Rabu, 02 Desember 2015

Habib Lutfli di Baiat Langsung Oleh Cucu Syekh Abdul Qadir al Jailany

784_habib-lutfi.jpg
SUASANA KHIDMAT: Syekh Dr. Muhammad Fadhil Jaelani al-Hasani menyematkan imamah kepada Habib Muhammad Luthfi bin Ali dan memberikan delapan kitab karya syekh Abdul Qadir al-Jalani.

MusliModerat.Com - Seperti menunggu tetesan hujan di musim kemarau, adagium yang menggambarkan peserta Internasional Conference of Islamic Scholars (ICIS) IV yang menunggu kedatangan Habib Muhammad Luthfi bin Ali. Hingga menjelang akhir, pada ICIS panel III pimpinan Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah tersebut juga belum hadir. Hal itulah yang menyebabkan kegelisahan peserta konferensi, Selasa (24/11).

Setelah semua pembicara pada sesi ketiga tersebut telah menyampaikan ilmunya, Habib Luthfi pun hadir. Dengan jubah, gamis dan imamah serba putih, Habib Luthfi langsung disambut ta’dzim oleh seluruh peserta konferensi. Tidak terkecuali oleh keturunan ke-23 Syekh Abdul Qodir al-Jaelani, Syekh Dr. Muhammad Fadhil Jaelani al-Hasani.

Dalam penyambutannya, Syekh Fadhil langsung menyematkan imamah hijau kepada Habib Luthfi dan memberikan delapan kitab karya Syekh Abdul Qodir al-Jaelani. Yaitu kitab Kitabu Dzikru al Maqomat, Kitab Nahru al-Qodiriyah, Kitabu al Futuwwaty, Kitab al-Maktuubat, Kitab al-Mukhtashar fi Ulum al-Diin, Kitab al-Bulbulu al-Dhaddiy, Kitab Umuru al-Mabadiy, dan Kitab Tafsir Jalalain.

Syekh Fadhil secara langsung membaiat Habib Luthfi sebagai ketua Jamiyyah Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah di Indonesia. Dalam pesannya, Syekh Fadhil juga mengamanatkan agar meluruskan pemahaman thariqah kaum muslim. Dan hal itu harus sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Syeikh Abdul Qodir al Jaelani dalam delapan kita tersebut.

Syekh Fadhil pun berharapa agar Habib Luthfi mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkan isi kandungan kitab tersebut kepada umat Islam Indonesia. Hal itu ditujukan agar para santri thariqah bisa tahu betul tentang hakikat thariqah sesuai dengan ajaran Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Setelah dibai’at, Habib Luthfi berkesempatan menyampaikani pidato singkat. Mursyid thariqah asal pekalongan tersebut menyatakan thariqah bukan suatu perkumpulan yang hanya berkutat sebatas masalah dzikir. Lebih dari itu, tahriqah adalah satu jam’iyyah yang selalu megadakan kajian-kajian ilmiah dan peduli atas keadaan dan koflik-konfilk di dunia.

“Melalaui thariqah kita bisa mengembangkan sektor perekonomian dan pertanian,” ungkap ulama yang juga menjabat sebagai Ketua MUI Jawa Tengah tersebut.
Umat Islam Indonesia saat ini, masih lanjut Habib Luthfi, tertipu persoalan khilafiyah yang tidak berujung. Perdebatan soal maulid, tahlil, talqin selalu dipermasalahkan tanpa henti. “Patutlah negara Islam tertinggal dari negara-negara Eropa,” tegasnya.

Islam Ya’lu Wala Yu’la Alaih, Islam itu unggul dan tidak ada agama lain yang mengunggulinya. “Maka kita perlu umat yang siap senantiasa menguak dan mengkaji isi kandungan al Quran al Sunah, agar bisa kembali kepada kodrat kita, yaitu umat yang unggul,” ajaknya.

Sebagai penutup Habib Luthfi mengungkapkan, pulanglah dari konferensi ini dengan membawa madu dan jangan membawa garam. Amalkan dan sebarkan bahwa Islam rahmatan lil alamin. Dengan berpegang teguh kepada dua tali Hubbullah dan Hubburasul, dilandasi atas cinta kepada Allah da Rasul-Nya. (sy)
(Ajay/uin-malang.ac.id)
Advertisement

Advertisement