.

"Saya cuma belajar di pesantren Pak. Yang ngajari saya, ya guru-guru saya, termasuk Bapak dan Ibu saya!"

Mendengar jawaban itu, Pak Harto hanya mengangguk disertai senyum khasnya. Hal tersebut justru semakin membuat penasaran Sang Presiden.

"Basyuni, apa benar kita ini tidak boleh membaca tahlil untuk jenazah?"

"Ada pendapat yang mengatakan, membaca tahlil atau Alquran kepada orang yang telah meninggal tak ada gunanya. Mereka berpedoman kepada hadits Nabi yang menyatakan bahwa seseorang yang telah meninggal telah putus amalnya, kecuali tiga hal; amal jariah, ilmu manfaat, dan doa anak saleh".

Pak Harto, kembali mengangguk dan senyum.

"Selanjutnya, ada yang menganggap membaca doa dan ayat Alquran kepada orang yang meninggal sesuai sunnah Nabi. Karena Nabi dalam doanya juga menyebutkan; Ya Allah ampunilah kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah mati..!"

"Kalau memberi makan kepada yang mendoakan?"

"Itu juga ada dua pendapat lagi Pak. Pertama, ada yang berpendapat tidak membolehkan; orang yang kesripahan (berkabung) itu sudah susah dan sedih, kok masih dibebani lagi. Kedua, pendapat yang membolehkan, yaitu ada hadits yang mewajibkan umat Islam untuk menghormati tamu. Penghormatan kepada tamu biasanya dalam bentuk minum dan atau makan".

Mendengar panjang lebar penjelasan itu, justru membuat Pak Harto semakin penasaran dengan Maftuh Basyuni.

"Lalu, kamu pilih yang mana?"

"Kalau saya yang kedua Pak. Boleh tahlil, dan boleh memberi makan orang yang mendoakan!"

"Soal pahalanya bagaimana?"

"Soal pahala itu hak prerogatif Tuhan. Kita yang membaca tahlil, tentunya berharap ada pahala untuk orang yang sudah meninggal, kalau tidak ada pahala pun, ya tidak apa-apa. Adapun memberi makan, tentu sebatas kemampuan yang bersangkutan. Apalagi kalau yang kesripahan (berkabung) itu Presiden, tentu makanan dan minuman akan datang sendiri Pak..!".

--------------------

Oleh: Ustadz Wahyu Silvana

Advertisement

Advertisement