Rabu, 31 Agustus 2016

Kritik terhadap Aa Gym yang Menghardik Guru karena Rokok


Oleh Moh. Yusuf

MusliModerat.Com - Aa-Gym (sapaan akrab KH. Abdullah Gymnastiar) dalam salah satu status Facebook nya yang diunggah pada 25/08/2016 lalu mengatakan; “Bagi guru yang masih merokok sebaiknya memilih, berhenti merokok atau berhenti jadi guru”.

Ungkapan ini bisa mengandung beberapa pengertian negatif. Pertama, seorang guru perokok adalah guru yang jelek dan berakhlak rendah. Kedua, ukuran baik dan buruk adalah mereka yang merokok dan yang tidak merokok. Ketiga, jika profesi guru adalah pekerjaan mulia maka dengan merokok, ia menjadi hina. Keempat, rokok adalah sumber rusaknya moral. Kelima, dengan alasan di atas rokok adalah barang terlarang, haram, dan mungkar.

Cakupan istilah guru sangat luas, yakni siapa saja yang mengajar, baik berupa keilmuan ataupun suri tauladan, berakhlak yang mulia. Mencakup pula mereka yang mengajar di sekolah-sekolah, madrasah-madrasah formal ataupun non formal bahkan hingga tingkat perguruan tinggi.

Ada PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), ada TK (Taman Kanak-Kanak), ada RA (Raudlatul Athfal), ada  SD (Sekolah Dasar), ada MI (Madrasah Ibtidaiyah), ada SMP (Sekolah Menengah Pertama), ada MTs (Madrasah Tsanawiyah), Ada SMA (Sekolah Menengah Atas), ada MA (Madrasah Aliyah), dan sederajat hingga sampai jenjang peguruan tinggi.

Itu yang formal. Kemudian yang non formal, ada Pondok Pesantren, Pendidikan Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, Tahfidz Al-Qur’an, dan seterusnya. Alangkah naifnya jika dari semua tingkatan sekolah dan madrasah hingga perguruan tinggi itu guru-gurunya disuruh berhenti mengajar karena mereka perokok, padahal mereka adalah panutan.

Berbicara non formal, disana ada pesantren, ada kelompok Tarekat, yang isinya adalah para kiai, para habaib itu, semuanya adalah para panutan ummat, tempat jujukan masyarakat.

Alangkah begitu intolerannya jika hanya satu sebab saja, yaitu karena mereka perokok kemudian mereka divonis orang bejat, pelaku keji dan mungkar. Padahal mereka tidak minum-minuman keras, mencuri, memfitnah, menghasud, dengki, dan korupsi. Mereka adalah penebar ajaran Rasul SAW. dan pembimbing masyarakatnya kepada akhlak dan moral yang luhur.

Banyak cerita-cerita yang telah digali dari para orang tua yang hidup muda dan belajar pada tahun 50-70an yang mendapati bahwa guru-guru mereka adalah perokok, dan kenyataannya mereka mengaku tidak ada pengaruh buruk dari guru perokok. Sebagian mereka adalah estafet guru-guru mereka yang saat ini meneruskan pengabdiannya kepada bangsa, kepada generasi muda.

Atau barangkali Aa-Gym belum meneguk sejarah perjuangan bangsa ini bahwa pada sebatang rokok ada orasi panjang tentang perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Pada sebatang rokok itu ada asap kegelisahan, perlawanan, dan pemberontakan merebut kemerdekaan.

Betapa banyak rekam yang diabadikan oleh kameramen dari proklamator negeri ini (Soekarno) dengan sebatang rokoknya, saat ia sendiri, saat berunding, dan ketika melakukan lobi penting demi kemerdekaan negeri ini. Bahkan saat dimana bapak sang proklamator ini sedang bersantai, ia ada dengan rokoknya, tetap tak terpisah. Atau foto sang bapak pembangunan negeri ini (Soeharto) yang khas dengan cerutunya.

Bangsa kita saat ini miskin keteladanan, miskin pemimpin yang memberikan keteladanan akhlak yang baik. Seharusnya Aa-Gym sebagai tokoh yang dikenal sebagai agamawan lebih trengginas berkampanye kepada perbaikan moral pemimpin negeri ini, dengan mengintensifkan perilaku disiplin, jujur, budaya malu untuk para pejabat, anti narkoba, hukum mati para koruptor, dan para antek-antek asing yang mengeruk kekayaan alam negeri ini, bukan malah “mengurusi” yang remeh temeh seperti rokok ini.

Pada 1988, World Health Organization (WHO) lah pertama kali yang mengatakan bahwa tembakau dengan asapnya telah pembunuh enam juta orang setiap tahun. Namun WHO tutup mata dengan bahaya asap kendaraan, asap pabrik, debu, dan lain sebagainya yang sudah barang tentu lebih melimpah asapnya. Tapi asap-asap itu tidak pernah di singgung-singgung.

WHO juga menutup mata atas pertanyaan apakah angka yang meninggal itu murni penyebab tunggal dari tembakau atau dari produk tembakau. Sebagaimana WHO juga menutup rapat manfaat tembakau yang bisa menjadi anti bakteri, antiseptik, proteksi sel, pencegah penyakit kanker, penyakit kardiovaskuler, dan bahkan menjadi obat penyakit ebola yang tahun-tahun kemarin sempat meresahkan dunia.

Manfaat lainnya, ditengarai ada 10 juta orang baik langsung atau tidak langsung yang hidup dari tembakau, mulai dari petani, industri, pedagang, pengiklan, dan lain-lain.

Kemudian, berapa triliun yang sudah masuk ke kas negara dari rokok ini? Pada sisi yang lain, ternyata kampanye anti rokok dibiayai oleh pihak-pihak asing dari industri-industri farmasi atau yang berhubungan dengannya, salah satunya Bloomberg Initiative. Miliaran rupiah mereka kucurkan untuk kampanye anti rokok ke berbagai instansi dan lembaga-lembaga di negeri ini.

Tujuannya tentu supaya mereka dapat mengganti rokok dengan hasil produk mereka, seperti permen karet, koyok, atau membuka klinik-klinik dengan obat-obatan dari mereka supaya berhenti merokok, dan ini tidak gratis. Jadi kampanye yang dibungkus dengan alasan mulia berupa kesehatan itu ternyata ada tujuannya, yaitu ekonomi.

Rakyat sudah krisis figur tokoh panutan yang santun dan mendamaikan, barangkali tidak sepantasnya seorang guru kaliber Aa-Gym berstatemen seperti di atas sebelum menelaah secara cermat suatu masalah terlebih dahulu supaya tidak “semena-mena” mengeluarkan fatwa rokok. Jangan sampai rakyat ini kehilangan tumpuan lagi dengan berasumsi bahwa Aa-Gym juga dapat “jatah” dari kucuran dana asing itu. Allahu A’lam. [dutaislam/ ab]

Moh. Yusuf, staf Pengajar di STAI Ma'arif Kendal Ngawi, 
penyuluh agama Islam KUA Ngariboyo-Magetan, 
dan Koor Lembaga Rumah Tahfidz 
“Lentera Al-Qur’an Ma’arif” Mojopurno, Magetan.
Advertisement

Advertisement